Monday, April 16, 2018

Review: Because This is My First and the Wisest K-Drama

berjudul: Because This Is My First Life.

Drama ini adalah rekomendasi dari Dila dan Andi. Nontonnya juga udah lumayan lama, sih, sekitaran bulan November kalau nggak salah. Sebelumnya gue memang pengin nulis ulasan drakor gitu, tapi bingung mau nulis yang mana. Dan, takutnya nanti jadi ulasan panjang-lebar-nan-subjektif kayak drakor Goblin waktu itu. Akhirnya, daripada gue nulis curhatan seorang young adult yang sedang mengalami krisis motivasi untuk menyelesaikan kuliahnya, mending gue nulis ulasan lagi aja.

Sedikit keluar dari topik kita hari ini, alasan gue mau nulis ulasan juga karena waktu itu gue lagi iseng liat daftar drama-drama yang lagi tayang gitu di kissasiancom. Pas klik beberapa, ada satu komentator yang selalu ada di setiap drakor bagus. Dan dia selalu ngasih semacam sinopsis gitu. Gue rasa dia ngebantu banget karena kita kan nggak tau ya gimana dramanya sebelum nonton, kalau ternyata nggak seru sayang aja gitu buang-buang tenaga. Maka daripada itulah, gue jadi pengin ikutan nulis ulasan kayak dia yang agak lebih panjang di sini.

Jadi, drama persembahan tvN ini (gue selalu suka drama-dramanya tvN, selain karena ceritanya, sinematografinya juga bagus) bercerita tentang kehidupan rangorang koreya di usia 20an akhir. Ya, udah masuk 30 awal, sih, sebenernya. Dan di usia ini mereka mulai dihadapkan sama satu masalah kehidupan yaitu: menikah.

Image result for because this is my first life poster
Mz Se Hee dan mb Ji Ho dan Woori (sumber: soompicom)

Ceritanya dibagi tiga, dan diwakilin oleh tiga pasangan. Semuanya masih seputar pernikahan dengan segala tetek-bengeknya masing-masing. Nah, pasangan utamanya di sini adalah mz Se Hee dan mb Ji Ho, dua orang yang nggak saling kenal tapi akhirnya kenal juga karena ya kalau mereka nggak saling kenal ceritanya nggak jalan dong. Mereka ini ketemu karena Ji Ho butuh sewa kamar murah dan Se Hee butuh duit buat bantu ngelunasin rumahnya. Akhirnya, berkat bantuan teman-temannya, mereka pun tinggal bersama (ya tentunya dengan beberapa insiden tambahan).

Awalnya, gue rada skeptis sama awal cerita yang kayak begini. Klise gitu, sih. Tapi berhubung si mz Se Hee ini lucu sekali mukanya (apalagi kalau dia lagi clueless dan kagum gitu), jadi ya kulanjutkan saja nontonnya. Nah, ketika mereka tinggal bareng, dua-duanya ternyata adalah tipe orang yang sama. Se Hee orangnya rapi, bersih, gemar mendaur ulang sampah (entah kenapa gue ngerasa ini di-highlight banget di dramanya, kayak semacam kampanye terselubung untuk selalu memisahkan sampah-sampah yang ada di rumah), dan suka kucing (!!!). Sedangkan Ji Ho punya kebiasaan bebenah dan beberes kalau lagi di rumah (lebih lucu lagi, kalau dia lagi stres nulis, escape-nya justru bebenah, bukan main atau makan atau apalah (seandainya gue juga begitu kalau lagi nulis)). Maka keduanya pada akhirnya dianggap saling menguntungkan.

Karena keuntungan inilah, mereka melihat adanya peluang untuk... menikah.

Ini yang menurut gue bikin ceritanya jadi menarik. Dua orang ini sama sekali nggak pernah punya pikiran untuk menikah, bahkan Ji Ho sama sekali belum pernah pacaran, tapi karena situasi mereka saat itu win-win-solution, ya, kenapa nggak? Konsep gue-menikah-karena-gue-butuh ini dijunjung tinggi oleh mz Se Hee. Setelah ngeliat Ji Ho dan kebiasaan bersih-bersihnya, Se Hee ngerasa bahwa kalau suatu hari dia harus menikah, maka Ji Ho lah pasangan yang tepatdan dibutuhkan. Se Hee yang seorang pekerja butuh orang untuk ngurus rumah (dan kucingnya), sedangkan Ji Ho yang nggak punya rumah butuh rumah dengan harga sewa murah. Walaupun awalnya hal ini sempat ditentang sama Ji Ho yang bilang bahwa orang menikah itu ya karena cinta dan kasih sayang, tapi lama-lama Ji Ho merasa kalau Se Hee ada benernya juga. Dan akhirnya Ji Ho pun nggak keberatan kalau harus menikah sama Se Hee demi bisa tidur dengan aman dan nyaman.

