A Review for
Showing posts with label A Review for. Show all posts

Thursday, April 11, 2019

Ngomongin Film: Comet



Oke, judulnya Comet (2014). Protagonis kita, Dell, adalah seorang cynical yang sebenarnya dari awal udah terlihat kalau dia nggak percaya sama cinta. Sementara Kimberly, adalah seorang--I quoted--a quick-witted person yang seperti perempuan pada umumnya, selalu ingin kepastian.


At least that's what I get from my fifth or sixth watch. Awalnya gue suka film ini karena tone warna yang dipakai dan selalu berubah-ubah sesuai kondisi dua orang ini. A pinkish when they first met, blue when they had their first big fight, a warm yellow when they met again after a long time. Gue pun baru menyadari perubahan warna setelah nonton yang keempat kalinya. Ditambah juga waktu itu skripsi gue tentang warna juga jadi yaudah, sekalian bikin analisis aja. Dan makes sense kok. Gue juga masih belum paham betul ya gimana warna dalam film bisa bekerja ke psikologi penonton. Menurut gue itu cuma sekadar elemen pendukung yang works banget buat ngebangun perasaan penonton. Well, setidaknya itu yang gue rasakan tiap nonton film yang warna-warnanya menonjol banget.

Selain warna, gue juga suka sama pengambilan gambarnya yang agak-agak seperti Wes Anderson. Gue nggak terlalu minat ngeluangin waktu untuk browsing sutradaranya jadi ya gue nggak akan bilang ini termasuk director's style. Tapi sama kayak warna tadi, gambar-gambar di film ini jadi bikin ceritanya lebih dramatis sepertinya. Mungkin kalau gambarnya biasa aja, atau warnanya juga standar film pada umumnya, penonton tetep bisa ambil kesimpulan dari setiap adegan yang dikasih. Cuma buat gue yang suka banget hal-hal berbau visual, ini jadi elemen yang ngena banget dan ngebantu untuk gue lebih into sama ceritanya.

Comet-movie

Memorable Quotes from the movie 'Comet' 2014 |Justin Long|Emmy Rossum|Sam Esmail | Tribe Of Nirvana.

"So me leaving you constitutes your world blowing up?" "Yes. It does, actually." Comet, dir. by Sam Esmail

Itu soal teknis. Dari segi cerita, gue suka plotnya yang loncat-loncat, persis film 500 Days of Summer tapi nggak seribet itu. Kalau kalian pinter dan nggak kayak gue yang baru ngeh sama urutan plot aslinya setelah nonton kedua kali, bisa langsung ketebak kok bagian-bagiannya. Dan sekali lagi, this is my personal interest too. Gue suka film yang plotnya berantakan kayak dua film itu dan Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Mungkin karena ceritanya juga bisa didukung dengan plot yang loncat-loncat itu, karena semua film yang gue sebut tadi ceritanya tentang pasangan yang ketemu, putus, kemudian ketemu lagi untuk resolve hubungan mereka.

Oke, gue mencoba untuk nggak menggebu-gebu ketika nulis ini hahaha.

Oh, gue baru inget. Di YouTube ada yang ngebahas soal doomed romance (<< it's clickable). Mereka pake contoh filmnya 500 Days of Summer. Intinya, cerita romance yang as we know bittersweet, or not having the girl and the boy together and lived happily itu sebetulnya bermaksud untuk ngebangun karakter si protagonis. "The doomed relationship represents a different type of goal that the characters are trying to attain. A goal they didn't even know they were headed for. Perhaps not the goal they would have wanted but the one they needed. A lesson ... for an important internal discovery, their own personal growth." You can see how they discussed Tom's character in 500 Days of Summer, but here, let me talk about what I see from Dell's character.

The cynical Dell has struggle to believe that relationship does work. And then he meets Kim and he falls in love and wants to be in a relationship with her. This is sound confusing for me up until now because Dell says he always anxious about what happens five minutes from now. He can't get rid those negativity he has until he met Kim, who's in Dell's eyes, seems to be able to understand and accept all of his flaws. But then their biggest fight come in and we get to know that Dell still can't believe with love. "Of course I love you," said Dell as he kneed down in front of the bathroom door, Kim was in there. He held the ring, ready to propose until Kim said--what then feels like the truth, "It never sounds real when you say it."

Ah, shit, this movie is so hard to be analyzed but I love it so much. Oke, sorry, gue udah janji untuk nggak menggebu-gebu. Oke. Gue agak bingung juga gimana jelasinnya karena plotnya kan loncat-loncat, kalau gue ceritain in chronological order jadi aneh. Oke, intinya adalah balik lagi ke karakter si Dell setelahnya. Bagaimana dia insist untuk balikan sama Kim, and succeeds, lalu putus lagi tapi kali ini dia sendiri yang mutusin. After all that shit, Dell cuma pengen membuktikan bahwa apa yang ia percaya, apa yang ia takutkan about relationship, ternyata bener. He just wanted to make sure his fear over commitment because it can hurt him, is obviously true.

But then we see him at the end of this parallel universe, meeting Kim again after a long time, by the urge of his dreams. The dreams that somehow we see as a complete movie. The dreams that at the end is just a parallel universe that only Dell can live in karena dia masih yakin kalau semua yang dia lakuin ini pasti bener, termasuk usaha terakhir untuk ngedapetin Kim lagi. Dan ternyata the reality hits him and he doesn't even know it's coming. Ternyata Dell nggak selalu benar. Dia mungkin pintar, dia mungkin benar, tapi selama ini dia menghilangkan kesempatan yang ada. Ketika dia mulai yakin bahwa "oh this is love, I can't live without it, I can't live without Kim"... duar. It's too late.

Ini gue nulis atau ngaca ya hahahahaha hahaha haha ha hhhhh...

Ending-nya tentu saja ngegantung dan terbuka banget. Dan menurut gue (yang by the time writing this post udah nonton tujuh kali) ini semua cuma mimpinya Dell dan di akhir film kita kayak ikutan kebangun dari mimpinya. The whole movie is trying to perceive how the character develops. We get to know his belief, we get to know how he maintain his belief in a relationship and conflict, and we get to know how his belief changes. Menurut gue film ini berhasil membawa topik doomed romance tadi karena di akhir gue bisa lihat ada pelajaran untuk si protagonis, sesuatu yang sebenernya nggak diharapkan tapi jelas dia butuh. Ada kepercayaan yang akhirnya dia patahkan sendiri berkat pengalaman atau perjalanan yang selama ini dia jalani. With the relationship with Kim, he finds himself wrong at the end as he finds himself that he believes in love.

Sunday, July 15, 2018

Honest Review: Si Wesel Pos yang Agak Sombong

Jadi waktu itu dalam rangka menghabiskan sisa uang jajan bulanan, saya ke Gramedia dan berniat membeli dua buah buku sekaligus. Setelah bolak-balik di sepanjang rak sambil garuk-garuk dagu (biar terkesan intelek), saya akhirnya membeli buku kumpulan cerpennya Budi Darma yang paling terbaru, Hotel Tua, dan sebuah buku kecil imut dan tipis berjudul Wesel Pos.

karya mb Ratih Kumala.

Kebetulan pas saya keliling cari-cari buku yang menarik, buku Wesel Pos ini punya sampul yang lumayan menonjol dibandingkan buku-buku yang lain. Ya nggak tau sih, ya, apa kekuatan visual saya segitu murahnya, tapi menurut saya sampul model begitu bisa dimasukkan ke dalam katagori bagus. Karena nggak mau ketipu sama sampul, saya coba baca sinopsis di belakangnya. Lumayan menarik. Ceritanya tentang seorang yang pindah ke Jakarta dan apakah dia bisa bertahan hidup atau nggak. Dari komentar-komentar yang dicantumkan—yang salah satunya dari penyair terkenal—saya jadi tahu kalau cerita ini dibawakan oleh sebuah benda bernama wesel pos. Saya tertarik sama itu. Dan langsung saya beli aja buku tipis seharga 50 ribuan itu.

