Tuesday, May 9, 2017

Why I Always Look Like I Don't Give A Shit For This Country

I was going to write something about organization, remembering that I just got back from SLET couple days ago. But then I opened my Twitter, read some of tweets from those Indonesian public figures (I don't think I should call them public figure but never mind), and found out that Ahok is being jailed today. Well, to be very honest, I don't really care about it or any kind of our political situation. It's because a) when I was in 8th grade and I did a presentation about politic, I couldn't understand the topic and ended up embarrassing myself for not able to debate about that topic, so I started to hate politic and all things connected to it. And b) karena politik itu jahat banget sejahat-jahatnya orang jahat. Menurut gue politik itu hampir setara dengan membunuh. It can killed yourself, it can killed your friendship, your ideology, your dignity, and so on. So yeah, call me a bad Indonesian for not giving any shit on this country's problems. Karena Capricorn tidak suka terlibat konflik tapi suka menyimak konflik yang ada. Huahaha.

After I scrolled down my timeline, I started to think of myself as a part of this country:

"I've decided to hate our political and other situations for they are so damn wrong and never being done, so, what kind of contribution that I can (or I have) give(n) to my beautiful country?"

Gue sempat menjawab dengan berkarya. Tapi gue langsung sadar bahwa gue belum punya karya yang pantas mewakili Indonesia. Gue berkarya untuk diri gue sendiri, untuk kesenangan gue pribadi. Menggunakan produk lokal, oke, gue akui itu bisa menjadi kontribusi yang sangat besar di bidang ekonomi dan kreatifitas, tapi masalahnya gue jarang belanja barang lokal karena pertama, tokonya kebanyakan online dan gue agak males belanja online dan kedua, mahal. Hehehe.

Terus gue jadi inget essay-nya Jonathan Swift yang dibahas di kelasnya Miss Dhika, tentang ide gila si penulis untuk mengatasi masalah kemiskinan di Irlandia dengan cara menjual setiap anak umur satu tahun untuk dijadikan makanan dan bahan pakaian. Oke, sebentar. Tentunya gue nggak bermaksud untuk ikut melontarkan ide gila gue untuk negara ini seperti yang dilakukan Om Swift, nggak. Tapi yang gue tangkap dari essay itu adalah, itu negara udah bobrok banget cuy pada saat itu (essay-nya keluar tahun 1729) and there was nothing easy to solve that problem. Even if there was something very logical, very easy, and acceptable for everyone (which is very impossible), it would take a long time to resolve the problem. And people didn't have a long time to wait the result of that logical solution. People would running out of patience and I think probably they would get angry at each other and then things would just getting worst.

When we discussed the essay, gue teringat salah satu dosen gue pernah menanggapi satu isu tentang buku cerita anak yang mesum dengan bilang: "Pilihannya cuma dua, seleksi atau menyesuaikan." (Sumpah, gue lupa detail jawabannya apaan. Jadi ini tuh dari grup yang di-cepu-in sama Lutfia, terus di share ke grup gue. Tapi sayang bukti fotonya udah ilang jadi gue agak lupa jawaban si dosen itu kayak gimana. Tapi mudah-mudahan kurang lebih intinya begitu.) Gue menangkap jawaban dosen gue itu adalah, secara garis besar, masalah-masalah di Indonesia nggak akan selesai dengan lo berkoar minta sana-sini untuk mengatasi itu semua. Kalaupun kita pengen bertindak, hasilnya nggak akan sesuai dengan harapan kita karena kita cuma orang biasa yang suka nongkrong di belakang kampus sambil main catur. Oke lah kalau kita adalah seorang yang punya influence tinggi terhadap orang-orang, tapi apakah masalah buku cerita anak itu bakal selesai begitu aja? Face it lah yah, Indonesia itu gampang ke-distract sama satu hal. Lagi ribut ngurusin yang A, tiba-tiba muncul yang B. Yang A belum kelar, tau-tau udah ngurusin yang B. Lagi sibuk nyelesain yang B, yang C malah muncul lagi. Begitu aja terus sampe Dora jadi presiden Spanyol. Jadi ya, ngurusin hal-hal begitu cuma buang-buang waktu dan energi. Daripada begitu, lebih baik urus diri sendiri aja dulu. Kalau tau ada buku cerita anak mesum udah beredar dimana-mana, ya jangan dibeli. Pinter-pinter pilih buku buat anak/saudara/keponakan. Karena percuma juga nge-anjing-anjingin oknum itu kalau kita nggak tau pasti siapa yang bikin. Iya, kan?