Berhubung drama koreya itu grafik tensi ceritanya adalah naik-turun-naik-turun dengan tajam, maka, setelah satu masalah selesai, muncullah masalah lainnya: mereka pikir menikah itu gampang, ternyata nggak. Walaupun mereka nggak ke KUA (registered tuh ya sama aja kayak ke KUA kan yah?), tetep ada konflik internal antara anak dan orang tua. Tapi bukan masalah restu, sih, karena pada dasarnya umur mereka yang udah 30an memang harus segera menikah. Lebih ke perasaan masing-masing orang tua ngeliat anaknya menikah.

Gue paling suka bagian ibunya Ji Ho ngasih surat ke Se Hee sebelum acara resepsi pernikahan dimulai. Isi suratnya cuma sedikit nyeritain Ji Ho sebagai anak perempuan satu-satunya, dan permintaan ibunya Ji Ho ke Se Hee untukquoted"...if she ever wants to write again in the future, please don't let her give up on her dream." Selain itu, yang bikin sedih adalah, walaupun pernikahannya bohongan, walaupun mereka haiqul yaqin pernikahan ini bisa dilewati dengan mudah, ternyata realitanya nggak begitu. Ji Ho yang bilang nggak bakal nangis, akhirnya nangis juga. Karena ya gimana ya, namanya nikah pasti kan ada sedih-sedihnya (maksudnya sedih karena udah lepas dari orang tua (eh tapi ogut belum ngerasain rasanya nikah jadi pernyataan ini tidaklah valid))meskipun dalam kasus ini nikahnya bohongan.

Sisa ceritanya jauh lebih seru lagi. Ide tentang pernikahan yang dijalani sama Se Hee dan Ji Ho mulai kabur seiring perasaan cinta dan kasih sayang yang mulai muncul (ya gimana nggak baper kalau tiap hari ketemu terus di rumah plus, dua-duanya adalah tipe orang yang sama). Mereka pun jadi mempertanyakan lagi segala sesuatunya: apa iya menikah bisa murni cuma untuk memenuhi kebutuhan masing-masing (rumah dan ngurus rumah)? Apa iya menikah itu cuma buat nyari keuntungan aja? Apa iya menikah itu nggak perlu pakai embel-embel cinta?

Image result for because this is my first life


Nah, selain cerita mz Se Hee dan mb Ji Ho, ada juga cerita dua pasangan lainnya: Won Seok - Ho Rang dan Sang Goo - Soo Ji. Dua pasangan ini juga masalahnya nggak jauh-jauh dari pernikahan. Won Seok dan Ho Rang udah pacaran selama tujuh tahun (busyet) tapi belum nikah-nikah juga. Si mb Ho Rang sebenernya udah ngebet dan siap banget untuk menikah dan jadi ibu rumah tangga (karena itu impiannya). Sayangnya si mz Won Seok ini ngerasa bahwa dia belum financially stable untuk bisa menjamin Ho Rang di kehidupan rumah tangga nanti. Rumahnya aja di rooftop, kerjaannya belum terlalu mapan. Akhirnya terjadilah konflik antara dua orang ini dan mereka pun berusaha untuk menyelesaikannya.

Pasangan yang lainpasangan yang paling gue sukaadalah Sang Goo dan Soo Ji. Sang Goo suka sama Soo Ji, dan mau serius sama dia. Tapi Soo Ji yang seorang wanita karir nggak mau terlalu serius dalam suatu hubungan. Sebenernya kalau gue liat, pasangan ini konflik percintaannya nggak terlalu rumit. Justru yang gue suka adalah bagaimana Soo Ji yang cita-citanya pengin jadi bos, harus berakhir sebagai pegawai perempuan di kantor besar dan sering dimanfaatin untuk ngerjain ini-itu. Terlebih lagi karena dia termasuk dalam kaum minoritas, dia sering dilecehkan secara verbal. Nah, mz Sang Goo sebagai lelaki sejati nggak suka ngeliat Soo Ji nerimo aja dilecehkan begitu sama atasannya. Tapi buat Soo Ji, ini sah-sah aja karena, ya mau gimana lagi, gue cuma pegawai bawahan cuy, kalau nggak begini gue nggak akan bisa memertahankan karir gue. Akhirnya terjadilah konflik antara dua orang ini dan mereka pun berusaha untuk menyelesaikannya.

Hm, udah lumayan panjang, ya.

