Saturday, March 7, 2015

Way Back Into Home

These last couple days were such a chaotic day. I got fucked up by the public transportation. Well, Alhamdulillah I’m not having a PMS yet so I don’t have to throw out some sarcasms because yes, being sarcastic is tiring sometimes. Capek batin lebih tepatnya.

So, this post is free from any kind of inappropriate words like *******, ********, *******, *******, or anything that can be replaced by (*).

Too much symbols for an unimportant prologue.


It was started on Thursday morning, right after I came out from the station and watched so many people standing near the road. Gue kira mereka nungguin artis lewat karena ya emang nggak biasa aja gitu pagi-pagi pada nongkrong di depan stasiun. My second thought was, pasti ada polisi nih. Kalau ada polisi, orang-orang pasti pada nunggu bus agak ke depan dan bus-bus juga nggak berjejer di depan seperti biasanya. Dan ternyata emang bener lagi ada polisi. Dan ternyata (lagi) orang-orang lagi pada nungguin bus yang gue kira bakalan dateng cepet seperti biasanya (lagi). Gue nunggu cukup lama dan cukup membuat gue sedikit ketar-ketir karena jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang, and my class begin at 8:20. Great. Gue mulai memasang tampang gelisah biar keliatan kayak orang penting mau meeting penting. Yah, padahal mah cuma mahasiswa bau kencur baru empat hari kuliah di semester dua—nggak penting-penting acan. Abisnya sederetan gue yang pada nunggu orang-orang kantoran semua, yang udah panik takut telat masuk kantor. Ya gue ikutan panik ajah sambil tetep dengerin lagu.

Akhirnya bus kopaja gue dateng. And the first chaotic happened. Orang-orang langsung loncat masuk ke dalam bus. Bukan naik lagi, tapi loncat. Dan itu langsung penuh banget bus-nya. Ditambah parah lagi dengan polisi-polisi yang nyuruh bus-nya jalan ke depan. Intinya, gue nggak bisa naik tuh kopaja karena udah penuk sesak banget. 

Gue nunggu lagi, bersama beberapa orang yang juga kurang beruntung seperti gue. Kali ini, gue mulai nunggu agak jauh tapi lebih deket. Nungguin lagi, celingak-celinguk lagi. Sesekali gue mengutuk para polisi yang, duh please banget dong kalau mau kayak begini, kalau mau menertibkan tuh ya mikirin kita-kita gitu lho. Kita yang udah biasa nggak tertib kan jadi repot sendiri. Udah gitu dua hari kemarin nggak tau kenapa bus-bus pada lama banget datengnya. Well I'm actually never went out at that time. Baru di semester dua ini gue kebagian kelas pertama jam 8:20. 

Selanjutnya, bus kedua dateng. Dan gue nggak kebagian lagi. I walked down closer and closer as the buses passed and I got nothing. Baru bus kelima, gue bisa naik. Itupun harus agak jahat dulu sama ibu-ibu yang badannya gue tahan di pintu masuk supaya gue bisa naik. HAHAHA. Maafkan aku, Bu. Dua puluh menit lagi saya ada kelas yang bisa menentukan bagaimana masa depan saya nanti. 

There goes my Thursday morning. 

Kamis kemarin itu adalah hari terpadat di kampus. Semester dua dengan jadwal baru yang lebih... nyebelin. Gue nggak keberatan dengan mata kuliahnya, gue lebih keberatan dengan jadwalnya yang rata-rata pagi semua. Why? Last semester was the best schedule for me because it started at 10. Yah walaupun banyak waktu kosong nungguin kelas, but at least I don't have to wake up early and jumped into the train full of people. 

The next chaotic was greatly surprising me. I got down from my bus (it was around 7 p.m.) and saw a lot of people standing near the road. Then I heard a news that "Ada kebakaran di Tanah Abang, keretanya nggak ada yang bisa lewat ... Iya, ini saya mau ke Manggarai dulu." 

... 

Tau muka datar gue nggak? Oh iya, setiap hari muka gue datar. Ya pokoknya tau muka datar gue? Sesaat si Encim ngomong gitu, gue langsung faceless.  

Ya Allah, mo pindah aja ya Allah ke Serengeti, nemenin singa Afrika migrasi. 

Karena gue bukanlah warga Indonesia tipe mudah percaya, akhirnya gue turun ke bawah buat nanya langsung ke petugas stasiun. Nyampe pelataran, banyak banget orang berceceran (sorry for my words) di depan. Kebanyakan pada lagi pada megang HP and I'm pretty sure, with this modern era, mereka pasti lagi pada update status. God, why you sempet-sempetnya? Di saat seperti ini? Yah, kita mah liat sisi baiknya aja deh. Kalau nggak ada mereka para social-media-ers, orang-orang yang masih di kantor jadi bisa tau dan bisa langsung cari alternatif lain. So, good job, Guys. But not so good, like it's just good

Setelah tau kalau kereta ke arah manapun nggak ada yang lewat, gue nelepon kakak gue yang kebetulan juga naik kereta. Akhirnya gue disuruh naik transjakarta. Walhasil, gue naik lagi ke atas, dan jalan balik ke halte Dukuh Atas. 