Balik lagi ke essay Jonathan Swift, gue melihat situasi yang digambarin Swift hampir sama dengan di Indonesia. We have so much problems here, like, a lot. And things would not getting better if we continuously put the blame on each other, on the government, on some people who we think is the responsible one. No, definitely not. Instead of doing that, why don't we try to bettering ourselves by doing good to everyone we know and everyone we meet. Why don't we try to make ourselves useful for those who need help. Why don't we see everything not only from our own perspectives but also from OTHERS' PERSPECTIVES, so we don't have to become that person who always think he/she is better than the others.

It might be sound selfish, sounds like you don't put so much effort for the country you live in. I do think it is selfish and egoistic, but to be honest, I have nothing more to give for my country. I don't think my thoughts or my speech, or my tweets, or my post on timeline Line, or even this blog post will change Indonesia (I believe those last three things are only to gather people attention and gain some likes or retweets. Don't be so naive, a little part of ourselves would more care about that rather than the purpose to encourage or inform people. Even I did that to myself sometimes). I prefer to start to do something from the closest place I can reach. I prefer to help my friends to study. I prefer to stop using plastic bag not because I want Indonesia to be free from plastic garbage, but simply because I don't want to make myself get used to use plastic bag. I prefer to use public transportation not because I can't ride a motorcycle or car, or I want Jakarta to be free from traffic jam, but simply because it is cheaper and healthier for me. I prefer to not getting involved in many issues in Indonesia because I know I'm not able to give some helps or solutions and also---I don't really care about it.

So why do I have to spend my time and my energy for something that I know would not be affected by my acts, when I'm capable enough to do something for my surroundings and, for myself?

Sunday, March 26, 2017

Anti Urusin Urusan Orang Club

Gue pikir semua orang bakal berubah. Ternyata nggak.

I did think that changes would come to me someday in the future. Walaupun gue sering bermasalah dengan konsep "perubahan", tapi gue sadar bahwa hal itu nggak akan bisa dihindari. Semenjak masuk ke dunia perkuliahan, semuanya jelas berubah. Lingkungan, orang-orang di dalamnya, dan makanan mungkin, semuanya bisa dibilang hal baru. Mungkin karena gue pada saat itu mendukung perubahan ini, bahwa kuliah bakal jadi awal gue membangun kembali semuanya. You know, leaving the past behind and look back only to see how far you go.

But somehow, hidup nggak cuma diisi sama orang normal dengan pemikiran logis dan dewasa. Sejatinya kita hidup dikelilingi banyak orang, dan beberapa di antaranya ada yang bikin hidup kita jadi lucu. Iya, lucu. Lucu karena kelakuan dan pikiran mereka yang diluar akal sehat kita.

Yang bikin lebih lucu lagi, orang-orang itu adalah mereka yang dulu pernah dekat sama kita.

