Thursday, May 10, 2018

Melihat Kekosongan (Sebuah Cerita yang Agak Pendek)

Saban hari, perempuan itu hanya duduk diam di depan meja belajarnya sambil sesekali memeriksa telepon pintar. Setelah merasakan hawa panas di telapak tangan, pertanda pancaran radiasi sudah mulai menyebar, ia pun meletakkannya kembali dan beralih melihat sekeliling. Kamarnya tidak lagi begitu ramai seperti yang sebelumnya, yang pada salah satu bagian dindingnya dihiasi kumpulan foto-foto yang sengaja ia cetak. Ia menamai dinding itu 'hall of memories'. Di setiap lembar foto yang terpajang mengandung sejuta cerita. Jika seseorang memintanya untuk menceritakan kisah dibalik fotonya bersama dua orang sahabat karibnya semasa SMA, maka cerita itu tidak hanya berhenti pada momen ketika foto tersebut diambil. Ia akan meracau ke waktu lain yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan foto tersebut, hanya saja otak manusia terlalu hebat dalam urusan macam itu.

Kini kamarnya lebih terlihat sederhana. Ia masih memajang foto di dinding hanya saja tidak seramai dulu. Kali ini ia merasa tidak perlu menempelkan semua foto teman-temannya, cukup teman-teman yang ia rasa pernah menaruh kontribusi besar pada hidupnya selama ini. Dengan kekosongan itu, ia tidak perlu lagi mengingat-ingat kembali suatu masa yang terekam dalam kamera. Kekosongan itu sendiri yang akhirnya menemani pikirannya yang semakin hari semakin tidak keruan.

Mungkin itu sebabnya ia begitu teralihkan dengan telepon genggamnya. Aplikasi sosial yang sengaja ia unduh untuk kebutuhan pribadibukan kebutuhan sosialbelakangan membuatnya semakin malas untuk setidaknya melirik sedikit pekerjaannya yang belum juga rampung. Ternyata, memperhatikan kehidupan rekan-rekan sepantaran yang tidak pernah ia temui selepas perpisahan sekolah, merupakan kegiatan yang adiktif namun mengasyikkan. Meskipun pada akhirnya ia sadar bahwa selama ini ia selalu melewati unggahan-unggahan semacam foto muka satu layar dibarengi caption sabda nabi, atau foto pasangan penuh kemesraan yang ia berani bertaruh akan berakhir cepat atau lambat, tapi ia tetap melakukannya berulang kali.

Ia tahu, di saat seperti ini, ia harus segera mencari sumber motivasi agar terhindar dari pekerjaan paling hina di muka bumimembuang-buang waktu. Telepon dari ayahnya tidak memberikan suntikan semangat yang menggebu-gebu, malah semakin terasa menyebalkan di telinga. Kata tanya 'kapan' selalu terselip di sela-sela obrolan mereka. Sebetulnya ia ingin mendebat, memberikan argumen yang tidak terlalu logis sebagai pembelaan sekaligus permohonan untuk bisa mengerti kondisinya. Tapi, tentu saja, ia tidak pernah melakukan itu. Ia membiarkan pertanyaan ayahnya masuk ke kepalanya sampai meresap begitu dalam hingga mereka mengetuk relung batinnya supaya kemudian bisa langsung tergerak untuk menyelesaikan hajatnya.

Kalau itu tidak berhasil, seharusnya menonton perayaan teman-teman seangkatannya yang satu per satu sudah mulai menyombongkan diri di sosial media bisa jadi sumber motivasi yang cukup buatnya. Ia bisa melihat senyum kebahagiaan yang terpancar pada setiap foto; ada yang dengan bangganya menyertakan jilidan kertas penelitian, ada yang menenteng buket bunga yang dibeli di Pasar Cikini, ada pula yang berpose dengan sang kekasih, menandakan bahwa si kekasih itu adalah salah satu pendukung sekaligus penyemangat terbesarnya dalam menyelesaikan studinyadan ia tidak pernah bisa mempercayai hal itu. Lebih dari itu, seharusnya ia bisa menyaksikan betapa menyenangkannya berada di antara teman, keluarga, dan orang-orang di sekitar, berfoto bersama sambil mengenakan busana dan riasan aduhai yang entah sejak kapan menjadi bagian dari tradisi warga negara kita.