Sampai rumah, saya langsung baca yang Wesel Pos itu. Karena bukunya tipis ya jadi agak semangat bacanya. Di bab pertama, saya langsung disuguhi perkenalan oleh si Wesel Pos. Menurut saya paragraf pertamanya itu kayak Wikipedia tapi dengan subjek aku. Setelah si Wesel Pos memperkenalkan wesel pos di Indonesia, dia langsung ngomongin satu orang yang masih menggunakan jasanya, yaitu Elisa, si protagonis kita. Kalau boleh saya tembak langsung, jujur saya keganggu dengan si narator alias Wesel Pos, yang bisa tahu segala sesuatu di luar kehidupan dia. Wesel Pos tahu Elisa masih menggunakan jasanya untuk menerima uang dari kakaknya yang ada di Jakarta, itu masih masuk akal. Tapi ketika dia tiba-tiba ngejelasin, “Elisa sendiri tinggal di Purwodadi. Kalau mau kemari, kamu harus naik pesawat dulu ke Semarang. Setelah itu, cari bis menuju Purwodadi,” saya jadi ngebayangin si Wesel Pos ini pernah naik pesawat keliling Indonesia. Terlalu manusiawi. Nggak ada batasan seberapa jauh benda yang dijadikan narator ini tahu kejadian di sekitarnya.

Di bab-bab selanjutnya nggak kalah ajaib. Wesel Pos bisa tahu: kejadian yang terjadi ketika si Wesel Pos lagi nggak ada di dekat Elisa, sejarah Elisa dan kakaknya yang memutuskan berangkat ke Jakarta (yang berarti pada saat itu wesel pos belum digunakan), isi pikirannya Elisa, dan bahkan isi pikiran orang lain selain Elisa. Saya bisa terima kalau Wesel Pos bisa menjelaskan kejadian ketika dia ada di kantong jaket Elisa, atau tergeletak di meja, atau di mana aja yang bisa kelihatan. Saya juga bisa terima kalau wesel pos bisa tahu isi pikiran Elisa tapi dengan batasan sebagai benda mati. Kalimat “Elisa pikir, Fahri tinggal di rumah yang posisinya rata di tanah. … Tetapi dugaan Elisa salah,” terlalu ajaib untuk sebuah wesel pos bisa tahu sampai sedalam itu. Kecuali kalau si Wesel Pos cuma bisa nebak-nebak apa yang dia “lihat”. Atau mungkin menjelaskan dugaan wesel pos itu sebagai dugaan dia sendiri: “Dari raut wajah Elisa, aku bisa merasakan bahwa ia tidak menyangka akan dibawa ke sebuah gedung tinggi dengan deretan pintu dan berbagai macam pakaian menggantung di pinggir balkon."

Masih di bab yang sama, karena udah mulai berasa naratornya orang ketiga di luar cerita, saya kira memang akan seterusnya sampai selesai begitu. Si Wesel Pos yang hebat ini bakal tahu segala sesuatu yang terjadi di sekitar Elisa tanpa harus menempatkan dirinya sebagai benda mati. Taaapiii, tiba-tiba di satu adegan si Wesel Pos muncul lagi! Ceritanya Fahri, teman kakaknya Elisa, masih nggak percaya ada orang yang masih pakai jasa wesel pos. Sebelum Elisa menjelaskan ke Fahri, si Wesel Pos tiba-tiba angkat suara, “Hey! Jaga mulutmu anak muda! Aku ini lebih tua dari kamu! Sejak jaman Belanda masih jadi tuan meneer di negeri kita, sampai sekarang kita punya presiden yang doyan rock band, aku tetap eksis. Tuh kan… kamu bikin Elisa sedih dengan ucapanmu.”

...saya pengen udahan baca tapi langsung inget harga bukunya. Hhh.

Jujur waktu baca bagian itu saya sempat kaget. Loh eh, leh oh, kok si Wesel Pos muncul lagi? Kirain tadi udah resmi jadi orang ketiga. Ternyata nggak. Selain tahu segalanya, wesel posnya agak sombong, ya. Hahaha.

Setelah Elisa menjelaskan alasan kenapa dia masih pakai wesel pos, si Wesel Pos lanjut ngomong lagi ditambah sound effect tepuk tangan yang ditulis nggak kayak suara tepuk tangan: “Keprok-keprok!” Dan di penjelasan selanjutnya Wesel Pos mulai ngasih sedikit ilmu tentang penggunaan wesel pos di jaman sekarang. Sebuah informasi yang dikemas dalam enam baris yang kemudian ditambah sedikit filosofi tentang perubahan; bahwa “…perubahan adalah keniscayaan, tetapi bersedia pada fungsi yang hakiki adalah prinsipku…” Daebak!!!

Setelah itu yaudah, saya lanjut baca dengan menerima bahwa satu buku ini diceritain sama sebuah wesel pos yang kadang ada kadang tiada. Ceritanya tetep berjalan dengan… baik. Ya intinya sih memang cuma nyeritain orang kampung yang nekat ke Jakarta, terus sampai di sana ternyata kena sial, abis kena sial ternyata ditolong sama orang baik, abis ditolong dia menemukan fakta baru tentang kakaknya, abis itu dia mulai membuat rencana baru dengan teman kakaknya, abis itu dibalik kebaikan teman kakaknya ternyata ada sebuah keburukan, dan pada akhirnya keburukan itu bikin teman kakaknya “kalah” di Jakarta.

Di bagian akhir, saya berharap ketemu si Wesel Pos lagi. Dan ternyata bener aja, doi muncul lagi. Ceritanya dia terbang entah kemana, ikutan “kalah” kayak Fahri. Tapi, entah ini perasaan saya doang atau emang paragraf terakhirnya nggak “wesel pos” banget. Ya oke, mungkin penulisnya mau tetep bawa suasana Jakarta, dan bagaimana ironisnya kehidupan di sana. Tapi… this book is called Wesel Pos. Saya pengen keironisannya Jakarta dilihat dari mata wesel pos, bukan penulisnya. Eh iya, mungkin karena wesel posnya udah terbang kali, ya, jadi naratornya langsung diambil alih sama penulis. Hmm, kalau begitu, kenapa nggak dari awal aja si penulis yang jadi naratornya???

Baiklah, mungkin itu saja yang bisa saya tulis mengenai novelet Wesel Pos. Novel tipis seharga 50 ribuan ini menurut saya punya cerita yang sederhana—dalam artian ya emang begitu doang ceritanya, tentang seorang perempuan yang nekat ke Jakarta untuk mencari tahu apakah dia orang sakti atau orang sakit. Diceritakan langsung oleh benda yang bisa tahu segalanya dan hey, sampai sekarang aku masih eksis tauk! yaitu wesel pos, cerita ini membuat para pembaca menganggap bahwa benda mati bisa jadi sudut pandang atau narator yang baik. Padahal nggak. Tapi kalau ngomongin penulisnya, saya baru tahu kalau mb nya penulis Tabula Rasa dan Gadis Kretek, which I have not read yet. Menurut review di goodreads, salah dua novel mb nya itu emang bagus dan layak dapet penghargaan ketimbang novel yang terakhir ini. Sayangnya saya malah kebagian baca novel ini duluan, jadi keburu ancur selera saya. Mungkin kalau ada kesempatan saya akan coba baca buku-buku sebelumnya sebagai bahan perbandingan.

Ya kalau sempet aja, sih.

Beneran tipis dan 50 ribuan kan...

Monday, April 16, 2018

Review: Because This is My First and the Wisest K-Drama

berjudul: Because This Is My First Life.

