Monday, November 30, 2015

11 p.m Thoughts

Percaya nggak percaya gue baru saja menulis sebuah post yang berisi tentang bagaimana gue sebagai seorang yang tidak suka berbicara di depan banyak orang. Dan percaya nggak percaya post itu hampir selesai dan baru saja di-save di draft blog. Dan percaya nggak percaya lagi post itu sudah gue beri judul. Judulnya kurang impressive tapi ya lumayanlah untuk ukuran sebuah judul.

Lantas apa?

Well, harusnya sih post itu sudah bisa di-publish malam ini, beberapa menit yang lalu. Tapi apa yang terjadi? Gue memutuskan untuk menyimpannya entah sampai kapan; mungkin sampai gue memutuskan bahwa draft itu sudah basi dan tidak layak untuk di-publish. Belakangan ini setiap mulai nulis di blog, selalu muncul pertimbangan apakah tulisan gue ini layak untuk dikeluarkan atau tidak. Gue bisa menanggapi pernyataan gue sendiri. Bahwa sebenarnya bukan layak atau tidaknya, tapi apakah orang-orang yang membaca post gue bisa menerimanya secara objektif atau nggak. Itu yang sekarang jadi pertimbangan utama sebelum gue mosting.

Kalian yang mengikuti blog gue dari zaman alay masih menjadi alay sampai sekarang alay makin alay mungkin tau betapa senangnya gue curhat nggak jelas di sini. Gue suka ngomongin orang-orang yang nggak gue suka (dan yang gue suka tentunya), gue suka menuangkan kekesalan gue pada seseorang secara terang-terangan di sini (tanpa menyebut nama si pelaku ya). Tapi seiring bertambah tingginya jenjang pendidikan, meluasnya pergaulan, dan banyaknya teman baru dengan karakter berbeda, gue jadi semakin memikirkan efek samping dari post gue nantinya.

Begini, mz Andi Gunawan pernah mengutip sebuah kutipan dari... di sini tertulis namanya Maeve Binchy:

The great thing about getting older is that you become more mellow. Things aren't as black and white, and you become much more tolerant. You can see good in things much more easily rather than getting enraged as you used to do when you were young.

Mungkin inti quotes-nya agak nggak nyambung but what I'm trying to say is semakin bertambahnya usia, semakin banyak pemikiran-pemikiran yang terpaksa harus dipikirkan. Contoh sederhananya, ketika sekolah dulu, uang jajan bukanlah masalah utama bagi sebagian anak. Kalau mau makan ada duit. Minimal buat ngemil pun ada. Nah, di kuliah problematikanya makin riweuh. Mau beli makanan harus mikir dulu, "Duitnya cukup nggak buat besok makan lagi?" Padahal kalau dilihat sekolah (SMA) ke kuliah kayaknya deket gitu jaraknya. Tapi ya itu, tiba-tiba kita harus mikir tentang makan yang dulunya cuma hal sepele.

Itu contoh kecilnya. Contoh besarnya ya coba analisis sendiri. Tapi di sini masalah gue sama, semakin hari gue harus memikirkan bagaimana mengemas postingan-postingan ini menjadi sesuatu yang universal, bisa dinikmati semua orang (nggak semua orang sih karena gue paham selera orang beda-beda. Ya minimal orang yang otaknya rada gesrek jugalah), dan yang terpenting nggak menimbulkan prasangka buruk. Kalau dulu gue bisa asal ceplos cerita tentang si anu yang jengkelin, atau si inu yang kelakuannya kayak kucing garong. Sekarangpun gue bisa tapi, tapi nih ya, kurang pantas ajalah. Unless I'm making a short story ya boleh-boleh aja. Because it's a fiction. But in a real life?

Seminggu yang lalu, gue dan teman-teman di kampus sedang berada di dalam suasana yang kurang kondusif. Bukan karena kita mens barengan, tapi antara satu sama lain ada aja yang bikin ganjel. Puncaknya ketika Tya ngomong sesuatu di Line dan gue menanggapinya dengan nggak serius which is cuma bercanda. Tapi kelemahan tulisan adalah kita nggak bisa tahu whether they're serious or not. Dan itulah yang terjadi di grup Line. Maksud gue bercanda dianggap Tya serius. Pada saat itu gue paham suasana lagi nggak enak dan jujur gue pun jadi nggak enak juga (ikutan kesel maksudnya). Setelah itu Tya ngomong panjang-lebar, ba bi bu tentang ini-itu, membicarakan tentang bagaimana seharusnya pertemanan itu berjalan dan bagaimana orang-orang di dalamnya bekerja sama supaya hubungan itu nggak hancur. Yang diomongin Tya kurang lebih sama dengan apa yang gue maksud di sini. Getting older is easy but become maturer is a different case. Buat gue, adalah sebuah penyesalan terbesar ketika kita sadar umur kita bertambah tapi akhlaq dan pikiran kita ketinggalan jauh entah di mana.

"Umur udah mau kepala dua tapi kelakuan masih kayak anak SMA?" begitu kata Tya.

Kembali lagi ke awal, getting older berarti semakin banyak yang dipikirkan dan semakin banyak pula yang dipertanggungjawabkan. Being an adult is never easy. Ya, gue akuin waktu kecil gue pengen cepet-cepet SMA, terus kuliah di IKJ (uhuk). Selepas SMP gue maki-maki diri sendiri "Kenapa lo dulu ngebet banget pengen cepet-cepet SMA, nyet?!" Tapi yah, disitu mungkin seninya bekerja. Proses yang lo jalani untuk menjadi sekarang ini, nggak melulu sedih kan? Ada manis-manisnya gitu kan? Ada seger-segernya gitu kan? Ada yang bikin lo ngeh kan?

Sama dengan perihal menulis, semakin banyak yang harus gue pertanggungjawabkan di sini. Walaupun pada dasarnya gue nulis di sini cuma buat sharing pengalaman aja, tapi kan nggak menutup kemungkinan salah satu dari sekian sedikit pembaca gue melakukan hal ekstrem seperti nyemplung sumur, goler-goler di parkiran kampus, atau makan beling setelah baca postigan gue (agak lebay dan cenderung impossible sih tapi ya nggak apa, yang penting kalian tertawa dengan pronouciation 'wkwkwk'). Gue pengen tulisan gue ini nggak cuma menghibur, tapi ada moral value-nya. Minimal ada kesimpulan lah karena selama ini kalau diperhatiin gue kalau nulis suka gantung seperti hubunganmu dengannya. Ya intinya begitu.

Sebagai penutup gue cuma mau berterima kasih kepada pembaca-pembaca setia gue (kalau ada, kalau nggak ada ya nggak apa aku ikhlas) karena sudah sudi meluangkan waktunya yang berharga untuk membaca ocehan gue yang makin hari makin bikin mata perih. Bukan karena sedih, tapi brightness monitornya kegedean. Tanpa kalian, blog gue ini nggak berarti apa-apa, cuma remah-remah keripik Pringles yang tak bisa diraih karena bungkusnya kekecilan. Tanpa kalian, mungkin gue masih nulis 4LaY nG9aK j3La$ saMbIL CurH4t t3nT4n6 h4L nG9aK p3nTiN6.

m3T m4LeM eA4a4AhHhHh. MmMMmmUU4aCh!

No comments

Post a Comment

© based on a true story.
Maira Gall