Sayangnya, hal itu tidak pernah dianggapnya sebagai salah satu elemen penggerak yang nampol. Ia benci segala bentuk perayaan dan sebisa mungkin tidak ingin terlibat di dalamnya. Meski begitu, ia sadar bahwa ini bukanlah perkara merayakan penyambutan tenaga kerja baru yang siap bersaing, ini adalah perihal mencegah orang tuanya mengeluarkan uang untuk institusi tempatnya belajar. Semakin banyak pundi-pundi yang mereka habiskan untuk kebutuhan akademiknya, semakin banyak pula uang yang harus ia kumpulkan sebagai niat membayar utang kepada orang tuanya.

Ketika pikirannya sudah mentok pada hal itu, ia akan berdalih butuh istirahat dan merebahkan diri di atas kasur. Ia kembali melihat sekeliling, kamarnya yang tertata cukup rapi pada hari-hari tertentu, gantungan pakaian yang menjuntai, meja belajar dengan laptop yang menyala, dan dinding semi-kosong tempatnya menggantung kumpulan foto polaroid bersama teman-temannya. Ia masih tidak menemukan apa-apa di sana, hanya cerita dibalik masing-masing gambarnya. Ketika melihat gambar tersebut, ia membawa pikirannya ke waktu ketika foto tersebut diambil. Setahun lalu, dua tahun lalu, tiga tahun lalu, empat tahun lalu.

Dan kekosongan kembali menyelimutinya hingga ia tertidur pulas.


Tangerang, 2018.

Monday, April 16, 2018

Review: Because This is My First and the Wisest K-Drama

berjudul: Because This Is My First Life.

Drama ini adalah rekomendasi dari Dila dan Andi. Nontonnya juga udah lumayan lama, sih, sekitaran bulan November kalau nggak salah. Sebelumnya gue memang pengin nulis ulasan drakor gitu, tapi bingung mau nulis yang mana. Dan, takutnya nanti jadi ulasan panjang-lebar-nan-subjektif kayak drakor Goblin waktu itu. Akhirnya, daripada gue nulis curhatan seorang young adult yang sedang mengalami krisis motivasi untuk menyelesaikan kuliahnya, mending gue nulis ulasan lagi aja.

Sedikit keluar dari topik kita hari ini, alasan gue mau nulis ulasan juga karena waktu itu gue lagi iseng liat daftar drama-drama yang lagi tayang gitu di kissasiancom. Pas klik beberapa, ada satu komentator yang selalu ada di setiap drakor bagus. Dan dia selalu ngasih semacam sinopsis gitu. Gue rasa dia ngebantu banget karena kita kan nggak tau ya gimana dramanya sebelum nonton, kalau ternyata nggak seru sayang aja gitu buang-buang tenaga. Maka daripada itulah, gue jadi pengin ikutan nulis ulasan kayak dia yang agak lebih panjang di sini.

Jadi, drama persembahan tvN ini (gue selalu suka drama-dramanya tvN, selain karena ceritanya, sinematografinya juga bagus) bercerita tentang kehidupan rangorang koreya di usia 20an akhir. Ya, udah masuk 30 awal, sih, sebenernya. Dan di usia ini mereka mulai dihadapkan sama satu masalah kehidupan yaitu: menikah.

Image result for because this is my first life poster
Mz Se Hee dan mb Ji Ho dan Woori (sumber: soompicom)

Ceritanya dibagi tiga, dan diwakilin oleh tiga pasangan. Semuanya masih seputar pernikahan dengan segala tetek-bengeknya masing-masing. Nah, pasangan utamanya di sini adalah mz Se Hee dan mb Ji Ho, dua orang yang nggak saling kenal tapi akhirnya kenal juga karena ya kalau mereka nggak saling kenal ceritanya nggak jalan dong. Mereka ini ketemu karena Ji Ho butuh sewa kamar murah dan Se Hee butuh duit buat bantu ngelunasin rumahnya. Akhirnya, berkat bantuan teman-temannya, mereka pun tinggal bersama (ya tentunya dengan beberapa insiden tambahan).

Awalnya, gue rada skeptis sama awal cerita yang kayak begini. Klise gitu, sih. Tapi berhubung si mz Se Hee ini lucu sekali mukanya (apalagi kalau dia lagi clueless dan kagum gitu), jadi ya kulanjutkan saja nontonnya. Nah, ketika mereka tinggal bareng, dua-duanya ternyata adalah tipe orang yang sama. Se Hee orangnya rapi, bersih, gemar mendaur ulang sampah (entah kenapa gue ngerasa ini di-highlight banget di dramanya, kayak semacam kampanye terselubung untuk selalu memisahkan sampah-sampah yang ada di rumah), dan suka kucing (!!!). Sedangkan Ji Ho punya kebiasaan bebenah dan beberes kalau lagi di rumah (lebih lucu lagi, kalau dia lagi stres nulis, escape-nya justru bebenah, bukan main atau makan atau apalah (seandainya gue juga begitu kalau lagi nulis)). Maka keduanya pada akhirnya dianggap saling menguntungkan.