The third one started from here. 

Sekedar informasi, semenjak gue naik kereta, gue udah nggak respect lagi sama yang namanya transjakarta. Yes it is easy and fast and cheap, but yet it's also not well coordinate. Maksudnya kayak bus-nya tuh nggak teratur kapan aja adanya, kadang cepet, kadang lama, kadang banyak, kadang dikit. And this is what happened at Harmoni while I waited for the bus. Manusia-manusia udah berdiri desak-desakan nungguin bus. Gue udah mulai puyeng ngeliat banyak orang. Satu jam gue nungguin di situ and people were getting mad. Like, really mad. Ada ibu-ibu di antrian mau ke PGC, teriak-teriak—mungkin karena udah kelamaan nunggu, "PGC mana ini?! Daritadi nungguin nggak dateng-dateng!" Begitu terus tiap ada bus lewat depan dia tapi ternyata bukan yang ke PGC. Bapak-bapak juga mulai histeris, mukul-mukul pintu, depan gue Kokoh-kokoh ngomporin yang lagi pada marah, beberapa orang mulai foto-foto suasana halte, dan gue sebagai penikmat drama cuma ngeliatin sekitar aja sambil ngebayangin adegan yang lebih seru. Kayak, tiba-tiba ada yang nyautin si Ibu dan bilang jangan marah-marah. Terus si Ibu-nya marah balik, terus akhirnya mereka berantem di tengah-tengah dan para petugasnya mindahin pembatas antrean dan bikin ring tinju.  

Hiburan orang Indonesia banget. 

Jam 9 bus gue baru dateng dan untungnya gue berdiri di deket AC, jadi nggak puyeng-puyeng amat. Oh iya, bus-nya nyetel radio Delta. Dan di antara lagu-lagu yang diputar, ada lagu Way Back Into Love-nya Hugh Grant sama Haley Bennett. At that time, I just got realized the lyrics were... so me, if you know what I mean. Well yeah, it's funny how you get so tired but at the same time you can focus on something that is actually not very important but no, it is important for me because it was the song that I knew when I was 6th grade and I sang it by myself as a duo. And after years, I finally know what is the song about. It is about... finding a way back into love (((MASA SIH, DEL???))) Ya intinya gitu deh. 

Back to our topic. 

Keesokan paginya, di jam yang sama, lagi-lagi mesti rebutan kopaja. Kalau begini, kalau emang jam-jam segitu susah dapet bus, mendingan gue... tetep berangkat jam segitu karena gue nggak mampu kalau harus berangkat lebih pagi. Kalau berangkat siangan itu namanya bunuh diri pelan-pelan. Kelas pertamaku kelas kemahiran semua, Mz. Ku tak bisa melewatkannya, Mz. 

We—me and six other gals—spent time at Roti Bakar Eddy after class. Like, finally. We've been craving for this for a whole last semester. Dan seperti yang sering terjadi di alam semesta, yang udah dibayangin enak banget, ternyata nggak enak-enak banget. Biasa, ekspektasi versus realita. Tapi kalau menurut gue itu karena rotinya kegosongan aja sih. And too much cheeses. But still, it is better than Roti Bakar 88. No, mine is better walaupun cuma pake meses dan keju dan secangkir kopi. 

Wait. I wrote another topic on another topic on another topic. That's rare karena selama beberapa minggu terakhir gue cuma bisatulis-hapus-tulis-hapus terus saking nggak ada ide (dan niat) buat nulis. Mari kita ucapkan Alhamdulillah. 

So the last problem was my train got stuck in Manggarai. Pas banget abis gue salat, kereta selanjutnya nggak dateng-dateng. Ternyata ada masalah sinyal. Ada Encim-encim di sebelah gue yang ngedumel kesel gara-gara keretanya nggak dateng-dateng. Mungkin dia lelah, atau mungkin dia lagi PMS. Anything is possible. Gue... ya seperti gue sebutkan dia awal, untungnya gue lagi nggak dalam masa PMS. Jadi yah, gue berkesempatan untuk baca novel yang gue download di HP sekitar dua bulan yang lalu dan belum gue baca. Entah kenapa minat baca lagi menurun. Gue lebih banyak menghabiskan malam gue dengan duduk diam dengerin lagu daripada baca buku. Ah, sebagai anak sastra aku merasa gagal. Gagal. Gagal tuh yang lagi rame di TV. 

ITU BEGAL. 

ELAH. 

I went home last night at 9:30 and sooooooooooooooooooooooooooooooo fuckin tired. I'm tired in here, and here (the first "here" refers to my body, and the second "here" refers to—). Tapi emang dasar ya, abis mandi, keramas, seger, eh nongkrong lagi depan laptop, nulis tiga paragraf pertama dari post ini. Gimana? Penulis sejati banget nggak gue? 

I was going to ended this post with Way Back Into Love's lyrics but, I think it's not gonna be a great epilogue. So... let's just cut this with... with... auf wiedersehn? Oh iya, itu selamat siang. Kalau begitu, gute nacht, gute-gute people! 

No comments

Post a Comment

© based on a true story.
Maira Gall