Secara keseluruhan, gue suka drama ini karena ada cukup banyak pemikiran dan pandangan yang nggak jauh beda sama lingkungan di sini (Indonesia). Bagaimana pernikahan jadi sesuatu yang penting banget dibandingkan hal-hal lain, bahkan di zaman modern kayak gini. Ada satu scene waktu Se Hee dan Ji Ho memutuskan untuk nggak bikin acara resepsi. Bapaknya Se Hee menentang ini dan langsung dibales dengan (kurang lebih intinya), "Ayah pengin ada acara resepsi cuma buat nunjukkin ke temen-temen dan keluarga Ayah kalau anak Ayah terdidik dengan baik, kan? Ini cuma alat buat pamer, kan?" Gue pikir ini bener banget, dan di sini pun ada yang kayak begitu. Mungkin bukan masalah mendidik, tapi masalah prestise dan gengsi orang tua. Kalau nggak ada resepsi, entar nggak ketauan kalau udah nikah. Entar diomongin, entar begini, entar begitu. Haaahhh pusing aku.

Loh, kenapa gue yang pusing?

Gue merasa drama ini (mungkin ya) kayak ngasih pandangan baru tentang gimana sih kehidupan orang-orang di zaman sekarang, apa masih bisa terus ngikutin tradisi orang zaman dulu atau nggak. Meskipun pada akhirnya dua pemikiran ini, pemikiran lama dan modern, tetep bisa bertahan dan berjalan dengan baik. Itulah kenapa gue sebut drama ini the wisest.

Selain itu, yang gue suka juga adalah cara Se Hee dan Ji Ho mendiskusikan segala hal yang bersangkutan dengan mereka. Semuanya selalu berdasarkan persetujuan masing-masing dan logika (mungkin karena Se Hee-nya orang IT ya). Gue seneng tiap kali mereka diskusi dan... enak aja gitu ngeliatnya semuanya tuh selalu terencana, rapi, dan ada persetujuan dari dua pihak. Nggak cuma berdasarkan perasaan tapi diliat dari segi kebutuhannya juga.

Oh, satu lagi. Karakter yang paling gue suka di sini adalah siapa lagi kalau bukan mz Se Hee. Sebenernya gue suka cara dia mengekspresikan sesuatu, sihwhich is jarang banget. Mukanya dataaar banget. Mau lagi seneng, lagi sedih, tetep aja datar, walaupun diem-diem dia sebenernya punya cara buat nunjukkin perasaannya. Perkembangan karakternya juga nggak terlalu mendadak kayak drama-drama lain (taulah, yang hari ini bilang saranghae besokannya minta dikejar, terus minggu depan saranghae lagi, besoknya tiap ditelepon nggak dijawab-jawab haaahhh). Mungkin karena pada dasarnya Se Hee ini tipe pendiam, jadi nggak terlalu kentara perubahannya. Kalau karakter yang lain... mungkin si mz Sang Goo karena dia tipe cowok kampret tapi punya rasa hormat setinggi langit sama perempuan. Cara dia nge-treat Soo Ji juga yang bikin lucu, sih, macem Dilan kalau udah tuwir gitu (?)

Demikian ulasan drakor hari ini. Percayalah, gue nulis ini sambil kepikiran skripsi gue yang masih belum gue lanjutin sampai sekarang. Gue bahkan rasanya pengin analisis drama ini buat skripsi, tapi sayangnya aku anak Sastra Inggris, bukan Sastra Korea huhuhu. Baiklah kalau begitu, mari kita sudahi postingan ini dengan segera membuka file skripsi dan melanjutkan penelitian membaca hamdalah. Alhamdulillaah. Ciao!

Sunday, March 4, 2018

Arguing about an Article and the Comments of the Article

Beberapa waktu lalu gue sempat meluangkan waktu gue untuk membaca beberapa artikel seputar kehidupan sehari-hari di sebuah situs yang (sepertinya) berbau equality matters. Yah, tahulah, situs yang berisi artikel-artikel opini tentang perempuan dan juga laki-laki sebagai topik utama dan masalah-masalah sosial lainnya. Intinya situs ini punya banyak artikel yang seru untuk dibaca.

Karena penasaran, gue pun mencoba scroll down timeline Twitter situs tersebut, berusaha mencari artikel-artikel yang sekiranya bisa gue baca. Akhirnya gue menemukan satu artikel tentang membaca. Isinya, setelah gue baca, adalah keresahan (can I say that?) si penulis tentang kebiasaan membaca di lingkungan sekitarnya, khususnya orang-orang yang dia kenal. Di sana dia semacam mempertanyakan bagaimana membaca bisa jadi sesuatu yang nggak dilakukan oleh orang padahal dengan membaca kita bisa mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan.

Ketika gue membaca artikel itu, gue setuju dengan apa yang diutarakannya. Ya sebagai orang yang suka baca, mau nggak mau gue mengiyakan poin-poin yang ia jabarkan. Sampai akhirnya gue iseng baca kolom komentarnya. Dan di situ gue disadarkan bahwa beberapa poin yang ditulis si penulis agak kurang relevan.