Drama ini adalah rekomendasi dari Dila dan Andi. Nontonnya juga udah lumayan lama, sih, sekitaran bulan November kalau nggak salah. Sebelumnya gue memang pengin nulis ulasan drakor gitu, tapi bingung mau nulis yang mana. Dan, takutnya nanti jadi ulasan panjang-lebar-nan-subjektif kayak drakor Goblin waktu itu. Akhirnya, daripada gue nulis curhatan seorang young adult yang sedang mengalami krisis motivasi untuk menyelesaikan kuliahnya, mending gue nulis ulasan lagi aja.

Sedikit keluar dari topik kita hari ini, alasan gue mau nulis ulasan juga karena waktu itu gue lagi iseng liat daftar drama-drama yang lagi tayang gitu di kissasiancom. Pas klik beberapa, ada satu komentator yang selalu ada di setiap drakor bagus. Dan dia selalu ngasih semacam sinopsis gitu. Gue rasa dia ngebantu banget karena kita kan nggak tau ya gimana dramanya sebelum nonton, kalau ternyata nggak seru sayang aja gitu buang-buang tenaga. Maka daripada itulah, gue jadi pengin ikutan nulis ulasan kayak dia yang agak lebih panjang di sini.

Jadi, drama persembahan tvN ini (gue selalu suka drama-dramanya tvN, selain karena ceritanya, sinematografinya juga bagus) bercerita tentang kehidupan rangorang koreya di usia 20an akhir. Ya, udah masuk 30 awal, sih, sebenernya. Dan di usia ini mereka mulai dihadapkan sama satu masalah kehidupan yaitu: menikah.

Image result for because this is my first life poster
Mz Se Hee dan mb Ji Ho dan Woori (sumber: soompicom)

Ceritanya dibagi tiga, dan diwakilin oleh tiga pasangan. Semuanya masih seputar pernikahan dengan segala tetek-bengeknya masing-masing. Nah, pasangan utamanya di sini adalah mz Se Hee dan mb Ji Ho, dua orang yang nggak saling kenal tapi akhirnya kenal juga karena ya kalau mereka nggak saling kenal ceritanya nggak jalan dong. Mereka ini ketemu karena Ji Ho butuh sewa kamar murah dan Se Hee butuh duit buat bantu ngelunasin rumahnya. Akhirnya, berkat bantuan teman-temannya, mereka pun tinggal bersama (ya tentunya dengan beberapa insiden tambahan).

Awalnya, gue rada skeptis sama awal cerita yang kayak begini. Klise gitu, sih. Tapi berhubung si mz Se Hee ini lucu sekali mukanya (apalagi kalau dia lagi clueless dan kagum gitu), jadi ya kulanjutkan saja nontonnya. Nah, ketika mereka tinggal bareng, dua-duanya ternyata adalah tipe orang yang sama. Se Hee orangnya rapi, bersih, gemar mendaur ulang sampah (entah kenapa gue ngerasa ini di-highlight banget di dramanya, kayak semacam kampanye terselubung untuk selalu memisahkan sampah-sampah yang ada di rumah), dan suka kucing (!!!). Sedangkan Ji Ho punya kebiasaan bebenah dan beberes kalau lagi di rumah (lebih lucu lagi, kalau dia lagi stres nulis, escape-nya justru bebenah, bukan main atau makan atau apalah (seandainya gue juga begitu kalau lagi nulis)). Maka keduanya pada akhirnya dianggap saling menguntungkan.

Karena keuntungan inilah, mereka melihat adanya peluang untuk... menikah.

Ini yang menurut gue bikin ceritanya jadi menarik. Dua orang ini sama sekali nggak pernah punya pikiran untuk menikah, bahkan Ji Ho sama sekali belum pernah pacaran, tapi karena situasi mereka saat itu win-win-solution, ya, kenapa nggak? Konsep gue-menikah-karena-gue-butuh ini dijunjung tinggi oleh mz Se Hee. Setelah ngeliat Ji Ho dan kebiasaan bersih-bersihnya, Se Hee ngerasa bahwa kalau suatu hari dia harus menikah, maka Ji Ho lah pasangan yang tepat—dan dibutuhkan. Se Hee yang seorang pekerja butuh orang untuk ngurus rumah (dan kucingnya), sedangkan Ji Ho yang nggak punya rumah butuh rumah dengan harga sewa murah. Walaupun awalnya hal ini sempat ditentang sama Ji Ho yang bilang bahwa orang menikah itu ya karena cinta dan kasih sayang, tapi lama-lama Ji Ho merasa kalau Se Hee ada benernya juga. Dan akhirnya Ji Ho pun nggak keberatan kalau harus menikah sama Se Hee demi bisa tidur dengan aman dan nyaman.

Berhubung drama koreya itu grafik tensi ceritanya adalah naik-turun-naik-turun dengan tajam, maka, setelah satu masalah selesai, muncullah masalah lainnya: mereka pikir menikah itu gampang, ternyata nggak. Walaupun mereka nggak ke KUA (registered tuh ya sama aja kayak ke KUA kan yah?), tetep ada konflik internal antara anak dan orang tua. Tapi bukan masalah restu, sih, karena pada dasarnya umur mereka yang udah 30an memang harus segera menikah. Lebih ke perasaan masing-masing orang tua ngeliat anaknya menikah.

Gue paling suka bagian ibunya Ji Ho ngasih surat ke Se Hee sebelum acara resepsi pernikahan dimulai. Isi suratnya cuma sedikit nyeritain Ji Ho sebagai anak perempuan satu-satunya, dan permintaan ibunya Ji Ho ke Se Hee untuk—quoted—"...if she ever wants to write again in the future, please don't let her give up on her dream." Selain itu, yang bikin sedih adalah, walaupun pernikahannya bohongan, walaupun mereka haiqul yaqin pernikahan ini bisa dilewati dengan mudah, ternyata realitanya nggak begitu. Ji Ho yang bilang nggak bakal nangis, akhirnya nangis juga. Karena ya gimana ya, namanya nikah pasti kan ada sedih-sedihnya (maksudnya sedih karena udah lepas dari orang tua (eh tapi ogut belum ngerasain rasanya nikah jadi pernyataan ini tidaklah valid))—meskipun dalam kasus ini nikahnya bohongan.

Sisa ceritanya jauh lebih seru lagi. Ide tentang pernikahan yang dijalani sama Se Hee dan Ji Ho mulai kabur seiring perasaan cinta dan kasih sayang yang mulai muncul (ya gimana nggak baper kalau tiap hari ketemu terus di rumah plus, dua-duanya adalah tipe orang yang sama). Mereka pun jadi mempertanyakan lagi segala sesuatunya: apa iya menikah bisa murni cuma untuk memenuhi kebutuhan masing-masing (rumah dan ngurus rumah)? Apa iya menikah itu cuma buat nyari keuntungan aja? Apa iya menikah itu nggak perlu pakai embel-embel cinta?

Image result for because this is my first life


Nah, selain cerita mz Se Hee dan mb Ji Ho, ada juga cerita dua pasangan lainnya: Won Seok - Ho Rang dan Sang Goo - Soo Ji. Dua pasangan ini juga masalahnya nggak jauh-jauh dari pernikahan. Won Seok dan Ho Rang udah pacaran selama tujuh tahun (busyet) tapi belum nikah-nikah juga. Si mb Ho Rang sebenernya udah ngebet dan siap banget untuk menikah dan jadi ibu rumah tangga (karena itu impiannya). Sayangnya si mz Won Seok ini ngerasa bahwa dia belum financially stable untuk bisa menjamin Ho Rang di kehidupan rumah tangga nanti. Rumahnya aja di rooftop, kerjaannya belum terlalu mapan. Akhirnya terjadilah konflik antara dua orang ini dan mereka pun berusaha untuk menyelesaikannya.