Gue sempat dapet cerita menarik kemarin dari teman gue, Lutfia. Beberapa hari belakangan dia diajak untuk ngumpul sama teman-teman SMA-nya. Perlu dicatat bahwa teman gue ini adalah orang normal dengan pikiran yang logis. Catet nih. Nah, menjelang hari H, mulai diterorlah dia. Dipaksa untuk ikut dateng karena Lutfia udah janji bakal dateng walaupun nggak ikut kegiatan inti nggak berfaedah yang dirancang teman-temannya (baca: arisan). Perlu dicatat lagi bahwa kami, gue dan teman-teman gue, udah mulai diteror untuk ngerjain skripsi bab 1. Satu hal yang selama ini selalu kami bayangkan sebagai sesuatu yang menakutkan akhirnya datang. Tapi nggak menakutkan sih, cuma bikin pengen kayang di Bundaran Senayan aja. Balik lagi. Setelah diajak paksa untuk ikut, teman gue yang berpikiran normal dan logis ini bilang kalau dia mau nyicil bab 1-nya, terlebih karena dia memutuskan untuk ganti bahan dan harus mulai ngetik ulang background-nya.

Ini bagian seru dari orang-orang lucu yang ada di sekitar Lutfia.

Salah dua di antara mereka dengan santainya bilang,

"Ah basi," dan,

"It can wait, dude."

"..."

Walaupun gue seorang procrastinator, tapi denger ada orang dengan seenak pantat ngomong kayak begitu, rasanya pengen jejelin micin setoples biar dia tambah bego. Oke, mungkin gue terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mari kita berusaha untuk membuat mereka tidak terlihat sebagai the bad guy-nya. Pertama, mungkin mereka nggak tau apa itu skripsi. Mungkin mereka tau ejaannya tapi nggak tau apa definisinya. Ini bisa aja terjadi sama orang yang belum sampai ke jenjang bikin skripsi. Which leads us to kemungkinan yang kedua, mereka belum mulai skripsi karena kuliahnya berjalan lambat. Kenapa bisa terlambat? Penyebabnya ada di poin ketiga, terlalu banyak menghabiskan waktu di luar. Makan di restoran unik atau ngopi di kafe lucu, yang ujung-ujungnya bakal jadi tai juga (makanannya, bukan restorannya).

Nah, poin-poin di atas bisa menghasilkan sebuah research question berbunyi:

"Bagaimana orang bisa dengan hebatnya ngurusin hajat hidup orang lain, sementara hidupnya sendiri sedang butuh perhatian?"

Balik ke temannya Lutfia, menurut gue, menyarankan seseorang untuk melakukan atau nggak melakukan sesuatu itu udah termasuk "ngurusin orang lain". Dia cuma temen lho, bukan orang tua atau kanjeng ratu yang biayain uang kuliah Lutfia. Kok bisa ada orang mau maju ke depan terus tiba-tiba ditarik supaya mundur ke belakang? Ini--ah, ini tuh--wah gila sih. Gue udah nggak tau mau ngatain pake kalimat apa lagi. Kalau ada orang yang nggak tau apa-apa tentang gue yang sekarang, dan tiba-tiba dateng terus langsung ikut campur sama urusan gue padahal dia juga punya kehidupan yang harus dia urusin, gue rasa orang itu punya masalah yang harus segera dia atasi.

***

Awalnya gue menganggap ini cuma masalah perbedaan lingkungan yang bisa bikin seseorang melakukan sesuatu diluar paham yang lingkungan kita anut. Tapi setelah gue pikir-pikir, kalaupun lingkungannya beda, kita punya... apa ya istilahnya, sesuatu yang kita sepakatin bersama sebagai sesuatu yang normal. Nggak mau ikut nongkrong dan lebih memilih untuk ngerjain skripsi itu adalah normal. Normal banget. Di sini kita justru malah nemuin yang sebaliknya. Berarti perbedaannya udah bukan di lingkungan lagi, melainkan di logikanya.

Kita mungkin bisa menerima logika temannya Lutfia kalau kita masih SMA. Kita belum punya banyak pengalaman dan cerita-cerita menarik dari orang-orang yang belum pernah kita temuin. Masalah di SMA cuma berkutat sama UN dan cinta-cintaan. Skripsi nggak ada di dalamnya. Bayaran kuliah nggak ada di dalamnya. Kerja masih jauh kemana-mana. If she said skripsi itu basi pas kita sama-sama masih SMA, gue akan bilang itu normal.