Karena keuntungan inilah, mereka melihat adanya peluang untuk... menikah.

Ini yang menurut gue bikin ceritanya jadi menarik. Dua orang ini sama sekali nggak pernah punya pikiran untuk menikah, bahkan Ji Ho sama sekali belum pernah pacaran, tapi karena situasi mereka saat itu win-win-solution, ya, kenapa nggak? Konsep gue-menikah-karena-gue-butuh ini dijunjung tinggi oleh mz Se Hee. Setelah ngeliat Ji Ho dan kebiasaan bersih-bersihnya, Se Hee ngerasa bahwa kalau suatu hari dia harus menikah, maka Ji Ho lah pasangan yang tepatdan dibutuhkan. Se Hee yang seorang pekerja butuh orang untuk ngurus rumah (dan kucingnya), sedangkan Ji Ho yang nggak punya rumah butuh rumah dengan harga sewa murah. Walaupun awalnya hal ini sempat ditentang sama Ji Ho yang bilang bahwa orang menikah itu ya karena cinta dan kasih sayang, tapi lama-lama Ji Ho merasa kalau Se Hee ada benernya juga. Dan akhirnya Ji Ho pun nggak keberatan kalau harus menikah sama Se Hee demi bisa tidur dengan aman dan nyaman.

Berhubung drama koreya itu grafik tensi ceritanya adalah naik-turun-naik-turun dengan tajam, maka, setelah satu masalah selesai, muncullah masalah lainnya: mereka pikir menikah itu gampang, ternyata nggak. Walaupun mereka nggak ke KUA (registered tuh ya sama aja kayak ke KUA kan yah?), tetep ada konflik internal antara anak dan orang tua. Tapi bukan masalah restu, sih, karena pada dasarnya umur mereka yang udah 30an memang harus segera menikah. Lebih ke perasaan masing-masing orang tua ngeliat anaknya menikah.

Gue paling suka bagian ibunya Ji Ho ngasih surat ke Se Hee sebelum acara resepsi pernikahan dimulai. Isi suratnya cuma sedikit nyeritain Ji Ho sebagai anak perempuan satu-satunya, dan permintaan ibunya Ji Ho ke Se Hee untukquoted"...if she ever wants to write again in the future, please don't let her give up on her dream." Selain itu, yang bikin sedih adalah, walaupun pernikahannya bohongan, walaupun mereka haiqul yaqin pernikahan ini bisa dilewati dengan mudah, ternyata realitanya nggak begitu. Ji Ho yang bilang nggak bakal nangis, akhirnya nangis juga. Karena ya gimana ya, namanya nikah pasti kan ada sedih-sedihnya (maksudnya sedih karena udah lepas dari orang tua (eh tapi ogut belum ngerasain rasanya nikah jadi pernyataan ini tidaklah valid))meskipun dalam kasus ini nikahnya bohongan.

Sisa ceritanya jauh lebih seru lagi. Ide tentang pernikahan yang dijalani sama Se Hee dan Ji Ho mulai kabur seiring perasaan cinta dan kasih sayang yang mulai muncul (ya gimana nggak baper kalau tiap hari ketemu terus di rumah plus, dua-duanya adalah tipe orang yang sama). Mereka pun jadi mempertanyakan lagi segala sesuatunya: apa iya menikah bisa murni cuma untuk memenuhi kebutuhan masing-masing (rumah dan ngurus rumah)? Apa iya menikah itu cuma buat nyari keuntungan aja? Apa iya menikah itu nggak perlu pakai embel-embel cinta?

Image result for because this is my first life


Nah, selain cerita mz Se Hee dan mb Ji Ho, ada juga cerita dua pasangan lainnya: Won Seok - Ho Rang dan Sang Goo - Soo Ji. Dua pasangan ini juga masalahnya nggak jauh-jauh dari pernikahan. Won Seok dan Ho Rang udah pacaran selama tujuh tahun (busyet) tapi belum nikah-nikah juga. Si mb Ho Rang sebenernya udah ngebet dan siap banget untuk menikah dan jadi ibu rumah tangga (karena itu impiannya). Sayangnya si mz Won Seok ini ngerasa bahwa dia belum financially stable untuk bisa menjamin Ho Rang di kehidupan rumah tangga nanti. Rumahnya aja di rooftop, kerjaannya belum terlalu mapan. Akhirnya terjadilah konflik antara dua orang ini dan mereka pun berusaha untuk menyelesaikannya.