Pasangan yang lain—pasangan yang paling gue suka—adalah Sang Goo dan Soo Ji. Sang Goo suka sama Soo Ji, dan mau serius sama dia. Tapi Soo Ji yang seorang wanita karir nggak mau terlalu serius dalam suatu hubungan. Sebenernya kalau gue liat, pasangan ini konflik percintaannya nggak terlalu rumit. Justru yang gue suka adalah bagaimana Soo Ji yang cita-citanya pengin jadi bos, harus berakhir sebagai pegawai perempuan di kantor besar dan sering dimanfaatin untuk ngerjain ini-itu. Terlebih lagi karena dia termasuk dalam kaum minoritas, dia sering dilecehkan secara verbal. Nah, mz Sang Goo sebagai lelaki sejati nggak suka ngeliat Soo Ji nerimo aja dilecehkan begitu sama atasannya. Tapi buat Soo Ji, ini sah-sah aja karena, ya mau gimana lagi, gue cuma pegawai bawahan cuy, kalau nggak begini gue nggak akan bisa memertahankan karir gue. Akhirnya terjadilah konflik antara dua orang ini dan mereka pun berusaha untuk menyelesaikannya.

Hm, udah lumayan panjang, ya.

Secara keseluruhan, gue suka drama ini karena ada cukup banyak pemikiran dan pandangan yang nggak jauh beda sama lingkungan di sini (Indonesia). Bagaimana pernikahan jadi sesuatu yang penting banget dibandingkan hal-hal lain, bahkan di zaman modern kayak gini. Ada satu scene waktu Se Hee dan Ji Ho memutuskan untuk nggak bikin acara resepsi. Bapaknya Se Hee menentang ini dan langsung dibales dengan (kurang lebih intinya), "Ayah pengin ada acara resepsi cuma buat nunjukkin ke temen-temen dan keluarga Ayah kalau anak Ayah terdidik dengan baik, kan? Ini cuma alat buat pamer, kan?" Gue pikir ini bener banget, dan di sini pun ada yang kayak begitu. Mungkin bukan masalah mendidik, tapi masalah prestise dan gengsi orang tua. Kalau nggak ada resepsi, entar nggak ketauan kalau udah nikah. Entar diomongin, entar begini, entar begitu. Haaahhh pusing aku.

Loh, kenapa gue yang pusing?

Gue merasa drama ini (mungkin ya) kayak ngasih pandangan baru tentang gimana sih kehidupan orang-orang di zaman sekarang, apa masih bisa terus ngikutin tradisi orang zaman dulu atau nggak. Meskipun pada akhirnya dua pemikiran ini, pemikiran lama dan modern, tetep bisa bertahan dan berjalan dengan baik. Itulah kenapa gue sebut drama ini the wisest.

Selain itu, yang gue suka juga adalah cara Se Hee dan Ji Ho mendiskusikan segala hal yang bersangkutan dengan mereka. Semuanya selalu berdasarkan persetujuan masing-masing dan logika (mungkin karena Se Hee-nya orang IT ya). Gue seneng tiap kali mereka diskusi dan... enak aja gitu ngeliatnya semuanya tuh selalu terencana, rapi, dan ada persetujuan dari dua pihak. Nggak cuma berdasarkan perasaan tapi diliat dari segi kebutuhannya juga.

Oh, satu lagi. Karakter yang paling gue suka di sini adalah siapa lagi kalau bukan mz Se Hee. Sebenernya gue suka cara dia mengekspresikan sesuatu, sih—which is jarang banget. Mukanya dataaar banget. Mau lagi seneng, lagi sedih, tetep aja datar, walaupun diem-diem dia sebenernya punya cara buat nunjukkin perasaannya. Perkembangan karakternya juga nggak terlalu mendadak kayak drama-drama lain (taulah, yang hari ini bilang saranghae besokannya minta dikejar, terus minggu depan saranghae lagi, besoknya tiap ditelepon nggak dijawab-jawab haaahhh). Mungkin karena pada dasarnya Se Hee ini tipe pendiam, jadi nggak terlalu kentara perubahannya. Kalau karakter yang lain... mungkin si mz Sang Goo karena dia tipe cowok kampret tapi punya rasa hormat setinggi langit sama perempuan. Cara dia nge-treat Soo Ji juga yang bikin lucu, sih, macem Dilan kalau udah tuwir gitu (?)

Demikian ulasan drakor hari ini. Percayalah, gue nulis ini sambil kepikiran skripsi gue yang masih belum gue lanjutin sampai sekarang. Gue bahkan rasanya pengin analisis drama ini buat skripsi, tapi sayangnya aku anak Sastra Inggris, bukan Sastra Korea huhuhu. Baiklah kalau begitu, mari kita sudahi postingan ini dengan segera membuka file skripsi dan melanjutkan penelitian membaca hamdalah. Alhamdulillaah. Ciao!

Thursday, February 1, 2018

Honest Review: Film "Dilan 1990"

Langsung saja ya kita mulai honest review dari saya.

Filmnya dibuka sama seperti novelnya, si Milea memperkenalkan dirinya, keluarganya, lalu teman-temannya. Lalu masuklah kita ke adegan yang selama ini sudah beredar dan jadi bahan bercandaan di mana-mana, adegan Dilan naik motor bersisian sama Milea lalu bilang,

Image result for dilan 1990 novel
Gambar ini saya ambil dari bukubiruku.com
Karena saya nggak suka poster filmnya di mana si Iqbaal terlihat kecil sekali badannya.

"Kamu... Milea, ya?"

Adegan yang membuat saya dan Andi meringkuk tidak jelas saking gelinya. Tapi tenang, awalnya memang agak menggelikan, apalagi buat kami yang sudah baca bukunya dan hanya bisa membayangkan adegan itu di otak kami. Lama-kelamaan, seiring filmnya berjalan, semua adegan bahkan dialog yang selama ini kami pikir "nggak banget" ketika difilmkan jadi bisa diterima—dengan terpaksa.

Cerita berlanjut ke adegan di kelas, di mana Milea sebagai murid baru yang nggak berasa kayak murid baru karena doita bisa langsung akrab sama teman satu kelas (bahkan pas ulang tahun sempat dikasih surprise dan kue ulang tahun) yang menurut hemat saya sih, sesederhana karena Milea cantik. Coba kalau bentukannya kayak saya, ngobrol sama orang aja males, apalagi dikasih surprise? Di adegan itu, ada dua hal yang bikin saya sebel dan gemes; pertama, waktu teman sebangkunya Milea membuka pembicaraan dengan bilang, "Nggak kerasa yah, kamu udah dua minggu jadi murid di sini." Duh, tolong yah teteh-cantik-teman-sebangkunya-Milea, dua minggu dalam hitungan waktu normal itu sebentar tauk. Iya nggak sih? Kalau udah sebulan tuh, baru namanya "nggak kerasa".

Nah, yang kedua adalah waktu Milea nanyain soal kantin ke teteh-cantik-teman-sebangkunya-Milea. Karena di adegan kamu-Milea-ya itu si Dilan sempat ngeramal kalau mereka akan ketemu lagi di kantin, Milea langsung penasaran gitu. Doita langsung cerita sama teteh-cantik-teman-sebangkunya-Milea, kalau ada yang ngeramal kayak begitu. Temannya langsung nanya dong, "Terus kamu jadi mau ke kantin nggak?" Milea pun menjawab, "Nggak ah."

Ah, kalau saya jadi Milea sih, saya datengin tuh kantin. Saya cariin mana barudaknya yang kenal juga nggak tapi udah main ramal-ramalan.

Ya untungnya Milea nggak semurah saya, yah.

Saya lupa adegan selanjutnya (banyak yang saya lupa karena saya terlalu sibuk mengeluarkan kata-kata kasar selama film berlangsung). Mungkin waktu Dilan naik angkot sama Milea. Adegan ini masih bisa saya terima, kecuali lagi-lagi dialognya dan ekspresi wajah para aktornya. Kalau nggak salah, di sini Dilan bilang, "Milea, kamu cantik. Tapi aku belum cinta (atau suka?). Nggak tau kalau besok sore." Sang aktor melontarkan kalimat ini sambil menatap jauh ke luar angkot, ke atas lebih tepatnya. Saya kurang suka, seharusnya doi melirik-melirik sedikit ke arah Milea. Atau agak senderan ke belakang seolah-olah lagi bisikin Milea. Nah, Milea nya juga, malah sok-sokan baca novel. Saya agak sebel liatnya karena, ngapain sih baca novel di angkot? Nggak pusing apa?

