Wednesday, March 8, 2017

Memikirkan Cita Citata

Percaya nggak percaya, waktu SD gue pernah bercita-cita jadi seorang ilmuwan. Ya, ilmuwan, seseorang yang berilmu tinggi yang biasanya suka nemuin hal-hal baru yang nyeleneh tapi penting juga untuk hajat hidup manusia. Nggak tau gimana gue bisa kepikiran untuk jadi ilmuwan tapi, cita-cita gue selanjutnya sedikit punya asal-usul yaitu: detektif. Siapa sih yang nggak baca komik Detektif Conan, hah? Siapa? Kebetulan kakak gue penggemar berat komik itu dan alhasil gue jadi ikutan baca walaupun gue nggak ngerti ceritanya (setelah dewasa gue sadar ternyata Conan adalah manusia yang tidak masuk akal dengan proporsi tubuhnya yang seemprit itu, dan dengan cara dia ngumpet dibalik badan Kogoro tiap mau mecahin kasus yang kalau dilihat lebih dalam lagi MASA IYA NGGAK KELIATAN SIH ADA ANAK SEGEDE ITU DI BELAKANG SI KOGORO???). Tentunya gue nggak melanjutkan keinginan untuk jadi detektif karena semakin dewasa gue semakin tau kalau di Indonesia pekerjaan detektif kurang eksis. Tapi gue berkesimpulan bahwa cita-cita bisa muncul dari apa yang kita lihat. Kalau seandainya dulu gue lebih memilih untuk nonton Mendadak Dangdut-nya Titi Kamal, mungkin cita-cita gue pada saat itu adalah penyanyi dangdut.

Mulai memasuki SD kelas--entah kelas berapa pokoknya gue udah ketemu Andi dkk, gue mulai diperkenalkan sama dunia novel. Waktu itu kalau nggak salah Andi lagi senang-senangnya baca Kambingjantan yang dia yakini lucu abis. Gue sempat baca tapi nggak sampai habis, tapi mulai saat itu gue jadi suka beli-beli novel komedi semacam Jomblo (ya, waktu itu gue belum tau kalau itu novel dewasa) dan Jomblo Narsis. Entah kenapa waktu SD topik jomblo sangatlah lucu dan menyenangkan, bahkan sempat ada istilah Jomblo Keren, Jomblo Imut, sampai Jomblo-Jomblo Bahagia. Terbukti bahwa menjadi jomblo bukanlah sesuatu yang menyedihkan.

Dulu tema komedi ala-ala Raditya Dika itu jadi andalan banget. Booming se-booming-boomingnya. Tiap ke Gramedia gue selalu nyari novel yang judulnya aneh-aneh kayak Jakarta Underkompor, The Maling Kolor, ada juga Mother Keder (yang menginspirasi gue untuk mengganti nama kontak Nyokap menjadi 'Mother Keder'). Pokoknya seputaran komedi yang dekat sama keseharian. Dari situ, tercetuslah ide untuk ikut mencoba menulis seperti mereka-mereka itu. Gue lupa gimana awalnya, yang gue inget, gue dan Andi punya buku tulis Sidu yang isinya cerita yang akan kita jadikan novel. Ditulis tangan pula. Gue waktu itu nulis tentang tema cinta, mencuri-curi ide sedikit dari novel teenlit yang pernah gue baca. Sedangkan Andi--gue inget banget--nulis novel dengan judul 'Cinta Semen', kepanjangan dari 'Cinta Sementara'. Ya, memang dari kecil selera humor Andi sudah sangat receh sereceh uang receh.

Memasuki akhir masa SD, gue mulai diperkenalkan dengan blog sama Melina. Bermodalkan bikin e-mail dengan nama apapun yang bisa dijadiin alamat e-mail, gue juga ikutan bikin blog. Oh, tentu saja, blog pertama gue isinya aib semua. A i b. Gue barusan nge-search blog lama gue dan sialnya masih ada beserta isi-isinya yang kacau abis. Kalau kalian merasa tangguh dan punya kekuatan lebih untuk iseng nyari link blog lama gue, silakan. Gue nggak melarang. Asalkan kalian masih mau berteman sama gue setelah baca tulisan lama gue. Ya intinya itu. Gue jadi rajin nulis di blog, cerita apapun yang nggak penting sampai yang nggak penting banget, gue tulis di blog.

Pas SMP, gue baru mulai serius ngurus blog. Gue tinggalkan blog lama sialan itu dan mulai menulis ulang di blog baru (blog yang sekarang ini) dengan konten yang lebih berkualitas. Walaupun masih seputar hal-hal keseharian yang tetep nggak penting (apa sih yang penting dihidup kamu, Del?), tapi setidaknya gaya penulisan gue nggak se-alay sebelumnya. Dari SMP, lanjut ke SMA, makin baguslah perkembangan tulisan gue. Bukannya shombonk atau gimane nih, tapi ya kalau dilihat, dari tahun ke tahun, ya selalu ada perubahan dari tulisan-tulisan gue. Tapi ada satu kekurangan dibalik semakin "normal"nya tulisan gue: gue justru jadi jarang nulis. Yang biasanya sehari tiga kali kayak minum obat, lama-kelamaan jadi cuma sebulan sekali.