Pertama, si komentator bilang kalau si penulis nggak seharusnya menghubungkan minat membaca dengan gelar seseorang. Jadi, di artikel itu si penulis membukanya dengan menceritakan temannya yang udah dapet gelar doktoral, tapi ketika ditanya lo suka baca nggak si teman menjawab nggak. Si penulis kaget (dia nulis dia kaget, bukan gue ngeliat langsung muka si penulis dengan mata melotot dan hidung kembang-kempis), ia pun bertanya-tanya, kok bisa elo yang udah gelar doktoral tapi masih nggak suka baca? Gimana bisa elo dapet ilmu tinggi tapi nggak hobi baca?

Si komentator memermasalahkan ini dengan bilang, nggak ada hubungannya orang yang udah sekolah tinggi dengan hobi membaca. Kalau memang dia nggak suka baca, ya mau diapain lagi. Lagipula si teman yang udah bergelar ini nggak mungkin nggak baca apa-apa selama dia kuliah. Dia pasti baca jurnal-jurnal untuk mendukung tesisnya. Jadi, ketika ditanya suka baca apa nggak, ya wajar kalau dia jawab nggak. Mungkin dia udah enek baca jurnal yang bejibun dan setelah lulus, ini adalah saatnya dia untuk istirahat panjang dari kegiatan membaca.

Gue ngangguk-ngangguk pas baca komentar itu. Si komentator ada benernya juga. Bahkan gue yang anak sastra pun kalau bukan karena tugas atau disuruh dosen untuk baca jurnal-jurnal tai tentang marxisme, feminisme, atau psikoanalisis, mungkin gue nggak akan mau sukarela meluangkan waktu untuk membaca itu. Dan setelah gue baca berlembar-lembar tulisan orang, gue suka ngerasa ah udahlah, capek baca mulu, mau istirahat dulu (iya, gue akuin gue anak sastra yang buruk karena males baca). Jadi gue pikir nggak seharusnya si penulis dengan serta-merta kaget dan bilang, gimana bisa cuy elo udah punya gelar tapi nggak suka baca???

Kedua, si komentator mulai ngebahas membaca sebagai satu-satunya cara mendapatkan ilmu. Dia bilang, ada banyak cara di dunia ini untuk mendapatkan ilmu, pengetahuan, bahkan pengalaman. Exploring the world and the people, watching some videos, or listening to people's experience, itu juga merupakan cara-cara untuk bisa dapet ilmu. Intinya, ilmu nggak cuma bisa didapat dengan membaca doang. Si komentator merasa keberatan dengan klaim si penulis yang satu ini. Bahkan dia sampai bilang kalau si penulis ini terlalu naif untuk menerima kenyataan bahwa di dunia ini ada orang yang nggak menjadikan membaca sebagai hobi atau kebiasaan.

Di sini, gue keberatan dengan si komentator. Memang ada banyak cara untuk mendapatkan ilmu, gue pun mengakui selain membaca gue juga seneng nonton video, gue suka liat gambar bergerak, dan nggak jarang gue lebih paham ketika dijelasin lewat video ketimbang baca teks. Tapi, walaupun cara-cara itu terbukti ampuh, membaca adalah cara termudah, terefektif, dan terbaik (menurut gue) untuk mendapatkan ilmu atau informasi. Gue ngerasain hal itu (walaupun telat). Okelah membaca itu bagi sebagian orang bisa dijadiin hobi yang mana mereka bisa melakukan itu tanpa pressure tapi lebih ke fun. Tapi gue nggak bisa bilang kalau membaca itu nggak penting. Membaca itu penting. Mungkin kalau dari segi isi, itu tergantung minat masing-masing orang. Ada yang suka baca fiksi, non fiksi, sejarah, dan sebagainya. Tapi lebih dari itu, dengan banyak membaca setidaknya lo bisa punya gambaran bagaimana tulisan yang baik dan enak dibaca itu bisa dibuat, yang pada akhirnya akan berguna ketika lo menulis (which is something that everyone in education system will do, right?). Ketika membaca lo nggak cuma sekedar dapet informasi, tapi lo juga melihat bagaimana struktur kalimat disusun dengan baik sehingga lo betah baca bacaan itu.

Gue nggak akan ngomongin artikel pendek ndak jelas yang suka muncul di Line Today (I stopped scrolling down my Line's timeline by the way because it's a waste of time number two setelah nontonin snapgram rangorang). Ya walaupun artikel berita juga layak dibaca, tapi entah kenapa gue ngerasa berita itu sekarang gampang banget diputar-balik. Gue selalu enggan buat nge-klik artikel berita-berita macam detikcom atau kompascom, apalagi yang judulnya memancing rasa penasaran. Gue lebih suka nge-klik tautannya Uda Ivan Lanin karena beliau terlihat muda sekali di avatar Twitter-nya membahas bahasa Indonesia dan tata bahasa yang benar.