Tapi, yaudahlah.

Lalu masuklah kita ke adegan yang paling saya suka, adegan waktu Dilan menyusup masuk ke kelasnya Milea. Tiba di kelas, Dilan berpapasan dengan seorang figuran yang saya yakini bernama Dadang. Si Dadang dengan polosnya bertanya,

"Ngapain, Dilan?"

Ternyata, yang menganggap adegan itu lucu cuma saya dan Andi. Satu bioskop nggak ada yang memerhatikan akting si Dadang itu. Sungguh sebuah penghinaan terhadap pemeran figuran! Tapi sumpah, itu lucu loh. Mungkin karena transisi adegannya yang agak cepat, pas tiba-tiba latarnya ganti jadi kelas, pas si Dadang itu muncul. Ah, terima kasih Dadang telah membantu menyelematkan film ini walaupun tidak banyak yang kamu lakukan.

Saya dan Andi berencana buat sekuel film Dilan tapi dari sisi Dadang. Semacam Fantastic Beast-nya J.K. Rowling. Tunggu saja. Kalau nggak keluar, berarti saya dan Andi nggak jadi nulis si Dadang.

Saya lupa lagi adegan selanjutnya. Oh iya, saya keingetan adegan di kantin waktu Milea dan kawan-kawan lagi makan batagor. Ada si ketua kelas juga, Nandan. Terus tiba-tiba si Dilan nyamperin mereka. Dia ngomong ke Nandan--yang duduk di depan Milea, "Aku suka Milea, loh!" Terus Nandan kebingungan gitu dan Dilan lanjut bisikkin Nandan, "Tapi jangan bilang-bilang Milea, yah, kalau aku suka sama dia." Nandan pun semacam menjawab, eta orangnya ada di depan kamu ngapain bilang ke sayah? Dan Dilan pun membalas, "Kan aku bilangnya ke kamu, bukan ke Milea!"

Waktu adegan itu muncul, saya sempat lupa kalau itu ada di bukunya. Jadi saya senang karena diingatkan lagi sama adegan yang yah, lumayan lucu sih. Waktu saya baca bukunya, saya ngebayangin sosok Dilan yang agak macho dan bertubuh gempal, dengan seragam yang udah agak merecet dan berwarna kusam (iya, di filmnya, semua murid sekolah Dilan pada pakai baju baru, masih putih, masih kaku, masih bau toko), ngomong sok imut gitu ke Nandan. Alhasil jadi luculah bayangan saya. Sedangkan ketika saya nonton filmnya, saya melihat si Iqbaal (a-nya dua, nggak tau kenapa) ini emang udah perawakannya remaja imut gitu. Jadi pas doi memainkan adegan itu, saya jadi kurang greget liatnya. Padahal udah oke loh penghayatan dialognya (anjas).

Mungkin adegan Dilan dan Milea telepon-teleponan itu juga penting. AH IYA saya jadi ingat. Waktu mereka teleponan malam-malam untuk pertama kalinya (saya lupa itu bagian dialog apa). Kamera lagi asyik-asyiknya nge-shoot muka Milea lalu tiba-tiba muncul BULAN SEGEDE GABAN HAMPIR MENUTUPI SETENGAH LAYAR BIOSKOP. Saya pikir, DOP-nya mau nyamain muka Milea sama bulan, nggak taunya itu dimaksudkan buat bergantian siang ke malam.

Image result for bulan purnama
Nah, persis kayak begini bentukan bulannya.

Ya tapi nggak usah bulan juga kali kalau mau transisi. Langit gelap plus bintang-bintang kek, atau kalau mau pakai bulan ya jangan sampai menuhin setengah layar juga. Kami yang nonton kan jadi kaget. Saya sempat mikir jangan-jangan ini gabungan film Dilan dengan film Meet Me After Sunset yang mana pemeran utamanya ternyata adalah vampir! (Iya, saya tau film itu karena trailer-nya muncul sebelum filmnya dimulai)

Udah, udah, ayo kita lanjut lagi review-nya. Saya mau bahas adegan Dilan dan Milea jalan-jalan naik motor keliling kota Bandung. Ini banyak masalah teknis yang  saya sayangkan. Pertama, kota Bandung. Saya tau cerita ini mengambil latar Bandung tahun 90an, dan akan butuh usaha untuk menampilkan suasana tahun 90an ketika bikin filmnya di tahun 2017. Telepon umum, telepon rumah, motor, dan bentuk rumah mungkin beberapa detail utama yang dihadirkan sama si pembuat film. Sayangnya, itu aja nggak cukup. Latar suasana jalanan Bandung kurang diekspos, interior rumah Milea (selain telepon rumah) masih kurang berasa 90an-nya. Saya sempat mengeluh ke Andi, saya bilang, sofa di rumahnya Milea terlalu modern, dari segi warna dan bentuk.

"Jangan-jangan belinya di IKEA kali ya."

"Padahal tahun 90an, IKEA belum ada di Alam Sutera."

"Positive thinking aja, Del. Mungkin keluarganya impor furnitur langsung dari Swedia."

Ya itu detail-detail kecil yang harusnya sih bisa diusahakan muncul di film. Terlebih ini Bandung gitu loh, kota yang selalu punya tempat di hati sebagian orang. Rasanya tiap ada film yang berlatar di Bandung tuh, selalu bikin saya pengen jalan ke sana. Sedangkan ini nggak.

Dan, adegan waktu Dilan dan Milea jalan-jalan naik motor itu harusnya jadi kesempatan buat nunjukkin suasana kota Bandung di tahun 90an. Oke, mungkin saya ngomong seenak jidat tanpa tau gimana susahnya menampilkan suasana 90an di kota Bandung di tahun 2017. Tapi kalau menurut saya sih, itu semua bisa dilakukan dengan cara sederhana. Sesederhana nge-shoot nama jalan kota Bandung, pepohonan di sekitar jalan raya (bukan pepohonan di sekitar perumahan karena yang saya perhatiin filmnya banyak nge-shoot di daerah perumahan), atau jejeran toko-toko lama yang sekarang masih ada di Bandung.

Iya, iya, tau, ngomong tuh emang gampang. Saya sendiri juga kurang paham gimana prosedur syuting film di fasilitas umum kayak jalan raya. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa semakin matang sebuah karya, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk karya itu. Film Dilan seinget saya mulai syuting sekitar pertengahan tahun 2017. Akhir Desember lalu kalau nggak salah udah mulai promo film. Berarti waktu pembuatannya cuma sekitar enam bulan, yang mana kalau buat saya, untuk seukuran film yang butuh banyak detail, itu waktu yang terlalu singkat.

Kalau ngomongin ini, saya selalu pengen nyerempet ngomongin masalah kastingnya. Kalau produsernya nggak terlalu ngebet dapet untung, mungkin tim casting-nya bisa meluangkan waktu untuk open casting warga lokal, dibandingkan nyari dari kalangan aktor yang udah punya nama. Saya juga kurang paham ya masalah gini-gini, tapi patokan saya untuk masalah casting itu film Sing Street. Di situ semua pemeran utamanya (termasuk si duo ganteng kampret itu) diambil dari orang lokal Irlandia, bener-bener murni belum pernah main film. Hasilnya? Nggak kalah keren aktingnya sama aktor-aktor yang punya nama. Lagipula kalau waktu itu tim produksi film Dilan buka casting untuk waga lokal, dan yang terpilih adalah mereka yang mukanya belum familiar, pastinya nggak akan ada hujatan buat si Iqbaal ataupun fans-nya Iqbaal.

