Thursday, February 1, 2018

Honest Review: Film "Dilan 1990"

Langsung saja ya kita mulai honest review dari saya.

Filmnya dibuka sama seperti novelnya, si Milea memperkenalkan dirinya, keluarganya, lalu teman-temannya. Lalu masuklah kita ke adegan yang selama ini sudah beredar dan jadi bahan bercandaan di mana-mana, adegan Dilan naik motor bersisian sama Milea lalu bilang,

Image result for dilan 1990 novel
Gambar ini saya ambil dari bukubiruku.com
Karena saya nggak suka poster filmnya di mana si Iqbaal terlihat kecil sekali badannya.

"Kamu... Milea, ya?"

Adegan yang membuat saya dan Andi meringkuk tidak jelas saking gelinya. Tapi tenang, awalnya memang agak menggelikan, apalagi buat kami yang sudah baca bukunya dan hanya bisa membayangkan adegan itu di otak kami. Lama-kelamaan, seiring filmnya berjalan, semua adegan bahkan dialog yang selama ini kami pikir "nggak banget" ketika difilmkan jadi bisa diterimadengan terpaksa.

Cerita berlanjut ke adegan di kelas, di mana Milea sebagai murid baru yang nggak berasa kayak murid baru karena doita bisa langsung akrab sama teman satu kelas (bahkan pas ulang tahun sempat dikasih surprise dan kue ulang tahun) yang menurut hemat saya sih, sesederhana karena Milea cantik. Coba kalau bentukannya kayak saya, ngobrol sama orang aja males, apalagi dikasih surprise? Di adegan itu, ada dua hal yang bikin saya sebel dan gemes; pertama, waktu teman sebangkunya Milea membuka pembicaraan dengan bilang, "Nggak kerasa yah, kamu udah dua minggu jadi murid di sini." Duh, tolong yah teteh-cantik-teman-sebangkunya-Milea, dua minggu dalam hitungan waktu normal itu sebentar tauk. Iya nggak sih? Kalau udah sebulan tuh, baru namanya "nggak kerasa".

Nah, yang kedua adalah waktu Milea nanyain soal kantin ke teteh-cantik-teman-sebangkunya-Milea. Karena di adegan kamu-Milea-ya itu si Dilan sempat ngeramal kalau mereka akan ketemu lagi di kantin, Milea langsung penasaran gitu. Doita langsung cerita sama teteh-cantik-teman-sebangkunya-Milea, kalau ada yang ngeramal kayak begitu. Temannya langsung nanya dong, "Terus kamu jadi mau ke kantin nggak?" Milea pun menjawab, "Nggak ah."

Ah, kalau saya jadi Milea sih, saya datengin tuh kantin. Saya cariin mana barudaknya yang kenal juga nggak tapi udah main ramal-ramalan.

Ya untungnya Milea nggak semurah saya, yah.

Saya lupa adegan selanjutnya (banyak yang saya lupa karena saya terlalu sibuk mengeluarkan kata-kata kasar selama film berlangsung). Mungkin waktu Dilan naik angkot sama Milea. Adegan ini masih bisa saya terima, kecuali lagi-lagi dialognya dan ekspresi wajah para aktornya. Kalau nggak salah, di sini Dilan bilang, "Milea, kamu cantik. Tapi aku belum cinta (atau suka?). Nggak tau kalau besok sore." Sang aktor melontarkan kalimat ini sambil menatap jauh ke luar angkot, ke atas lebih tepatnya. Saya kurang suka, seharusnya doi melirik-melirik sedikit ke arah Milea. Atau agak senderan ke belakang seolah-olah lagi bisikin Milea. Nah, Milea nya juga, malah sok-sokan baca novel. Saya agak sebel liatnya karena, ngapain sih baca novel di angkot? Nggak pusing apa?

Tapi, yaudahlah.

Lalu masuklah kita ke adegan yang paling saya suka, adegan waktu Dilan menyusup masuk ke kelasnya Milea. Tiba di kelas, Dilan berpapasan dengan seorang figuran yang saya yakini bernama Dadang. Si Dadang dengan polosnya bertanya,

"Ngapain, Dilan?"