And then we got into college, met new people, blended in the diversity, heard some new stories from success people, dan hal-hal rumit dan menyenangkan lainnya yang nggak kita temuin di SMA. Seiring dengan perubahan lingkungan dan orang-orang di sekitar, otomatis cara pandang kita juga ikut berubah. Kayak yang gue bilang tadi di awal, perubahan adalah sesuatu yang nggak bisa kita hindari. Hidup kita nggak bisa cuma muter di satu titik doang, harus muter kesana-kemari walaupun jadinya kayak Ayu Ting Ting. But, THAT'S LIFE. You experienced something new, something strange, something unknown, something that you think is good and fun and shaped you to become a better you.

Tapi ternyata nggak semua orang berkesempatan merasakan itu. Atau mungkin, nggak semua orang mau berkesempatan merasakan itu.

Gue pikir semua orang bakal berubah. Ternyata nggak.

I just want to say that, you can't expect the person you used to know to stay the same as you are. People have their own journey, and so you are. Find yours and live with it. Nggak perlulah ngurusin hajat hidup orang yang lingkungannya udah beda sama lo. Nggak perlulah kita ujug-ujug dateng cuma buat eh apa kabar lo dan reminiscing the old times kalau kenyataannya cuma berakhir di postingan Instagram doang. Nggak perlulah jadi sentimen ngeliat orang yang dulu pernah kita kenal udah punya kehidupan sendiri. Bikin punya lo sendiri yang menurut lo seru. Dengan begitu kita nggak perlu memaksakan hidup kita untuk sama dengan orang lain, cukup bagi aja pengalaman kita dengan mereka dan sebaliknya. Kelar deh. Gampang kan?

Wednesday, March 8, 2017

Memikirkan Cita Citata

Percaya nggak percaya, waktu SD gue pernah bercita-cita jadi seorang ilmuwan. Ya, ilmuwan, seseorang yang berilmu tinggi yang biasanya suka nemuin hal-hal baru yang nyeleneh tapi penting juga untuk hajat hidup manusia. Nggak tau gimana gue bisa kepikiran untuk jadi ilmuwan tapi, cita-cita gue selanjutnya sedikit punya asal-usul yaitu: detektif. Siapa sih yang nggak baca komik Detektif Conan, hah? Siapa? Kebetulan kakak gue penggemar berat komik itu dan alhasil gue jadi ikutan baca walaupun gue nggak ngerti ceritanya (setelah dewasa gue sadar ternyata Conan adalah manusia yang tidak masuk akal dengan proporsi tubuhnya yang seemprit itu, dan dengan cara dia ngumpet dibalik badan Kogoro tiap mau mecahin kasus yang kalau dilihat lebih dalam lagi MASA IYA NGGAK KELIATAN SIH ADA ANAK SEGEDE ITU DI BELAKANG SI KOGORO???). Tentunya gue nggak melanjutkan keinginan untuk jadi detektif karena semakin dewasa gue semakin tau kalau di Indonesia pekerjaan detektif kurang eksis. Tapi gue berkesimpulan bahwa cita-cita bisa muncul dari apa yang kita lihat. Kalau seandainya dulu gue lebih memilih untuk nonton Mendadak Dangdut-nya Titi Kamal, mungkin cita-cita gue pada saat itu adalah penyanyi dangdut.

Mulai memasuki SD kelas--entah kelas berapa pokoknya gue udah ketemu Andi dkk, gue mulai diperkenalkan sama dunia novel. Waktu itu kalau nggak salah Andi lagi senang-senangnya baca Kambingjantan yang dia yakini lucu abis. Gue sempat baca tapi nggak sampai habis, tapi mulai saat itu gue jadi suka beli-beli novel komedi semacam Jomblo (ya, waktu itu gue belum tau kalau itu novel dewasa) dan Jomblo Narsis. Entah kenapa waktu SD topik jomblo sangatlah lucu dan menyenangkan, bahkan sempat ada istilah Jomblo Keren, Jomblo Imut, sampai Jomblo-Jomblo Bahagia. Terbukti bahwa menjadi jomblo bukanlah sesuatu yang menyedihkan.