Pasangan yang lainpasangan yang paling gue sukaadalah Sang Goo dan Soo Ji. Sang Goo suka sama Soo Ji, dan mau serius sama dia. Tapi Soo Ji yang seorang wanita karir nggak mau terlalu serius dalam suatu hubungan. Sebenernya kalau gue liat, pasangan ini konflik percintaannya nggak terlalu rumit. Justru yang gue suka adalah bagaimana Soo Ji yang cita-citanya pengin jadi bos, harus berakhir sebagai pegawai perempuan di kantor besar dan sering dimanfaatin untuk ngerjain ini-itu. Terlebih lagi karena dia termasuk dalam kaum minoritas, dia sering dilecehkan secara verbal. Nah, mz Sang Goo sebagai lelaki sejati nggak suka ngeliat Soo Ji nerimo aja dilecehkan begitu sama atasannya. Tapi buat Soo Ji, ini sah-sah aja karena, ya mau gimana lagi, gue cuma pegawai bawahan cuy, kalau nggak begini gue nggak akan bisa memertahankan karir gue. Akhirnya terjadilah konflik antara dua orang ini dan mereka pun berusaha untuk menyelesaikannya.

Hm, udah lumayan panjang, ya.

Secara keseluruhan, gue suka drama ini karena ada cukup banyak pemikiran dan pandangan yang nggak jauh beda sama lingkungan di sini (Indonesia). Bagaimana pernikahan jadi sesuatu yang penting banget dibandingkan hal-hal lain, bahkan di zaman modern kayak gini. Ada satu scene waktu Se Hee dan Ji Ho memutuskan untuk nggak bikin acara resepsi. Bapaknya Se Hee menentang ini dan langsung dibales dengan (kurang lebih intinya), "Ayah pengin ada acara resepsi cuma buat nunjukkin ke temen-temen dan keluarga Ayah kalau anak Ayah terdidik dengan baik, kan? Ini cuma alat buat pamer, kan?" Gue pikir ini bener banget, dan di sini pun ada yang kayak begitu. Mungkin bukan masalah mendidik, tapi masalah prestise dan gengsi orang tua. Kalau nggak ada resepsi, entar nggak ketauan kalau udah nikah. Entar diomongin, entar begini, entar begitu. Haaahhh pusing aku.

Loh, kenapa gue yang pusing?

Gue merasa drama ini (mungkin ya) kayak ngasih pandangan baru tentang gimana sih kehidupan orang-orang di zaman sekarang, apa masih bisa terus ngikutin tradisi orang zaman dulu atau nggak. Meskipun pada akhirnya dua pemikiran ini, pemikiran lama dan modern, tetep bisa bertahan dan berjalan dengan baik. Itulah kenapa gue sebut drama ini the wisest.

Selain itu, yang gue suka juga adalah cara Se Hee dan Ji Ho mendiskusikan segala hal yang bersangkutan dengan mereka. Semuanya selalu berdasarkan persetujuan masing-masing dan logika (mungkin karena Se Hee-nya orang IT ya). Gue seneng tiap kali mereka diskusi dan... enak aja gitu ngeliatnya semuanya tuh selalu terencana, rapi, dan ada persetujuan dari dua pihak. Nggak cuma berdasarkan perasaan tapi diliat dari segi kebutuhannya juga.

Oh, satu lagi. Karakter yang paling gue suka di sini adalah siapa lagi kalau bukan mz Se Hee. Sebenernya gue suka cara dia mengekspresikan sesuatu, sihwhich is jarang banget. Mukanya dataaar banget. Mau lagi seneng, lagi sedih, tetep aja datar, walaupun diem-diem dia sebenernya punya cara buat nunjukkin perasaannya. Perkembangan karakternya juga nggak terlalu mendadak kayak drama-drama lain (taulah, yang hari ini bilang saranghae besokannya minta dikejar, terus minggu depan saranghae lagi, besoknya tiap ditelepon nggak dijawab-jawab haaahhh). Mungkin karena pada dasarnya Se Hee ini tipe pendiam, jadi nggak terlalu kentara perubahannya. Kalau karakter yang lain... mungkin si mz Sang Goo karena dia tipe cowok kampret tapi punya rasa hormat setinggi langit sama perempuan. Cara dia nge-treat Soo Ji juga yang bikin lucu, sih, macem Dilan kalau udah tuwir gitu (?)