Maksud gue tentang membaca itu adalah minimal artikel opini orang-orang tentang sebuah isu atau masalah atau keresahan kayak artikel yang gue baca itu. Biasanya setelah gue baca sampai selesai, gue baru sadar, wah tulisannya rapih. Susunannya bagus, nggak kayak tulisan blog gue. Ada masalah, ada contoh masalah, mempertanyakan masalah, membahas masalah, dan mencari solusi dari masalah. Kurang lebih itu yang suka gue liat ketika membaca. Jadi, selain untuk menyerap isi bacaan, membaca juga bisa jadi latihan untuk menulis.

Dan hal teknis kayak gini gue rasa nggak bisa didapetin dengan jalan-jalan, ketemu orang, ngobrol, atau apalah selain membaca. Membaca itu kayak nonton film, masing-masing orang akan punya experience yang beda setelahnya. Apa yang lo liat belum tentu sama dengan orang lain. Lo bisa punya persepsi sendiri terhadap suatu hal. Lo juga bisa dapet ilmu yang mungkin orang lain nggak nemu. Intinya, menjadikan membaca sebagai suatu kebiasaan itu harus. Apalagi di jaman sekarang di mana informasi apapun, positif atau negatif, bisa langsung kesebar dengan cepat. Semakin banyak lo membaca, semakin lo bisa punya banyak pandangan berbeda, dan lo bisa jadi orang yang objektif dalam melihat suatu masalah. Dengan banyak baca, lo nggak akan terjebak dalam satu sumber yang sama dan berakhir jadi orang yang subjektif (dan orang subjektif biasanya nggak jauh-jauh dari sifat nyebelin).

Kecuali yah, kalau emang situ udah fanatik banget sama satu sumber dan males cari sumber lain, yah, apa boleh buat. Setidaknya situ udah melakukan satu kegiatan yang baik; membaca.

Thursday, February 1, 2018

Honest Review: Film "Dilan 1990"

Langsung saja ya kita mulai honest review dari saya.

Filmnya dibuka sama seperti novelnya, si Milea memperkenalkan dirinya, keluarganya, lalu teman-temannya. Lalu masuklah kita ke adegan yang selama ini sudah beredar dan jadi bahan bercandaan di mana-mana, adegan Dilan naik motor bersisian sama Milea lalu bilang,

Image result for dilan 1990 novel
Gambar ini saya ambil dari bukubiruku.com
Karena saya nggak suka poster filmnya di mana si Iqbaal terlihat kecil sekali badannya.

"Kamu... Milea, ya?"

Adegan yang membuat saya dan Andi meringkuk tidak jelas saking gelinya. Tapi tenang, awalnya memang agak menggelikan, apalagi buat kami yang sudah baca bukunya dan hanya bisa membayangkan adegan itu di otak kami. Lama-kelamaan, seiring filmnya berjalan, semua adegan bahkan dialog yang selama ini kami pikir "nggak banget" ketika difilmkan jadi bisa diterimadengan terpaksa.

Cerita berlanjut ke adegan di kelas, di mana Milea sebagai murid baru yang nggak berasa kayak murid baru karena doita bisa langsung akrab sama teman satu kelas (bahkan pas ulang tahun sempat dikasih surprise dan kue ulang tahun) yang menurut hemat saya sih, sesederhana karena Milea cantik. Coba kalau bentukannya kayak saya, ngobrol sama orang aja males, apalagi dikasih surprise? Di adegan itu, ada dua hal yang bikin saya sebel dan gemes; pertama, waktu teman sebangkunya Milea membuka pembicaraan dengan bilang, "Nggak kerasa yah, kamu udah dua minggu jadi murid di sini." Duh, tolong yah teteh-cantik-teman-sebangkunya-Milea, dua minggu dalam hitungan waktu normal itu sebentar tauk. Iya nggak sih? Kalau udah sebulan tuh, baru namanya "nggak kerasa".

Nah, yang kedua adalah waktu Milea nanyain soal kantin ke teteh-cantik-teman-sebangkunya-Milea. Karena di adegan kamu-Milea-ya itu si Dilan sempat ngeramal kalau mereka akan ketemu lagi di kantin, Milea langsung penasaran gitu. Doita langsung cerita sama teteh-cantik-teman-sebangkunya-Milea, kalau ada yang ngeramal kayak begitu. Temannya langsung nanya dong, "Terus kamu jadi mau ke kantin nggak?" Milea pun menjawab, "Nggak ah."