Ternyata, yang menganggap adegan itu lucu cuma saya dan Andi. Satu bioskop nggak ada yang memerhatikan akting si Dadang itu. Sungguh sebuah penghinaan terhadap pemeran figuran! Tapi sumpah, itu lucu loh. Mungkin karena transisi adegannya yang agak cepat, pas tiba-tiba latarnya ganti jadi kelas, pas si Dadang itu muncul. Ah, terima kasih Dadang telah membantu menyelematkan film ini walaupun tidak banyak yang kamu lakukan.

Saya dan Andi berencana buat sekuel film Dilan tapi dari sisi Dadang. Semacam Fantastic Beast-nya J.K. Rowling. Tunggu saja. Kalau nggak keluar, berarti saya dan Andi nggak jadi nulis si Dadang.

Saya lupa lagi adegan selanjutnya. Oh iya, saya keingetan adegan di kantin waktu Milea dan kawan-kawan lagi makan batagor. Ada si ketua kelas juga, Nandan. Terus tiba-tiba si Dilan nyamperin mereka. Dia ngomong ke Nandan--yang duduk di depan Milea, "Aku suka Milea, loh!" Terus Nandan kebingungan gitu dan Dilan lanjut bisikkin Nandan, "Tapi jangan bilang-bilang Milea, yah, kalau aku suka sama dia." Nandan pun semacam menjawab, eta orangnya ada di depan kamu ngapain bilang ke sayah? Dan Dilan pun membalas, "Kan aku bilangnya ke kamu, bukan ke Milea!"

Waktu adegan itu muncul, saya sempat lupa kalau itu ada di bukunya. Jadi saya senang karena diingatkan lagi sama adegan yang yah, lumayan lucu sih. Waktu saya baca bukunya, saya ngebayangin sosok Dilan yang agak macho dan bertubuh gempal, dengan seragam yang udah agak merecet dan berwarna kusam (iya, di filmnya, semua murid sekolah Dilan pada pakai baju baru, masih putih, masih kaku, masih bau toko), ngomong sok imut gitu ke Nandan. Alhasil jadi luculah bayangan saya. Sedangkan ketika saya nonton filmnya, saya melihat si Iqbaal (a-nya dua, nggak tau kenapa) ini emang udah perawakannya remaja imut gitu. Jadi pas doi memainkan adegan itu, saya jadi kurang greget liatnya. Padahal udah oke loh penghayatan dialognya (anjas).

Mungkin adegan Dilan dan Milea telepon-teleponan itu juga penting. AH IYA saya jadi ingat. Waktu mereka teleponan malam-malam untuk pertama kalinya (saya lupa itu bagian dialog apa). Kamera lagi asyik-asyiknya nge-shoot muka Milea lalu tiba-tiba muncul BULAN SEGEDE GABAN HAMPIR MENUTUPI SETENGAH LAYAR BIOSKOP. Saya pikir, DOP-nya mau nyamain muka Milea sama bulan, nggak taunya itu dimaksudkan buat bergantian siang ke malam.

Image result for bulan purnama
Nah, persis kayak begini bentukan bulannya.

Ya tapi nggak usah bulan juga kali kalau mau transisi. Langit gelap plus bintang-bintang kek, atau kalau mau pakai bulan ya jangan sampai menuhin setengah layar juga. Kami yang nonton kan jadi kaget. Saya sempat mikir jangan-jangan ini gabungan film Dilan dengan film Meet Me After Sunset yang mana pemeran utamanya ternyata adalah vampir! (Iya, saya tau film itu karena trailer-nya muncul sebelum filmnya dimulai)

Udah, udah, ayo kita lanjut lagi review-nya. Saya mau bahas adegan Dilan dan Milea jalan-jalan naik motor keliling kota Bandung. Ini banyak masalah teknis yang  saya sayangkan. Pertama, kota Bandung. Saya tau cerita ini mengambil latar Bandung tahun 90an, dan akan butuh usaha untuk menampilkan suasana tahun 90an ketika bikin filmnya di tahun 2017. Telepon umum, telepon rumah, motor, dan bentuk rumah mungkin beberapa detail utama yang dihadirkan sama si pembuat film. Sayangnya, itu aja nggak cukup. Latar suasana jalanan Bandung kurang diekspos, interior rumah Milea (selain telepon rumah) masih kurang berasa 90an-nya. Saya sempat mengeluh ke Andi, saya bilang, sofa di rumahnya Milea terlalu modern, dari segi warna dan bentuk.