Ah, tapi itu sotoy-sotoyan saya aja sih. Teteplah mereka yang bekerja untuk film Dilan yang lebih paham gimana caranya bikin film yang baik dan benar. Saya mah cuma penonton karbitan yang nggak tau apa-apa soal dunia perfilman.

Lanjut, jangan?

Saya masih mau ngomongin adegan Dilan dan Milea jalan-jalan naik motor. Di situ mereka sahut-sahutan dialog unyu gitu deh. Saya lupa apa aja dialognya. Saya juga lupa terlebih karena mereka ngomongnya cepet banget :( Tektok dialognya jadi kurang dapet dan saya cuma kebagian akhir-akhirnya waktu mereka ngomong,

"...terus dikutuk jadi batu deh,"

"Terus batunya kamu pegang terus."

"Biar apa?"

"Biar nggak sakit perut!"

Satu bioskop meledak ketawa, apalagi pas liat si Iqbaal—maaf, maksud saya Dilan, mukanya ngelawak gitu pas bilang "sakit perut". Sebenarnya nggak cuma dialog itu, banyak dialog-dialog lain yang pelafalannya kurang jelas karena telalu cepat. Puncaknya, yang paling mengecewakan saya dan Andi adalah dialog Dilan marah-marah di ruang kepala sekolah.

Saya ingat betul adegan itu; si Dilan mukulin Anhar karena Anhar nampar Milea. Abis itu mereka dibawa ke ruang kepala sekolah, dan di situ, di depan kepala sekolah dan guru-guru lainnya, Dilan ngamuk dan teriak,

"KEPALA SEKOLAH NAMPAR DIA, KUBAKAR SEKOLAH INI!"

Wuis. Anjay. Mantap. Canggih gila ni bocah.

Waktu saya baca novelnya, saya agak-agak merinding gimana gitu bacanya. Gila, Dilan ngamuk cuy! Ngamuknya nggak kira-kira, sampe bawa kepala sekolah! Ini anak jenderal atau anak sultan ya si Dilan-Dilan ini? Tapi, kita nggak perlu bahas logika dulu deh ya. Di adegan itu, menurut saya itu momen klimaks kemarahannya Dilan. Kalau kata Andi, itu bukti ke-bucin-annya Dilan terhadap Milea.

Sayangnyaaa... kalimat itu nggak terdengar jelas pelafalannya. Si Iqbaal cuma bangun terus teriak, "KEPALA SEKOLAH SHDFSJSNC CSNMXXM, SKDSJCRTE  DIOPIKJKJSKS INI!!!" Saya sama Andi langsung kecewa pas liat adegan itu. Seperti yang saya bilang tadi, transisi dari satu adegan ke adegan lainnya terlalu cepet. Abis Dilan ngamuk, langsung pindah ke Warung Bi Eem.

EH IYA, ini Warung Bi Eem juga jadi masalah nih. Masa warungnya bentuknya kayak kafe rumahan??? Gini loh. Secara logika aja, penyebutan 'warung' itu konotasinya kalau nggak warung kecil yang suka ada di perumahan, warung kopi yang suka ada di pinggir jalan, atau warung dari kayu/anyaman bambu plus ada meja dan kursi panjang di depannya. Iya kan? Coba, saya suruh kalian bayangin sebuah warung, pasti kalian nggak akan kepikiran sebuah rumah, ada dapur di belakangnya, ada meja-meja untuk empat orang gitu, terus dari luar terlihat seperti rumah. Iya kan? Di situ saya kecewa sekali tiap kali melihat Warung Bi Eem.

Udah kali yah, segitu aja review dari saya. Kalau dilanjut, saya bisa kebablasan bahas Wati, Piyan, Ibunya Milea, Bundanya Dilan, latar jalanan waktu Bundanya Dilan nganter Milea pakai jeep—wah, masih banyak deh. Pegel saya nulisnya. Mohon maaf kalau saya spoiler, lagian kalian pasti juga udah nonton filmnya. Buat yang belum nonton, mudah-mudahan setelah baca review saya kalian langsung mengurungkan niat untuk nonton film Dilan. Ya tapi kalau tetep mau nonton ya silakan. Asal tau aja, kalau kalian nonton itu, apalagi nontonnya pas malam minggu, kalian sudah berkontribusi memperkaya orang-orang yang ada dibalik pembuatan film Dilan itu. Mereka makin kaya, kita makin miskin. Dasar kapitalis!

Kalau disuruh nilai dari 1 sampai 5, saya kasih film Dilan 1990 nilai 2. Eh, 2,5 aja deh. Karena pada dasarnya secara pribadi saya suka Dilan, terlepas dari siapa pemerannya. Dilan itu tokoh fiksi yang cuma ada di benak pembacanya, yang bikin kita—maaf, saya maksudnya, jadi bisa ngerasain gimana rasanya digombalin, dilucuin, dikasih kata-kata aneh oleh seseorang kayak Dilan. Jadi, tolong yah, jangan berharap sosok Dilan itu ada di dunia nyata. Biarlah tokoh fiksi buatan Ayah Pidi Baiq itu tetap jadi tokoh fiksi yang bikin kita senyam-senyum sendiri dengan ke-anti-mainstream-annya dalam mencuri hati seseorang.


P.S.: kalimat terakhir saya tulis dengan setengah sadar. Percayalah.

Tuesday, January 24, 2017

My First Love for K-Drama

Semalam, setelah selesai nonton drakor dan curhat nggak jelas di snapgram, gue sempat menjanjikan sebuah postingan review drama Goblin di sini. Awalnya gue agak ragu karena drama ini ditonton sejuta umat dan kalau gue nulis/post/ngomongin tentang Goblin, gue takut dikira penonton karbitan dan mainstream. Tapi gue berusaha mengesampingkan pikiran itu dan memutuskan untuk menulis review drama sialan ini. Bukan semata-mata karena gue suka Gong Yoo ceritanya, tapi karena ini drama terindah yang pernah gue tonton. Entah itu dari segi gambarnya, setting tempatnya, soundtrack-nya, Gong Yoo-nya maupun storyline-nya yang berhasil membahagiakan penontonnya sampai akhir. Gue merasa harus menulis ini sebagai bentuk apresiasi gue terhadap orang Korea yang konsisten dalam dunia per-drama-an. Mari tepuk tangan sejenak untuk mereka.


Gue nggak tau harus mulai dari mana. Pertama kali gue tau drama ini dari sekelebat-sekelebat info di Instagram yang bilang kalau ada drama baru berjudul Goblin. Pas liat pemainnya, kok gue kenal semua (cie). Ada si Kim Go Eun yang dulu main di Cheese in the Trap, ada juga si Lee Dong Wook yang terakhir kali gue liat itu di drama My Girl dan sekarang dia beda banget HAHAHA. Ada juga si ciprik satu yang konsisten mempertahankan wajah gantengnya dari zaman Coffee Prince sampai sekarang (baca: Gong Yoo). Tapi gue sempat nggak (mau) tertarik karena waktu dramanya keluar, gue lagi deket-deket mau UAS. Gue lagi musingin Hansel Gretel dan Metopen waktu itu, jadi gue pikir, entar-entaran ajalah nontonnya kalau udah tamat.

Hingga pada suatu hari, si ciprik satu ini, yang bernama lengkap Listya Dewi Anggraeni, ujug-ujug dateng dan bilang, "Sumpah, lo harus nonton Goblin, Del!"

Anying.

Setelah beberapa hari diceritain tentang betapa bagusnya drama tersebut, gue mulai iseng-iseng buka akun Instagram yang suka nge-post potongan adegan drakor (drama Korea, biar ringkes). Ternyata, emang bagus. Dan lucu. Dan bikin penasaran. Dan wah gila Gong Yoo-nya ganteng cuy. Di situ gue mulai gatel pengen nonton tapi masih ketahan karena pikiran gue masih waras dengan lebih mengutamakan Metopen dibanding drama kacangan itu.