Ah, kalau saya jadi Milea sih, saya datengin tuh kantin. Saya cariin mana barudaknya yang kenal juga nggak tapi udah main ramal-ramalan.

Ya untungnya Milea nggak semurah saya, yah.

Saya lupa adegan selanjutnya (banyak yang saya lupa karena saya terlalu sibuk mengeluarkan kata-kata kasar selama film berlangsung). Mungkin waktu Dilan naik angkot sama Milea. Adegan ini masih bisa saya terima, kecuali lagi-lagi dialognya dan ekspresi wajah para aktornya. Kalau nggak salah, di sini Dilan bilang, "Milea, kamu cantik. Tapi aku belum cinta (atau suka?). Nggak tau kalau besok sore." Sang aktor melontarkan kalimat ini sambil menatap jauh ke luar angkot, ke atas lebih tepatnya. Saya kurang suka, seharusnya doi melirik-melirik sedikit ke arah Milea. Atau agak senderan ke belakang seolah-olah lagi bisikin Milea. Nah, Milea nya juga, malah sok-sokan baca novel. Saya agak sebel liatnya karena, ngapain sih baca novel di angkot? Nggak pusing apa?

Tapi, yaudahlah.

Lalu masuklah kita ke adegan yang paling saya suka, adegan waktu Dilan menyusup masuk ke kelasnya Milea. Tiba di kelas, Dilan berpapasan dengan seorang figuran yang saya yakini bernama Dadang. Si Dadang dengan polosnya bertanya,

"Ngapain, Dilan?"

Ternyata, yang menganggap adegan itu lucu cuma saya dan Andi. Satu bioskop nggak ada yang memerhatikan akting si Dadang itu. Sungguh sebuah penghinaan terhadap pemeran figuran! Tapi sumpah, itu lucu loh. Mungkin karena transisi adegannya yang agak cepat, pas tiba-tiba latarnya ganti jadi kelas, pas si Dadang itu muncul. Ah, terima kasih Dadang telah membantu menyelematkan film ini walaupun tidak banyak yang kamu lakukan.

Saya dan Andi berencana buat sekuel film Dilan tapi dari sisi Dadang. Semacam Fantastic Beast-nya J.K. Rowling. Tunggu saja. Kalau nggak keluar, berarti saya dan Andi nggak jadi nulis si Dadang.

Saya lupa lagi adegan selanjutnya. Oh iya, saya keingetan adegan di kantin waktu Milea dan kawan-kawan lagi makan batagor. Ada si ketua kelas juga, Nandan. Terus tiba-tiba si Dilan nyamperin mereka. Dia ngomong ke Nandan--yang duduk di depan Milea, "Aku suka Milea, loh!" Terus Nandan kebingungan gitu dan Dilan lanjut bisikkin Nandan, "Tapi jangan bilang-bilang Milea, yah, kalau aku suka sama dia." Nandan pun semacam menjawab, eta orangnya ada di depan kamu ngapain bilang ke sayah? Dan Dilan pun membalas, "Kan aku bilangnya ke kamu, bukan ke Milea!"

Waktu adegan itu muncul, saya sempat lupa kalau itu ada di bukunya. Jadi saya senang karena diingatkan lagi sama adegan yang yah, lumayan lucu sih. Waktu saya baca bukunya, saya ngebayangin sosok Dilan yang agak macho dan bertubuh gempal, dengan seragam yang udah agak merecet dan berwarna kusam (iya, di filmnya, semua murid sekolah Dilan pada pakai baju baru, masih putih, masih kaku, masih bau toko), ngomong sok imut gitu ke Nandan. Alhasil jadi luculah bayangan saya. Sedangkan ketika saya nonton filmnya, saya melihat si Iqbaal (a-nya dua, nggak tau kenapa) ini emang udah perawakannya remaja imut gitu. Jadi pas doi memainkan adegan itu, saya jadi kurang greget liatnya. Padahal udah oke loh penghayatan dialognya (anjas).

Mungkin adegan Dilan dan Milea telepon-teleponan itu juga penting. AH IYA saya jadi ingat. Waktu mereka teleponan malam-malam untuk pertama kalinya (saya lupa itu bagian dialog apa). Kamera lagi asyik-asyiknya nge-shoot muka Milea lalu tiba-tiba muncul BULAN SEGEDE GABAN HAMPIR MENUTUPI SETENGAH LAYAR BIOSKOP. Saya pikir, DOP-nya mau nyamain muka Milea sama bulan, nggak taunya itu dimaksudkan buat bergantian siang ke malam.

Image result for bulan purnama
Nah, persis kayak begini bentukan bulannya.