"Jangan-jangan belinya di IKEA kali ya."

"Padahal tahun 90an, IKEA belum ada di Alam Sutera."

"Positive thinking aja, Del. Mungkin keluarganya impor furnitur langsung dari Swedia."

Ya itu detail-detail kecil yang harusnya sih bisa diusahakan muncul di film. Terlebih ini Bandung gitu loh, kota yang selalu punya tempat di hati sebagian orang. Rasanya tiap ada film yang berlatar di Bandung tuh, selalu bikin saya pengen jalan ke sana. Sedangkan ini nggak.

Dan, adegan waktu Dilan dan Milea jalan-jalan naik motor itu harusnya jadi kesempatan buat nunjukkin suasana kota Bandung di tahun 90an. Oke, mungkin saya ngomong seenak jidat tanpa tau gimana susahnya menampilkan suasana 90an di kota Bandung di tahun 2017. Tapi kalau menurut saya sih, itu semua bisa dilakukan dengan cara sederhana. Sesederhana nge-shoot nama jalan kota Bandung, pepohonan di sekitar jalan raya (bukan pepohonan di sekitar perumahan karena yang saya perhatiin filmnya banyak nge-shoot di daerah perumahan), atau jejeran toko-toko lama yang sekarang masih ada di Bandung.

Iya, iya, tau, ngomong tuh emang gampang. Saya sendiri juga kurang paham gimana prosedur syuting film di fasilitas umum kayak jalan raya. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa semakin matang sebuah karya, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk karya itu. Film Dilan seinget saya mulai syuting sekitar pertengahan tahun 2017. Akhir Desember lalu kalau nggak salah udah mulai promo film. Berarti waktu pembuatannya cuma sekitar enam bulan, yang mana kalau buat saya, untuk seukuran film yang butuh banyak detail, itu waktu yang terlalu singkat.

Kalau ngomongin ini, saya selalu pengen nyerempet ngomongin masalah kastingnya. Kalau produsernya nggak terlalu ngebet dapet untung, mungkin tim casting-nya bisa meluangkan waktu untuk open casting warga lokal, dibandingkan nyari dari kalangan aktor yang udah punya nama. Saya juga kurang paham ya masalah gini-gini, tapi patokan saya untuk masalah casting itu film Sing Street. Di situ semua pemeran utamanya (termasuk si duo ganteng kampret itu) diambil dari orang lokal Irlandia, bener-bener murni belum pernah main film. Hasilnya? Nggak kalah keren aktingnya sama aktor-aktor yang punya nama. Lagipula kalau waktu itu tim produksi film Dilan buka casting untuk waga lokal, dan yang terpilih adalah mereka yang mukanya belum familiar, pastinya nggak akan ada hujatan buat si Iqbaal ataupun fans-nya Iqbaal.

Ah, tapi itu sotoy-sotoyan saya aja sih. Teteplah mereka yang bekerja untuk film Dilan yang lebih paham gimana caranya bikin film yang baik dan benar. Saya mah cuma penonton karbitan yang nggak tau apa-apa soal dunia perfilman.

Lanjut, jangan?

Saya masih mau ngomongin adegan Dilan dan Milea jalan-jalan naik motor. Di situ mereka sahut-sahutan dialog unyu gitu deh. Saya lupa apa aja dialognya. Saya juga lupa terlebih karena mereka ngomongnya cepet banget :( Tektok dialognya jadi kurang dapet dan saya cuma kebagian akhir-akhirnya waktu mereka ngomong,

"...terus dikutuk jadi batu deh,"

"Terus batunya kamu pegang terus."

"Biar apa?"

"Biar nggak sakit perut!"

Satu bioskop meledak ketawa, apalagi pas liat si Iqbaalmaaf, maksud saya Dilan, mukanya ngelawak gitu pas bilang "sakit perut". Sebenarnya nggak cuma dialog itu, banyak dialog-dialog lain yang pelafalannya kurang jelas karena telalu cepat. Puncaknya, yang paling mengecewakan saya dan Andi adalah dialog Dilan marah-marah di ruang kepala sekolah.