Karena ada pepatah yang mengatakan, "Curiosity killed the cat", maka daripada gue mati penasaran, lebih baik gue coba tonton satu episode pertama drama Goblin.

Dan saudara-saudaraku, ingatlah bahwa sekali nonton satu episode, there is no turning back.

Walaupun seperti biasa, gue selalu merasa episode 1-3 itu cuma mukadimah yang nggak perlu-perlu amat, tapi ada rasa penasaran juga setelah gue nonton episode pertama. Apalagi ending-nya di mana si Eun Tak bilang, "Sarangheyo" ke si Tokebi (maaf, sebenarnya gue tau penulisan Korea yang betul tapi kayaknya lebih enak begitu nulisnya). Kan kita jadi bingung dan penasaran ya, ni bocah SMA tau aja ye om-om ganteng kaya raya, makanya langsung diembat sama dia. Hah.

Gue sempet berhenti nonton di episode 2 atau 3 gitu, terus gue coba selesain Metopen gue. Hebatnya, dengan iming-iming, "biar bisa nonton Goblin" gue berhasil menyelesaikan Metopen dalam dua hari. Atau tiga hari, itu nggak penting. Yang penting, setelah selesai essay gue, gue langsung melahap dua episode sekaligus. Mwahahaha.

Ah, padahal gue niatnya mau nulis review beneran, tapi malah kecampur curhat pribadi.

Well, bagaimana pendapat gue tentang alur cerita drama Tokebi? Sebagai orang awam, gue rasa alurnya pas dan bisa diterima. I mean, porsi-porsi untuk setiap konfliknya cukup rata. Walaupun bagian-bagian akhirnya menurut gue agak terlalu singkat, mungkin karena terbatas 16 episode. Dan, oh, yang pertama kali paling menarik mata gue ketika nonton drama ini adalah sponsor. Hahaha. Gue kira cuma di Indonesia doang yang pake barang sponsor sebagai properti. Jujur awalnya agak mengganggu karena sponsornya banyak banget. Tapi lama-kelamaan jadi bisa diterima, kayak, yaudahlah ya. Namanya juga drama mahal, butuh biaya banyak kan yah.

Terus yang paling penting adalah sinematografinya yang, wah, keren! Ini drama pertama yang bikin gue ngerasa kayak lagi nonton film, bukan nonton drama. Pasti paham kan beda gambar drama series sama film, nah itu dia. Ditambah efek-efek CGI di beberapa scene-nya dan terutama di bagian pedangnya Kim Shin. Walaupun to be honest, gue bukan penggemar efek-efek kayak begitu karena menurut gue terlalu berlebihan, apalagi untuk cerita drama yang romantis. Tapi itu semua termaafkan bukan karena Gong Yoo-nya ganteng, tapi karena toh itu bagian dari ceritanya. Jadi selama itu mendukung jalannya cerita, ya nggak masalah lah. Intinya, totalitas tanpa batas. Tah eta!

Selain itu, gue suka teknik pengambilan gambarnya. Suka banget! Gue termasuk penikmat film/drama yang banyak nampilin long shot. Entah kenapa gue suka banget. Kalau gue pribadi ngerasa shots semacam itu bisa buat mendukung emosi lo. Kayak scene Eun Tak sama Kim Shin pertama kali ciuman di ladang bunga-apalah-itu-namanya. Lo liat mereka ciuman aja udah seneng, terus kameranya dijauhin ngeliatin ladang bunga dan salju-saljunya pake efek slow-motion, gimana nggak tambah seneng coba? Ah, sumpah, gue mulai terdengar seperti penonton karbitan. Tapi ya mau gimana lagi, emang sukak!


Ah, ini juga penting. Dialog-dialognya bagus! Apalagi puisinya Kim Shin waktu ngeliat Eun Tak di Kanada. I cried so hard dengerin suaranya sambil liat senyum sedihnya itu. Nggak tau nangis karena puisinya atau karena Gong Yoo-nya. Gue sempat pengen salin puisinya tapi nanti gue terlihat seperti penonton karbitan. Hehehe. Oh, by the way, gue suka puisinya dalam bahasa Korea dan bahasa Inggris. Karena waktu itu gue sempet baca di Line Today ada yang nulis artikel tentang quotes romantis di drama Goblin. Pas gue buka, quotes-nya bahasa Indonesia semua cuyyy. Jadi kurang romantis gimanaaa gitu cuyyy.


Ini juga elemen yang paling gue suka, soundtrack-nya! Jadi, waktu itu, gue lagi pusing ngerjain Metopen. Pusing karena essay-nya nggak selesai-selesai dan pusing karena gue belum bisa lanjut nonton Goblin sampe essay gue selesai. Karena udah desperate banget, akhirnya gue buka YouTube dan iseng cari soundtrack-nya Goblin. Dari situ, gue mulai ngerjain paper ditemani soundtrack-nya demi mengobati hasrat yang tak tersampaikan :') Lagunya enak-enak, bikin nempel terus di otak. Ada kali satu hari di mana otak gue terus-terusan muterin salah satu soundtrack Goblin, saking enak dan nempelnya. Ditambah lagi, peran si soundtrack di setiap adegan dramanya pas banget. It's like, you don't even notice that the songs are a separate part of the drama. Pokoknya ngalir aja gituh.

Ngomongin acting pemainnya mah, nggak perlu lah. Yang penting tuh penulis script-nya. Penulis yang kayak begini yang harus dipertahankan di dunia drakor karena dia bisa-bisanya menghancurkan hati para penonton di akhir-akhir cerita, tapi dengan baiknya ngasih happy-ending yang bikin gue jauh lebih sedih. Kenapa, karena ini drama terlalu bagus untuk diakhiri. Anjay. Nggak, ini serius. Saking bagusnya, gue sampe nggak rela kalau dramanya udah abis. Yang bikin tambah sedih adalah pas liat foto-foto behind the scene-nya sebagai penutup episode 16. Gue nangis kayak orang gila, melebihi nangis gue pas Kim Shin-nya mati jadi abu. Karena kita semua tau, nggak akan ada drama yang sebagus dan seindah ini lagi. Nggak akan ada lagi yang ditunggu-tunggu tiap Jumat-Sabtu demi dibuat lebih penasaran lagi sama kelanjutan ceritanya. Mungkin nanti akan ada drama yang berhasil menyaingi si Goblin ini. We will wait for that but for now, nothing more beautiful than the Goblin.

Menurut gue, kesuksesan sebuah drama itu adalah ketika para penontonya ngerasa kehilangan banget setelah dramanya selesai. Gue tadi sempet baca komen-komen orang sotoy di myasiantv dan hampir semuanya bilang ini drama terbaik. Ada yang sagala minta season 2 pula. Yeu. Dikira dengan bikin season 2, dramanya jadi tambah bagus kali! Terus ada juga yang ngasih komen bijak dan cerdas dengan bilang, "The ending was not fixed. It's up to us on how to interpret it anyway." Yas, komentator yang seperti ini yang harus dibanyakin! Tapi emang bener sih, gue juga sempet bertanya-tanya sama ending-nya: kalau begini, nanti si Kim Shin-nya hidup terus dong? Terus kalau si Eun Tak udah empat kali hidup di dunia, Kim Shin-nya tetep immortal gitu? Dan pertanyaan-pertanyaan bodoh lainnya yang nggak perlu dipikirin amat. Pokoknya, it ended that way and we're all satisfied enough with it!

Gue kira nikahnya pake penghulu, taunya berduaan doang. Huf.

Ah, gila, gue ngetik panjang amat udah kek nulis essay.

Well, teman-temanku, maafkan kalau beberapa minggu belakangan aku menjadi penonton karbitan yang tontonannya terlalu mainstream. Maafkan kalau aku terlalu excited karena suka iseng nge-post yang berbau Goblin. Jujur aja, ini pertama kalinya gue nonton drakor sampe kayak begini. Gue nggak pernah nonton drama yang gue nggak rela tuh drama udah selesai. Gue nggak pernah nonton drama seindah ini.