Oh iya, pas SMP gue juga sempat tertarik sama stop-motion. Tau lah, yang dulu suka dibikin sama Aulion. Gue masih punya beberapa video pendek yang gue buat dengan susah payah sampe nungging-nungging karena harus foto satu per satu gerakan yang pengen ditampilin. Untuk bikin satu video berdurasi satu menit, ngerjainnya bisa sampai satu jam. Ada dua video yang menurut gue nggak jelek-jelek amat yang pernah gue bikin, 'Aku Lulus!' yang dibikin bareng Dinar teman SMP gue, di depan penjara anak, dan yang satu lagi 'The Magic Remote' yang dibikin bareng teman sekelas kelas 10 (Indah, Mutiah, dan Ria). Dari stop-motion itu, minat gue jadi menjalar ke dunia film. Gue jadi seneng liatin video klip-video klip, film-film pendek yang ada di Vimeo (YA, TOLONG YA, KEMBALIKAN VIMEO!!!), dan masih banyak lagi yang berbau perfilman. Di SMA pun gue sempat ikut ekskul Film walaupun nggak gue lanjutin karena... ya... gitu deh... hehehe.

Dua hal yang gue ceritain di atas sampai sekarang masih jadi minat gue. Kembali lagi ke masalah cita-cita, mungkin kalau sekarang gue ditanya mau jadi apa, gue akan jawab sutradara. Ya, memang gue pernah pengen jadi sutradara. Or at least, jadi orang yang pernah bikin film. But still, gue udah nggak lagi mengatagorikan itu sebagai cita-cita. Gue sendiri malah jadi bertanya-tanya, emang apa sih cita-cita itu? Kalau cita-cita adalah suatu hal yang kita inginkan dari kecil, berarti cita-cita gue adalah ilmuwan. Kalau cita-cita adalah suatu hal yang kita pengen itu jadi pekerjaan kita, maka gue akan bilang cita-cita gue jadi koki walaupun gue nggak bisa masak.

Tapi begini, Di umur gue yang sekarang ini, cita-cita mungkin udah bukan hal penting lagi. Apalagi tuntutan zaman yang memaksa lo untuk lupain apa yang lo pengen dan segeralah cari duit sebisa dan sebanyak mungkin untuk bekal berumah tangga nanti. Cita-cita mungkin pada akhirnya cuma jadi cerita lama yang kita ceritain ke anak-anak kita nanti, yang secara nggak langsung mendorong dia untuk ikut bercita-cita juga seperti kita. Beruntung, bagi mereka yang tetap konsisten mengarahkan hidupnya menjadi apa yang mereka cita-citakan sejak kecil. Tapi nggak sedikit juga kan yang nasibnya kayak gue, yang pengen jadi anu karena ngeliat anu, pengen jadi itu karena nonton itu. At the end, yang gue sebut cita-cita ternyata sama sekali bukan apa yang gue pengenin.

Mungkin pada dasarnya konsep cita-cita dibuat supaya si anak at least punya tujuan hidup yang jelas, terlepas dari nanti hidupnya bakal kayak gimana. Dan ketika dewasa, kita sadar bahwa hidup punya banyak pilihan yang kita nggak tau akan menggiring kita ke mana. The option that we think will take us to our cita-cita, ternyata malah menjauhkan. Tapi lucunya, kita justru malah menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik dibandingkan apa yang selama ini kita kira menarik. Ternyata, menjadi penulis yang literally kerjaannya bengong nyari ide, adalah pekerjaan yang menyenangkan dibandingkan bekerja di laboratorium untuk membuat vaksin anti malas. Membuat film terlihat jauh lebih menantang daripada harus menyelidiki kasus perselingkuhan artis ibukota.

Gue pernah denger seorang motivator bilang gini:

"Kalian yang sekarang adalah apa yang kalian pikirkan sepuluh tahun yang lalu."

Setelah gue pikir-pikir, si motivator ada benernya juga. Sepuluh tahun yang lalu, waktu gue umur 11 tahun, gue sempat membayangkan kuliah di jurusan seni. Bayangan gue waktu itu adalah IKJ, dan cowok-cowok berambut gondrong yang kerjaannya nongkrong sambil nyanyi-nyanyi nggak jelas. Daaan sepuluh tahun kemudian, gue sedang kuliah di jurusan yang mungkin bisa dibilang seni tapi bukan di IKJ, dan di sekeliling gue cuma beberapa cowok yang rambutnya gondrong. Ada sih di jurusan lain tapi ya kurang lebih begitulah. Yang terjadi sekarang mungkin nggak percis sama dengan pikiran gue, tapi seenggaknya hampir mendekati: kuliah di jurusan seni. Seni berbahasa. Sastra.

Sekarang kalau ditanya, "Mau ngapain, Del, sepuluh tahun ke depan?" gue belum tau. Tapi kalau kalian tanya, "Mau ngapain, Del, abis nulis postingan ini?" gue akan dengan lantang menjawab,

"Cari research question."

No comments

Post a Comment

© based on a true story.
Maira Gall