Saya ingat betul adegan itu; si Dilan mukulin Anhar karena Anhar nampar Milea. Abis itu mereka dibawa ke ruang kepala sekolah, dan di situ, di depan kepala sekolah dan guru-guru lainnya, Dilan ngamuk dan teriak,

"KEPALA SEKOLAH NAMPAR DIA, KUBAKAR SEKOLAH INI!"

Wuis. Anjay. Mantap. Canggih gila ni bocah.

Waktu saya baca novelnya, saya agak-agak merinding gimana gitu bacanya. Gila, Dilan ngamuk cuy! Ngamuknya nggak kira-kira, sampe bawa kepala sekolah! Ini anak jenderal atau anak sultan ya si Dilan-Dilan ini? Tapi, kita nggak perlu bahas logika dulu deh ya. Di adegan itu, menurut saya itu momen klimaks kemarahannya Dilan. Kalau kata Andi, itu bukti ke-bucin-annya Dilan terhadap Milea.

Sayangnyaaa... kalimat itu nggak terdengar jelas pelafalannya. Si Iqbaal cuma bangun terus teriak, "KEPALA SEKOLAH SHDFSJSNC CSNMXXM, SKDSJCRTE  DIOPIKJKJSKS INI!!!" Saya sama Andi langsung kecewa pas liat adegan itu. Seperti yang saya bilang tadi, transisi dari satu adegan ke adegan lainnya terlalu cepet. Abis Dilan ngamuk, langsung pindah ke Warung Bi Eem.

EH IYA, ini Warung Bi Eem juga jadi masalah nih. Masa warungnya bentuknya kayak kafe rumahan??? Gini loh. Secara logika aja, penyebutan 'warung' itu konotasinya kalau nggak warung kecil yang suka ada di perumahan, warung kopi yang suka ada di pinggir jalan, atau warung dari kayu/anyaman bambu plus ada meja dan kursi panjang di depannya. Iya kan? Coba, saya suruh kalian bayangin sebuah warung, pasti kalian nggak akan kepikiran sebuah rumah, ada dapur di belakangnya, ada meja-meja untuk empat orang gitu, terus dari luar terlihat seperti rumah. Iya kan? Di situ saya kecewa sekali tiap kali melihat Warung Bi Eem.

Udah kali yah, segitu aja review dari saya. Kalau dilanjut, saya bisa kebablasan bahas Wati, Piyan, Ibunya Milea, Bundanya Dilan, latar jalanan waktu Bundanya Dilan nganter Milea pakai jeepwah, masih banyak deh. Pegel saya nulisnya. Mohon maaf kalau saya spoiler, lagian kalian pasti juga udah nonton filmnya. Buat yang belum nonton, mudah-mudahan setelah baca review saya kalian langsung mengurungkan niat untuk nonton film Dilan. Ya tapi kalau tetep mau nonton ya silakan. Asal tau aja, kalau kalian nonton itu, apalagi nontonnya pas malam minggu, kalian sudah berkontribusi memperkaya orang-orang yang ada dibalik pembuatan film Dilan itu. Mereka makin kaya, kita makin miskin. Dasar kapitalis!

Kalau disuruh nilai dari 1 sampai 5, saya kasih film Dilan 1990 nilai 2. Eh, 2,5 aja deh. Karena pada dasarnya secara pribadi saya suka Dilan, terlepas dari siapa pemerannya. Dilan itu tokoh fiksi yang cuma ada di benak pembacanya, yang bikin kitamaaf, saya maksudnya, jadi bisa ngerasain gimana rasanya digombalin, dilucuin, dikasih kata-kata aneh oleh seseorang kayak Dilan. Jadi, tolong yah, jangan berharap sosok Dilan itu ada di dunia nyata. Biarlah tokoh fiksi buatan Ayah Pidi Baiq itu tetap jadi tokoh fiksi yang bikin kita senyam-senyum sendiri dengan ke-anti-mainstream-annya dalam mencuri hati seseorang.


P.S.: kalimat terakhir saya tulis dengan setengah sadar. Percayalah.

Monday, January 8, 2018

My Friend Told Me that I Was Too in Love with My Loneliness

I was feeling uneasy for the past couple weeks. I went out when I had a chance to, and refused to be at home before eleven pm. When I stayed home, I slept a lot and do almost nothing. I skipped my meal a few times, drank coffee frequently, stayed awake until midnight, and abandoned my assignments (including my thesis). I had a terrible phase at that time and it all only because one shitty word called: love.