Demikian ulasan drakor hari ini. Percayalah, gue nulis ini sambil kepikiran skripsi gue yang masih belum gue lanjutin sampai sekarang. Gue bahkan rasanya pengin analisis drama ini buat skripsi, tapi sayangnya aku anak Sastra Inggris, bukan Sastra Korea huhuhu. Baiklah kalau begitu, mari kita sudahi postingan ini dengan segera membuka file skripsi dan melanjutkan penelitian membaca hamdalah. Alhamdulillaah. Ciao!

Sunday, March 4, 2018

Arguing about an Article and the Comments of the Article

Beberapa waktu lalu gue sempat meluangkan waktu gue untuk membaca beberapa artikel seputar kehidupan sehari-hari di sebuah situs yang (sepertinya) berbau equality matters. Yah, tahulah, situs yang berisi artikel-artikel opini tentang perempuan dan juga laki-laki sebagai topik utama dan masalah-masalah sosial lainnya. Intinya situs ini punya banyak artikel yang seru untuk dibaca.

Karena penasaran, gue pun mencoba scroll down timeline Twitter situs tersebut, berusaha mencari artikel-artikel yang sekiranya bisa gue baca. Akhirnya gue menemukan satu artikel tentang membaca. Isinya, setelah gue baca, adalah keresahan (can I say that?) si penulis tentang kebiasaan membaca di lingkungan sekitarnya, khususnya orang-orang yang dia kenal. Di sana dia semacam mempertanyakan bagaimana membaca bisa jadi sesuatu yang nggak dilakukan oleh orang padahal dengan membaca kita bisa mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan.

Ketika gue membaca artikel itu, gue setuju dengan apa yang diutarakannya. Ya sebagai orang yang suka baca, mau nggak mau gue mengiyakan poin-poin yang ia jabarkan. Sampai akhirnya gue iseng baca kolom komentarnya. Dan di situ gue disadarkan bahwa beberapa poin yang ditulis si penulis agak kurang relevan.

Pertama, si komentator bilang kalau si penulis nggak seharusnya menghubungkan minat membaca dengan gelar seseorang. Jadi, di artikel itu si penulis membukanya dengan menceritakan temannya yang udah dapet gelar doktoral, tapi ketika ditanya lo suka baca nggak si teman menjawab nggak. Si penulis kaget (dia nulis dia kaget, bukan gue ngeliat langsung muka si penulis dengan mata melotot dan hidung kembang-kempis), ia pun bertanya-tanya, kok bisa elo yang udah gelar doktoral tapi masih nggak suka baca? Gimana bisa elo dapet ilmu tinggi tapi nggak hobi baca?

Si komentator memermasalahkan ini dengan bilang, nggak ada hubungannya orang yang udah sekolah tinggi dengan hobi membaca. Kalau memang dia nggak suka baca, ya mau diapain lagi. Lagipula si teman yang udah bergelar ini nggak mungkin nggak baca apa-apa selama dia kuliah. Dia pasti baca jurnal-jurnal untuk mendukung tesisnya. Jadi, ketika ditanya suka baca apa nggak, ya wajar kalau dia jawab nggak. Mungkin dia udah enek baca jurnal yang bejibun dan setelah lulus, ini adalah saatnya dia untuk istirahat panjang dari kegiatan membaca.

Gue ngangguk-ngangguk pas baca komentar itu. Si komentator ada benernya juga. Bahkan gue yang anak sastra pun kalau bukan karena tugas atau disuruh dosen untuk baca jurnal-jurnal tai tentang marxisme, feminisme, atau psikoanalisis, mungkin gue nggak akan mau sukarela meluangkan waktu untuk membaca itu. Dan setelah gue baca berlembar-lembar tulisan orang, gue suka ngerasa ah udahlah, capek baca mulu, mau istirahat dulu (iya, gue akuin gue anak sastra yang buruk karena males baca). Jadi gue pikir nggak seharusnya si penulis dengan serta-merta kaget dan bilang, gimana bisa cuy elo udah punya gelar tapi nggak suka baca???