Dulu tema komedi ala-ala Raditya Dika itu jadi andalan banget. Booming se-booming-boomingnya. Tiap ke Gramedia gue selalu nyari novel yang judulnya aneh-aneh kayak Jakarta Underkompor, The Maling Kolor, ada juga Mother Keder (yang menginspirasi gue untuk mengganti nama kontak Nyokap menjadi 'Mother Keder'). Pokoknya seputaran komedi yang dekat sama keseharian. Dari situ, tercetuslah ide untuk ikut mencoba menulis seperti mereka-mereka itu. Gue lupa gimana awalnya, yang gue inget, gue dan Andi punya buku tulis Sidu yang isinya cerita yang akan kita jadikan novel. Ditulis tangan pula. Gue waktu itu nulis tentang tema cinta, mencuri-curi ide sedikit dari novel teenlit yang pernah gue baca. Sedangkan Andi--gue inget banget--nulis novel dengan judul 'Cinta Semen', kepanjangan dari 'Cinta Sementara'. Ya, memang dari kecil selera humor Andi sudah sangat receh sereceh uang receh.

Memasuki akhir masa SD, gue mulai diperkenalkan dengan blog sama Melina. Bermodalkan bikin e-mail dengan nama apapun yang bisa dijadiin alamat e-mail, gue juga ikutan bikin blog. Oh, tentu saja, blog pertama gue isinya aib semua. A i b. Gue barusan nge-search blog lama gue dan sialnya masih ada beserta isi-isinya yang kacau abis. Kalau kalian merasa tangguh dan punya kekuatan lebih untuk iseng nyari link blog lama gue, silakan. Gue nggak melarang. Asalkan kalian masih mau berteman sama gue setelah baca tulisan lama gue. Ya intinya itu. Gue jadi rajin nulis di blog, cerita apapun yang nggak penting sampai yang nggak penting banget, gue tulis di blog.

Pas SMP, gue baru mulai serius ngurus blog. Gue tinggalkan blog lama sialan itu dan mulai menulis ulang di blog baru (blog yang sekarang ini) dengan konten yang lebih berkualitas. Walaupun masih seputar hal-hal keseharian yang tetep nggak penting (apa sih yang penting dihidup kamu, Del?), tapi setidaknya gaya penulisan gue nggak se-alay sebelumnya. Dari SMP, lanjut ke SMA, makin baguslah perkembangan tulisan gue. Bukannya shombonk atau gimane nih, tapi ya kalau dilihat, dari tahun ke tahun, ya selalu ada perubahan dari tulisan-tulisan gue. Tapi ada satu kekurangan dibalik semakin "normal"nya tulisan gue: gue justru jadi jarang nulis. Yang biasanya sehari tiga kali kayak minum obat, lama-kelamaan jadi cuma sebulan sekali.

Oh iya, pas SMP gue juga sempat tertarik sama stop-motion. Tau lah, yang dulu suka dibikin sama Aulion. Gue masih punya beberapa video pendek yang gue buat dengan susah payah sampe nungging-nungging karena harus foto satu per satu gerakan yang pengen ditampilin. Untuk bikin satu video berdurasi satu menit, ngerjainnya bisa sampai satu jam. Ada dua video yang menurut gue nggak jelek-jelek amat yang pernah gue bikin, 'Aku Lulus!' yang dibikin bareng Dinar teman SMP gue, di depan penjara anak, dan yang satu lagi 'The Magic Remote' yang dibikin bareng teman sekelas kelas 10 (Indah, Mutiah, dan Ria). Dari stop-motion itu, minat gue jadi menjalar ke dunia film. Gue jadi seneng liatin video klip-video klip, film-film pendek yang ada di Vimeo (YA, TOLONG YA, KEMBALIKAN VIMEO!!!), dan masih banyak lagi yang berbau perfilman. Di SMA pun gue sempat ikut ekskul Film walaupun nggak gue lanjutin karena... ya... gitu deh... hehehe.