I'm not gonna give some details, believe me, even if I want to, I don't know how to write it. I was just having a terrible day and the more I think about it, the more I believe that this was all my fault. From the very first time, this girl has become a fool. A moron. An idiot. I couldn't find any bad language to curse myself. The point is, it was all my fault.

I talked to some friends after that, but not exactly after the thing happened. I talked to Andi one night, not intended to tell her though but the time was just right. I realized something about Andi that night: she could give me a very good response only via chat. Hahaha. This is true and I just knew it. As a good friend, she told me what I don't want to hear: that I'm a denial. I know it would be hard for me to take that words but because she said that, I felt like I got a good slap in the face (man, is that even a right metaphor?). We discussed some other things after that, cursing at each other as usual but I get the point. And I feel a bit relieved after that night-conversation. 

Last Saturday, I went to campus and my friends finally had a chance to hear me pouring out my feelings after three years knowing each other, I never tell them anything that happened in my life. I skipped some details because I couldn't arrange my story orderly. I told them everything I wanted to say, cursed at some parts of the story, and then as her response, Tya said this directly, "Del, you're too in love with your loneliness." I heard pity in her voice and it hit me pretty hard. I never think about that word, actually I almost forgot that the word still exists. Loneliness; lonely; alone. It's like hearing an old friend's namestrange but familiar as well.

When she said that after my explanation about relationship, I agreed. I didn't deny it. I matched it with my point; why I don't (or hate to) put label on something such as relationship >> because I don't wanna be tied in that shit, I don't wanna be controlled by the status that in the future will force me to do what I don't want to. This makes me think differently about relationship, that we don't have to put label on it as long as we both know our feelings, then it is fine. We can be free to do what we want without the status, right?

"Del, you're too in love with your loneliness."

I dare to say that because I've been enjoying myself surrounded with no one. I got used to do things on my own, to take care of things with myself because somehow it is my responsibility. I always have time for myself and I don't want to share it with someone (excluding friends and family). I don't like showing my affection to people (I have a particular way to do that), even my friends said that I'm a heartless bitch. I'm not used to get an affection either because it feels strange. And the more I think about feelings, emotions, or affections from 'someone special', the more I believe that it all will be gone someday because people changed. So, I thought, why do we have to spend our time on something that soon can change? Specifically: why do we have to spend our time, putting a label on something that highly possible to change someday? On something that remain uncertain like, relationship?

And once again, my friend was right, I was too in love with my loneliness.

The thing that I've done to make it worse is that, I slowly put my feelings into what I believe and deny that feelings at the same time. I know I don't want to be in a relationship, but I also consciously know that I have feelings for that someone, and I got angry when my feelings got rejected. I put away the last two statements because shamefully, like what Andi said, I was a denial. I kept pushing my perspective into a person who don't share the same perspective, while forgetting the reality that is very possible to happen. That's why I'm telling myself that I'm a fool; if I don't want a relationship, then why should I be angry when that person has chose another person to be in his life? Yes, the answer is because I did put my feelings from the very start and ignored it.

When I wrote this, I thought, wow, why is love so complicated? But then I realized I was the one who make it complicated. I think too much even for the simplest thing. I also regret many things that I've said, that I wish I didn't say. I now know that I wasn't mature enough to solve this problem. I was the one who run away from the situation because I don't like being trapped in a serious conversation that needs a lot of energy. I abandoned things that should've been talked properly, openly, and honestly, because I was a selfish bitch who don't want to bother myself with too many problems. It's funny how I thought I did a good job for letting someone be free when the fact is not. I've made them suffered with my ideology, and so goodbye is the final word to let them free.


Now I believe that sooner or later things will be better again. I feel much better now actually, after having a conversation with my friends. Talking is so relieving, obviously. Although I know I still have something to say to make the situation clearerbecause I can swallow my pride right now and do something like: saying sorry and chasing that person once more. It sounds dramatic (and stupid) actually but, I need to clear my mind first. I may feel better but I still don't know what I really want right now. I can't just say that I'm okay with relationship now because, I'm afraid that I'm still the same loner who really loves to be alone. There's a lot more important things that I should put first before I deal with myself about my feelings. But sooner or later, when I have done with my 'redemption-phase', I may make a phone call one day, say hi, say sorry, and try to explain things I cannot say before. I'm gonna put aside my emotion, talk properly, and try to be honest to that personand to myself.