Kedua, si komentator mulai ngebahas membaca sebagai satu-satunya cara mendapatkan ilmu. Dia bilang, ada banyak cara di dunia ini untuk mendapatkan ilmu, pengetahuan, bahkan pengalaman. Exploring the world and the people, watching some videos, or listening to people's experience, itu juga merupakan cara-cara untuk bisa dapet ilmu. Intinya, ilmu nggak cuma bisa didapat dengan membaca doang. Si komentator merasa keberatan dengan klaim si penulis yang satu ini. Bahkan dia sampai bilang kalau si penulis ini terlalu naif untuk menerima kenyataan bahwa di dunia ini ada orang yang nggak menjadikan membaca sebagai hobi atau kebiasaan.

Di sini, gue keberatan dengan si komentator. Memang ada banyak cara untuk mendapatkan ilmu, gue pun mengakui selain membaca gue juga seneng nonton video, gue suka liat gambar bergerak, dan nggak jarang gue lebih paham ketika dijelasin lewat video ketimbang baca teks. Tapi, walaupun cara-cara itu terbukti ampuh, membaca adalah cara termudah, terefektif, dan terbaik (menurut gue) untuk mendapatkan ilmu atau informasi. Gue ngerasain hal itu (walaupun telat). Okelah membaca itu bagi sebagian orang bisa dijadiin hobi yang mana mereka bisa melakukan itu tanpa pressure tapi lebih ke fun. Tapi gue nggak bisa bilang kalau membaca itu nggak penting. Membaca itu penting. Mungkin kalau dari segi isi, itu tergantung minat masing-masing orang. Ada yang suka baca fiksi, non fiksi, sejarah, dan sebagainya. Tapi lebih dari itu, dengan banyak membaca setidaknya lo bisa punya gambaran bagaimana tulisan yang baik dan enak dibaca itu bisa dibuat, yang pada akhirnya akan berguna ketika lo menulis (which is something that everyone in education system will do, right?). Ketika membaca lo nggak cuma sekedar dapet informasi, tapi lo juga melihat bagaimana struktur kalimat disusun dengan baik sehingga lo betah baca bacaan itu.

Gue nggak akan ngomongin artikel pendek ndak jelas yang suka muncul di Line Today (I stopped scrolling down my Line's timeline by the way because it's a waste of time number two setelah nontonin snapgram rangorang). Ya walaupun artikel berita juga layak dibaca, tapi entah kenapa gue ngerasa berita itu sekarang gampang banget diputar-balik. Gue selalu enggan buat nge-klik artikel berita-berita macam detikcom atau kompascom, apalagi yang judulnya memancing rasa penasaran. Gue lebih suka nge-klik tautannya Uda Ivan Lanin karena beliau terlihat muda sekali di avatar Twitter-nya membahas bahasa Indonesia dan tata bahasa yang benar.

Maksud gue tentang membaca itu adalah minimal artikel opini orang-orang tentang sebuah isu atau masalah atau keresahan kayak artikel yang gue baca itu. Biasanya setelah gue baca sampai selesai, gue baru sadar, wah tulisannya rapih. Susunannya bagus, nggak kayak tulisan blog gue. Ada masalah, ada contoh masalah, mempertanyakan masalah, membahas masalah, dan mencari solusi dari masalah. Kurang lebih itu yang suka gue liat ketika membaca. Jadi, selain untuk menyerap isi bacaan, membaca juga bisa jadi latihan untuk menulis.

Dan hal teknis kayak gini gue rasa nggak bisa didapetin dengan jalan-jalan, ketemu orang, ngobrol, atau apalah selain membaca. Membaca itu kayak nonton film, masing-masing orang akan punya experience yang beda setelahnya. Apa yang lo liat belum tentu sama dengan orang lain. Lo bisa punya persepsi sendiri terhadap suatu hal. Lo juga bisa dapet ilmu yang mungkin orang lain nggak nemu. Intinya, menjadikan membaca sebagai suatu kebiasaan itu harus. Apalagi di jaman sekarang di mana informasi apapun, positif atau negatif, bisa langsung kesebar dengan cepat. Semakin banyak lo membaca, semakin lo bisa punya banyak pandangan berbeda, dan lo bisa jadi orang yang objektif dalam melihat suatu masalah. Dengan banyak baca, lo nggak akan terjebak dalam satu sumber yang sama dan berakhir jadi orang yang subjektif (dan orang subjektif biasanya nggak jauh-jauh dari sifat nyebelin).

Kecuali yah, kalau emang situ udah fanatik banget sama satu sumber dan males cari sumber lain, yah, apa boleh buat. Setidaknya situ udah melakukan satu kegiatan yang baik; membaca.
© based on a true story.
Maira Gall