Ya tapi nggak usah bulan juga kali kalau mau transisi. Langit gelap plus bintang-bintang kek, atau kalau mau pakai bulan ya jangan sampai menuhin setengah layar juga. Kami yang nonton kan jadi kaget. Saya sempat mikir jangan-jangan ini gabungan film Dilan dengan film Meet Me After Sunset yang mana pemeran utamanya ternyata adalah vampir! (Iya, saya tau film itu karena trailer-nya muncul sebelum filmnya dimulai)

Udah, udah, ayo kita lanjut lagi review-nya. Saya mau bahas adegan Dilan dan Milea jalan-jalan naik motor keliling kota Bandung. Ini banyak masalah teknis yang  saya sayangkan. Pertama, kota Bandung. Saya tau cerita ini mengambil latar Bandung tahun 90an, dan akan butuh usaha untuk menampilkan suasana tahun 90an ketika bikin filmnya di tahun 2017. Telepon umum, telepon rumah, motor, dan bentuk rumah mungkin beberapa detail utama yang dihadirkan sama si pembuat film. Sayangnya, itu aja nggak cukup. Latar suasana jalanan Bandung kurang diekspos, interior rumah Milea (selain telepon rumah) masih kurang berasa 90an-nya. Saya sempat mengeluh ke Andi, saya bilang, sofa di rumahnya Milea terlalu modern, dari segi warna dan bentuk.

"Jangan-jangan belinya di IKEA kali ya."

"Padahal tahun 90an, IKEA belum ada di Alam Sutera."

"Positive thinking aja, Del. Mungkin keluarganya impor furnitur langsung dari Swedia."

Ya itu detail-detail kecil yang harusnya sih bisa diusahakan muncul di film. Terlebih ini Bandung gitu loh, kota yang selalu punya tempat di hati sebagian orang. Rasanya tiap ada film yang berlatar di Bandung tuh, selalu bikin saya pengen jalan ke sana. Sedangkan ini nggak.

Dan, adegan waktu Dilan dan Milea jalan-jalan naik motor itu harusnya jadi kesempatan buat nunjukkin suasana kota Bandung di tahun 90an. Oke, mungkin saya ngomong seenak jidat tanpa tau gimana susahnya menampilkan suasana 90an di kota Bandung di tahun 2017. Tapi kalau menurut saya sih, itu semua bisa dilakukan dengan cara sederhana. Sesederhana nge-shoot nama jalan kota Bandung, pepohonan di sekitar jalan raya (bukan pepohonan di sekitar perumahan karena yang saya perhatiin filmnya banyak nge-shoot di daerah perumahan), atau jejeran toko-toko lama yang sekarang masih ada di Bandung.

Iya, iya, tau, ngomong tuh emang gampang. Saya sendiri juga kurang paham gimana prosedur syuting film di fasilitas umum kayak jalan raya. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa semakin matang sebuah karya, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk karya itu. Film Dilan seinget saya mulai syuting sekitar pertengahan tahun 2017. Akhir Desember lalu kalau nggak salah udah mulai promo film. Berarti waktu pembuatannya cuma sekitar enam bulan, yang mana kalau buat saya, untuk seukuran film yang butuh banyak detail, itu waktu yang terlalu singkat.

Kalau ngomongin ini, saya selalu pengen nyerempet ngomongin masalah kastingnya. Kalau produsernya nggak terlalu ngebet dapet untung, mungkin tim casting-nya bisa meluangkan waktu untuk open casting warga lokal, dibandingkan nyari dari kalangan aktor yang udah punya nama. Saya juga kurang paham ya masalah gini-gini, tapi patokan saya untuk masalah casting itu film Sing Street. Di situ semua pemeran utamanya (termasuk si duo ganteng kampret itu) diambil dari orang lokal Irlandia, bener-bener murni belum pernah main film. Hasilnya? Nggak kalah keren aktingnya sama aktor-aktor yang punya nama. Lagipula kalau waktu itu tim produksi film Dilan buka casting untuk waga lokal, dan yang terpilih adalah mereka yang mukanya belum familiar, pastinya nggak akan ada hujatan buat si Iqbaal ataupun fans-nya Iqbaal.

Ah, tapi itu sotoy-sotoyan saya aja sih. Teteplah mereka yang bekerja untuk film Dilan yang lebih paham gimana caranya bikin film yang baik dan benar. Saya mah cuma penonton karbitan yang nggak tau apa-apa soal dunia perfilman.

Lanjut, jangan?

Saya masih mau ngomongin adegan Dilan dan Milea jalan-jalan naik motor. Di situ mereka sahut-sahutan dialog unyu gitu deh. Saya lupa apa aja dialognya. Saya juga lupa terlebih karena mereka ngomongnya cepet banget :( Tektok dialognya jadi kurang dapet dan saya cuma kebagian akhir-akhirnya waktu mereka ngomong,

"...terus dikutuk jadi batu deh,"

"Terus batunya kamu pegang terus."