Saturday, December 30, 2017

2017 bisa dibilang tahun yang adil buat saya.

Saya lupa bagaimana saya memulai tahun ini dua belas bulan yang lalu. Kalau nggak salah, saya lagi sibuk ngurusin penampilan drama, bikin tugas film paling hina dan ditonton dosen dan teman-teman Sastra Inggris lainnya, lagi sering-seringnya dikejar buat diskusi program kerja sama Abang-Dosen-Kita-Semua (yang selanjutnya saya sebut Bang TM). Oh, dan akhir dari semester lima yang akhirnya terlewati dengan baik juga (walaupun selama ngejalanin nggak berhenti-berhentinya ngomong, "Parah ini, semester paling anjing ini." Ckckck).

Pertengahan tahun saya liburan sama teman-teman tai kampus ke Bali. Ya, mungkin buat kalian yang sering ketemu saya, atau Tya, atau Lutfia, Ratih, Dila, pasti udah tau gimana perihal Bali kemarin. Jadi, yaudahlah. Walaupun nyeritain itu di postingan ini bisa bikin postingan saya lebih panjang, tapi kayaknya udah bukan tempat dan masanya lagi ngomongin masalah Bali. Bali udah tinggal kenangan. Yang kebawa sampe rumah cuma suara ombak yang sempat saya rekam malem-malem di pantai Dreamland, dan sebuah bandana oranye yang saya beli di Krisna.

Tapi kalau tahun depan mau ke sana lagi mah, hayuk aja. Hehehe.

Abis dari Bali, langsung dibantai sama magang dan awal semester tujuh. Jujur aja, saya pengen nulis cerita tentang magang kemarin di postingan yang beda. Karena emang ada banyak cerita selama magang di sana (walaupun sebagian besar cuma opini sih). Ya semoga saya ada waktu luang yang nggak kebuang cuma buat bengong ya, supaya bisa duduk depan laptop dan jadi sedikit lebih produktif.

By the way, ngomongin semester tujuh yang masih berjalan sampai sekarang (dan udah mau kelar juga (haduh (haduuuhhh (haduuuuuhhhhh))), kayaknya ini semester yang nggak kalah anjing seru dari semester-semester sebelumnya. Saya udah mulai bimbingan skripsi. Saya udah bimbingan sekitar...... dua kali dalam kurun waktu...... dua atau tiga bulan, mungkin? Hehehe. Di bimbingan kedua saya datang ke dospem saya dan minta ganti teori sambil bilang, "Saya nggak tau, Miss, kalau pake teori itu. Takut nggak ada ujungnya." Dan beliau cuma ketawa-ketawa yang saya masih penasaran apa maksud dibalik ketawanya itu. Ah, udahlah. Jangan ngomongin dospem saya. Dia orang baik kok.

Sama kayak awal tahun, menjelang akhir tahun saya juga dikejar-kejar lagi masalah proker. Berhubung saya waktu itu udah seharusnya turun jabatan, tapi karena jurusan saya masih menimbun uang di Biro, akhirnya dengan berat (tapi ikhlas) hati, saya bikin proker baru yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Tiga kegiatan untuk Sastra Inggris yang lebih baik! Halah tai. Hehehe. Yaudah gitu, mulai deh lingkaran setan berputar: saya ditanyain terus sama Bang TM, junior-junior saya yang jadi ketua pelaksananya ditanyain terus sama saya, dan mereka para ketua itu ngejar-ngejar anak buahnya supaya cepet beres segala persiapan. Begitulah lingkaran setan sebuah organisasi.

Di antara tiga kegiatan itu, yang paling saya suka ya launching buku kumpulan cerpen oleh Inkfinitum. Hahaha. Ya jadi ini salah satu project yang sebenernya diinisiasi oleh Bang TM dan juga sahabatnya, Mas Wis. Mas Wis ini adalah penulis yang tulisannya udah masuk Kompas dan majalah-majalah lainnya. He literally works as a writer now. Nah, dua ciprik ini dua sekawan ini pengen kita, mahasiswa-mahasiswa sastra bisa menghasilkan sesuatu yang emang ada hubungannya sama sastra. Ya apalagi kalau bukan tulisan. Maka lahirlah sebuah grup Whatsapp yang isinya orang-orang yang pengen nulis.

