Monday, August 10, 2015

Ça va, Jenderal?

Pagi itu, aku tengah membaca buku di sebuah kafe kecil di sudut kota Paris. Seorang pelayan datang membawa kopi pesananku.

"Merci beaucoup," kataku dengan aksen Perancis yang dibuat-buat. Si pelayan tersenyum lebar dan berlalu.

Buku yang sedang kubaca ini, adalah salah satu buku favoritku. Ceritanya tentang seorang pemuda yang mencoba menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya sambil berkonsultasi dengan seorang bapak tua. It turns out si bapak tua ini adalah--

"Excusez-moi." Sebuah suara datang dari belakangku. Suaranya berat sekali dan terdengar seperti orang Perancis asli. Daripada kelamaan menebak-nebak, akhirnya aku menoleh dan mendapati seorang bapak tua galak dengan senyumnya yang menyebalkan.

"Jenderal!" teriakku, membuat semua pengunjung kafe melirik ke arahku.

"Bonjour, Anak Muda!"

Aku langsung memeluknya erat sekali. Kuciumi pipinya bolak-balik sampai akhirnya ia mendorong tubuhku.

"Heh, saya nggak ngajarin kamu kayak gini, ya. Mana kejantanan kamu sebagai laki-laki? Hah?!"

"Ampun, Jenderal, ampun! Je suis désolé."

"Ya sudah. Pesenin saya kopi jahe."

"Jenderal nggak salah mesen kopi jahe di Paris?"

"Banyak cincong kamu! Ya apa ajalah yang ada!"

"Siap, Jenderal, laksanakan!"

Aku segera memanggil pelayan tadi dan memesan secangkir espresso untuk Jenderal. Jenderal adalah tipe bapak-bapak kolot yang kerjaannya minum kopi hitam tiga kali sehari. Aku sudah sering memintanya untuk mengurangi mengonsumsi kopi. Tapi memang dasar orang tua kerasa kepala, makin dilarang malah makin menjadi. Yang ada aku kena dampratnya dan disuruh lari keliling lapangan.

"Jadi Anak Muda, bagaimana kabarmu?" tanya Jenderal yang duduk di depanku. Jenderal tidak banyak berubah; rambutnya mulai penuh uban, kumis dan jenggotnya dibiarkan berantakan, dan oh, perutnya semakin buncit. Mungkin karena faktor usia.

"Ah, kabar saya baik, Jenderal."

"Hm... kamu yakin?"

"I... ya, yakin."

"Kok saya nggak yakin?"

"Ya mana saya tau, Jenderal."

Pesanan Jenderal datang. Ia langsung menyeruputnya dan mengeluarkan suara 'ah...' setelah satu teguk. Ia kembali duduk bersandar sembari menyilangkan kakinya.

"Anak Muda, kita punya banyak waktu untuk membahas semua kejadian yang kamu alami selama saya tidak ada," ucapnya sambil tersenyum.

Aku ikutan tersenyum. Jenderal ini, lagaknya seperti orang tua yang banyak pengalaman. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau waktu itu aku tidak bertemu Jenderal. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, secangkir kopi saja tidak akan cukup untuk mengantarkan cerita-cerita kami di kota romantis ini.

No comments

Post a Comment

© based on a true story.
Maira Gall