"Biar apa?"

"Biar nggak sakit perut!"

Satu bioskop meledak ketawa, apalagi pas liat si Iqbaalmaaf, maksud saya Dilan, mukanya ngelawak gitu pas bilang "sakit perut". Sebenarnya nggak cuma dialog itu, banyak dialog-dialog lain yang pelafalannya kurang jelas karena telalu cepat. Puncaknya, yang paling mengecewakan saya dan Andi adalah dialog Dilan marah-marah di ruang kepala sekolah.

Saya ingat betul adegan itu; si Dilan mukulin Anhar karena Anhar nampar Milea. Abis itu mereka dibawa ke ruang kepala sekolah, dan di situ, di depan kepala sekolah dan guru-guru lainnya, Dilan ngamuk dan teriak,

"KEPALA SEKOLAH NAMPAR DIA, KUBAKAR SEKOLAH INI!"

Wuis. Anjay. Mantap. Canggih gila ni bocah.

Waktu saya baca novelnya, saya agak-agak merinding gimana gitu bacanya. Gila, Dilan ngamuk cuy! Ngamuknya nggak kira-kira, sampe bawa kepala sekolah! Ini anak jenderal atau anak sultan ya si Dilan-Dilan ini? Tapi, kita nggak perlu bahas logika dulu deh ya. Di adegan itu, menurut saya itu momen klimaks kemarahannya Dilan. Kalau kata Andi, itu bukti ke-bucin-annya Dilan terhadap Milea.

Sayangnyaaa... kalimat itu nggak terdengar jelas pelafalannya. Si Iqbaal cuma bangun terus teriak, "KEPALA SEKOLAH SHDFSJSNC CSNMXXM, SKDSJCRTE  DIOPIKJKJSKS INI!!!" Saya sama Andi langsung kecewa pas liat adegan itu. Seperti yang saya bilang tadi, transisi dari satu adegan ke adegan lainnya terlalu cepet. Abis Dilan ngamuk, langsung pindah ke Warung Bi Eem.

EH IYA, ini Warung Bi Eem juga jadi masalah nih. Masa warungnya bentuknya kayak kafe rumahan??? Gini loh. Secara logika aja, penyebutan 'warung' itu konotasinya kalau nggak warung kecil yang suka ada di perumahan, warung kopi yang suka ada di pinggir jalan, atau warung dari kayu/anyaman bambu plus ada meja dan kursi panjang di depannya. Iya kan? Coba, saya suruh kalian bayangin sebuah warung, pasti kalian nggak akan kepikiran sebuah rumah, ada dapur di belakangnya, ada meja-meja untuk empat orang gitu, terus dari luar terlihat seperti rumah. Iya kan? Di situ saya kecewa sekali tiap kali melihat Warung Bi Eem.

Udah kali yah, segitu aja review dari saya. Kalau dilanjut, saya bisa kebablasan bahas Wati, Piyan, Ibunya Milea, Bundanya Dilan, latar jalanan waktu Bundanya Dilan nganter Milea pakai jeepwah, masih banyak deh. Pegel saya nulisnya. Mohon maaf kalau saya spoiler, lagian kalian pasti juga udah nonton filmnya. Buat yang belum nonton, mudah-mudahan setelah baca review saya kalian langsung mengurungkan niat untuk nonton film Dilan. Ya tapi kalau tetep mau nonton ya silakan. Asal tau aja, kalau kalian nonton itu, apalagi nontonnya pas malam minggu, kalian sudah berkontribusi memperkaya orang-orang yang ada dibalik pembuatan film Dilan itu. Mereka makin kaya, kita makin miskin. Dasar kapitalis!

Kalau disuruh nilai dari 1 sampai 5, saya kasih film Dilan 1990 nilai 2. Eh, 2,5 aja deh. Karena pada dasarnya secara pribadi saya suka Dilan, terlepas dari siapa pemerannya. Dilan itu tokoh fiksi yang cuma ada di benak pembacanya, yang bikin kitamaaf, saya maksudnya, jadi bisa ngerasain gimana rasanya digombalin, dilucuin, dikasih kata-kata aneh oleh seseorang kayak Dilan. Jadi, tolong yah, jangan berharap sosok Dilan itu ada di dunia nyata. Biarlah tokoh fiksi buatan Ayah Pidi Baiq itu tetap jadi tokoh fiksi yang bikin kita senyam-senyum sendiri dengan ke-anti-mainstream-annya dalam mencuri hati seseorang.


P.S.: kalimat terakhir saya tulis dengan setengah sadar. Percayalah.
© based on a true story.
Maira Gall