Yang kemudian berkurang karena ternyata nulis itu nggak gampang.

Akhirnya grup Whatsapp itu berubah nama jadi Inkfinitum. Project nulis pun dimulai tapi ternyata nulis itu susah. Bukan proses nulisnya sih kalau menurut saya, tapi proses bangun dari kasur, terus jalan ke meja, buka laptop, buka Ms Word, kemudian mulai ngetik. Hampir semua anak-anak Inkfinitum yang dikumpulin waktu itu mageran semua. Akhirnya setelah dapet ancaman kecil (dan waktunya juga udah makin sedikit), naskah pun satu per satu kelar. Kelar doang, belum kena revisi. Revisi bisa sampe empat/lima kali. Hhh.

Tapi saya senang. Setelah bertahun-tahun saya nulis cuma untuk 1) diri saya sendiri, 2) curhat, dan 3) mempertahankan pemikiran saya bahwa saya layak menjadi seorang penulis, kali ini saya dikasih kesempatan nulis untuk dibaca oleh banyak orang. Meskipun cuma dua cerpen, tapi proses duduk, diskusi sambil ngopi, ngalor-ngidul ngomongin banyak hal kesana-kemari, baca cerpen anak-anak lainnya, itu bagian yang menurut saya menyenangkan. Dan akhirnya Inkfinitum diresmikan dan buku kumcer yang kami (saya, Daffa, Dimas, Karin, kak Tikah, dan Laila) buat dan udah diedit sedemikian rupa oleh sang editor, resmi diluncurkan. Yay.


Saya nggak akan nggak senyum kalau inget teman-teman saya datang ke acara itu, dan junior saya jatuh di depan orang karena sebuah confetti, dan ketika saya dan teman-teman penulis lainnya dan editor dan para mentor duduk dan berfoto bersama. Iya, saya tau kedengarannya sangat sentimentil, tapi mau gimana lagi, saya beneran senang waktu itu.

Setelah acara itu selesai, saya lalu dihadapkan lagi oleh perihal remeh-temeh yang bikin saya pengen gampar siapapun yang ada di depan saya. Menjelang akhir tahun, saya berkutat ngerjain laporan---laporan apa aja yang bisa saya kerjain. Bagian paling menyebalkan dari ngerjain laporan justru bukan ngerjain laporannya, tapi minor things yang terjadi selama saya ngerjain laporan itu. Ya semacam itulah. Saya hampir kena mental breakdown karena tiap abis ngetik panjang, saya diem, saya tiduran, terus nangis. Tiga menit kemudian, saya duduk, saya liat di kaca muka saya udah jelek, saya liat laptop saya masih kebuka Ms Word, dan akhirnya saya lanjut ngetik lagi. Tiga kali saya mengulang ritme yang sama, rasanya pengen nonjok tembok tapi saya tau itu bakalan sakit banget.

Tapi itu udah lewat lah. Laporannya juga udah selesai. Hehehe.

2017 adalah tahun yang adil buat saya. Saya ketemu banyak orang yang menginspirasi saya untuk melakukan hal bermanfaat. Saya ketemu banyak orang yang menginspirasi saya untuk menggampar mereka sebanyak dua kali di muka (belum kejadian kok, tenang aja). Saya baru paham kalau ternyata manusia butuh ngomong dengan manusia lainnya in order to make him/herself feels less worse. Saya baru paham kalau ternyata teman ngobrol itu beda dengan teman hidup bukan orang yang bisa setiap saat diajak ngobrol.

Dan saya sadar 2017 cuma angka yang dibuat sebagai penanda. Toh waktu tetep aja lurus ke depan, nggak loncat ke atas kayak di kalender. Tahun ini, tahun depan, dua tahun lagi, apapun yang terjadi, ya itu cuma jadi bagian dari diri saya. Bukan bagian dari tahun 2017, 2018, atau 2020, atau bahkan bagian dari orang lain.
© based on a true story.
Maira Gall