Dua hal yang gue ceritain di atas sampai sekarang masih jadi minat gue. Kembali lagi ke masalah cita-cita, mungkin kalau sekarang gue ditanya mau jadi apa, gue akan jawab sutradara. Ya, memang gue pernah pengen jadi sutradara. Or at least, jadi orang yang pernah bikin film. But still, gue udah nggak lagi mengatagorikan itu sebagai cita-cita. Gue sendiri malah jadi bertanya-tanya, emang apa sih cita-cita itu? Kalau cita-cita adalah suatu hal yang kita inginkan dari kecil, berarti cita-cita gue adalah ilmuwan. Kalau cita-cita adalah suatu hal yang kita pengen itu jadi pekerjaan kita, maka gue akan bilang cita-cita gue jadi koki walaupun gue nggak bisa masak.

Tapi begini, Di umur gue yang sekarang ini, cita-cita mungkin udah bukan hal penting lagi. Apalagi tuntutan zaman yang memaksa lo untuk lupain apa yang lo pengen dan segeralah cari duit sebisa dan sebanyak mungkin untuk bekal berumah tangga nanti. Cita-cita mungkin pada akhirnya cuma jadi cerita lama yang kita ceritain ke anak-anak kita nanti, yang secara nggak langsung mendorong dia untuk ikut bercita-cita juga seperti kita. Beruntung, bagi mereka yang tetap konsisten mengarahkan hidupnya menjadi apa yang mereka cita-citakan sejak kecil. Tapi nggak sedikit juga kan yang nasibnya kayak gue, yang pengen jadi anu karena ngeliat anu, pengen jadi itu karena nonton itu. At the end, yang gue sebut cita-cita ternyata sama sekali bukan apa yang gue pengenin.

Mungkin pada dasarnya konsep cita-cita dibuat supaya si anak at least punya tujuan hidup yang jelas, terlepas dari nanti hidupnya bakal kayak gimana. Dan ketika dewasa, kita sadar bahwa hidup punya banyak pilihan yang kita nggak tau akan menggiring kita ke mana. The option that we think will take us to our cita-cita, ternyata malah menjauhkan. Tapi lucunya, kita justru malah menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik dibandingkan apa yang selama ini kita kira menarik. Ternyata, menjadi penulis yang literally kerjaannya bengong nyari ide, adalah pekerjaan yang menyenangkan dibandingkan bekerja di laboratorium untuk membuat vaksin anti malas. Membuat film terlihat jauh lebih menantang daripada harus menyelidiki kasus perselingkuhan artis ibukota.

Gue pernah denger seorang motivator bilang gini:

"Kalian yang sekarang adalah apa yang kalian pikirkan sepuluh tahun yang lalu."

Setelah gue pikir-pikir, si motivator ada benernya juga. Sepuluh tahun yang lalu, waktu gue umur 11 tahun, gue sempat membayangkan kuliah di jurusan seni. Bayangan gue waktu itu adalah IKJ, dan cowok-cowok berambut gondrong yang kerjaannya nongkrong sambil nyanyi-nyanyi nggak jelas. Daaan sepuluh tahun kemudian, gue sedang kuliah di jurusan yang mungkin bisa dibilang seni tapi bukan di IKJ, dan di sekeliling gue cuma beberapa cowok yang rambutnya gondrong. Ada sih di jurusan lain tapi ya kurang lebih begitulah. Yang terjadi sekarang mungkin nggak percis sama dengan pikiran gue, tapi seenggaknya hampir mendekati: kuliah di jurusan seni. Seni berbahasa. Sastra.

Sekarang kalau ditanya, "Mau ngapain, Del, sepuluh tahun ke depan?" gue belum tau. Tapi kalau kalian tanya, "Mau ngapain, Del, abis nulis postingan ini?" gue akan dengan lantang menjawab,

"Cari research question."
© based on a true story.
Maira Gall