And yes, every moment of it shined.



Aku suka scene dibalik selimut!

Dadah, kalian.

(All pictures are searched in Google by typing various stupid keywords. Thanks, Google!)

Thursday, November 17, 2016

Me-review Tempat Makan yang Zonk

Bisa dibilang ini review-an basi.

Jadi, beberapa waktu lalu, kalau nggak salah jauh sebelum minggu-minggu UTS (ah...), gue, Tya, Lutfia, dan Nadhira berkeliling kota naik mobil badut Tya. Waktu itu hari Sabtu dan sekedar informasi singkat aja, gue Sabtu ada kelas. Meskipun jatuh di hari leha-leha dan di jam yang bikin nggak bisa tidur lagi sehabis Subuh, Alhamdulillah matkulnya nggak berat-berat amat. Dosennya juga asyik ngajarnya, nggak bikin stress tapi penjelasannya jelas gitu. (Kalau pujian saya masih kurang buat dapetin nilai A dari Bapak, saya mau dan rela kok bikin satu postingan tentang kebaikan dan kemurahan hati Bapak plus review bagus buat band Bapak, Pak. Mohon dipertimbangkan, Pak. Tooosss.)

Balik lagi ke jalan-jalan siang berkeliling kota naik mobil istimewa kududuk di muka. Awalnya seperti biasa Tya menawarkan kongkow di tongkrongan dia waktu muda SMA dulu; Taman Suropati. Sayangnya sekarang udah nggak boleh parkir dan nggak ada tukang jajanan kayak terakhir kali kita ke sana. Akhirnya, kita muter-muter aja sambil dengerin playlist lagu Tya yang hacep gila di mobil.

Jam 11 lewat, kita laper dan pengen makan. Karena gue penasaran sendiri sama satu restoran yang ada di dekat Stasiun Sudirman, gue iseng cek-cek zomato. Kenapa gue penasaran pertama, karena tagline restorannya yang unik: "Waroeng Mee: Semacam Tempat Nongkrong" dan "Buka 25 Jam". Kedua, setiap gue jalan pulang sama Dila, setiap kita lewatin tempat itu, selalu rame. Bahkan sekali waktu pernah ada yang nunggu di luar saking udah penuhnya. Nah, gimana gue nggak penasaran sama restoran yang selalu rame begitu?

Alhasil, kita melipir ke sana. Pas liat menunya, agak standar sih kalau menurut gue. Oke, dari nama restorannya aja Waroeng Mee, signature dish-nya bisa dipastikan mie dong. Makanan lainnya ya ada nasi goreng, ayam-ayaman, dan roti-roti bakar buat cemilannya. Kalau soal harga, jujur, kurang friendly dan not worthy. Apalagi setelah liat bentuk makanan dan rasanya. Hm.

Waktu itu gue pesen nasi goreng waroeng mee, ya semacam nasi goreng ala restorannya lah. Gue lupa Nadhira sama Lutfia pesen apa, Tya pesen nasi ayam bakar (atau goreng gitu). Karena lapar bikin ekspektasi orang meninggi, otomatis gue udah membayangkan nasi goreng enak, pake acar, pake telor, pake kerupuk, suwir-suwir ayam sedikit, terus pedes-pedes enak. Hmm. Tapi yang namanya ekspektasi pasti selalu ancur sama yang namanya realita. Pas nasi gorengnya dateng...

Ah, sudahlah.

Mending nasi goreng tik-tik abang langganan kemana-mana. Pake telor, pake ayam walaupun sedikit, ada acarnya, timun, kerupuk, pedesnya nampol. Yang gue pesen di sana, sama semua ingredients-nya cuma bedanya sebelum kata 'pake' ditambahin 'nggak'. Jadinya ya, nggak pake telor, nggak pake ayam walaupun sedikit, nggak ada acarnya, timun dua lembar doang, kerupuknya nggak tau kemana. Wah, udeh. Udeh, selese udeh.

Kenyang sih, tapi aku kecewa :(

Selesai makan, Dhira dan Lutfia pesen mie goreng berdua. Indomie goreng pake kornet kalau nggak salah. Dateng-dateng, yang muncul mie goreng tapi kok nggak cokelat? Dari jauh penampilannya udah keliatan ada yang aneh gitu. Nggak kayak mie goreng pada umumnya. Pas Dhira cobain, dengan suara lantang dia bilang,

'Hm, ini Indomie ayam bawang, ini. Sumpah, Del, cobain dah.'

Pas gue cobain, emang nggak ada rasa-rasa mie goreng sih. Aneh.

Barusan gue iseng buka review restoran ini di zomato dan sebagian ada yang bilang biasa aja, sebagian bilang menunya enak-enak. Dan banyak juga yang bilang 'ini tempat asyik buat nongkrong'. Kalau kalian tanya pendapat subjektif dari gue, apakah tempatnya enak buat nongkrong jawabannya adalah: nggak. Tempatnya sih nyaman, smoking friendly buat para perokok, tapi... apa yah, kayak kurang genah gitu kalau kata Lutfia. Oh, dan satu lagi yang paling gue nggak suka: musiknya terlalu keras. Gue tidak pernah mengerti alasan sebuah restoran (apalagi yang menyebut dirinya "semacam tempat nongkrong") nyetel lagu kenceng banget, dan lagunya pun random. Hakikatnya (cailah) tempat nongkrong ya tempat ngumpul sama teman atau keluarga kan? Tempat ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas sama teman-teman, kenapa harus dikasih musik gitu lho? Kenapa?? Kenapa gue jadi sensi amat??

Enak-nggak enaknya tempat atau makanan, itu selera pribadi. Gue bisa bilang nasi goreng Agung Hercules di belakang Al Azhar jauh lebih enak ketimbang nasi goreng di warung ini. Orang lain belum tentu punya opini yang sama. Mungkin itu jawaban dari pertanyaan gue setelah makan disitu: kenapa bisa rame banget ya? Kenapa banyak yang makan di situ ya? Ya karena selera orang beda-beda. Setelah lo baca review gue tentang Waroeng Mee ini, lo mungkin akan bertanya, 'Apa iya nggak seenak itu, Del? Masa sih, Del?' Cara supaya lo bisa tau enak apa nggaknya ya, sila dicoba aja sendiri :)

Untuk itu, gue harus memberikan skor 1.5 out of 5 hahaha. Gue mau kasih 2 tapi rasanya kegedean. Eh yaudah deh 2 aja. Jadi final score-nya untuk Waroeng Mee aka Semacam Tempat Nongkrong aka Buka 25 Jam adalah 2 out of 5 stars. Yay.

Interior oke punya (thumbs up)

Judul: Menonton YouTube-YouTube Lebih Dari TV Boom

Sekian review-nya, semoga bermanfaat. Ingat, jangan terpengaruh sama pendapat-pendapat gue. Kalau penasaran cobain langsung kayak gue, agar supaya kalian mengerti dan tahu bagaimana rasanya dan rasanya bagaimana. Hahaha. Oh, sekalian mohon maaf karena sudah lama nggak menulis di blog kesayangan. Yah, pasti udah pada bosen sama excuses yang selalu gue buat. Tapi setidaknya malam ini gue menulis sesuatu, yay! Selamat!

Sunday, August 14, 2016

John Carney's Sing Street

I knew him from Begin Again. You know, that famous movie with famous soundtrack sang by Adam Levine. But eventually, I've already put his first movie, Once, on my watchlist--without knowing that he was the director. Now, in June 2016, his third movie called Sing Street becomes my another favorite piece of art of John Carney.

As usual, I was checking some films at IMDb when I finally found this movie. I saw the director, watched the trailer, and felt like, 'I think I will not get the same feeling like I watched the two previous films.' Because at first, the storyline seemed too simple. School boy, making a school band, working together to make some arts (though after watching it, the story is actually about that). I didn't know whether it's just me with the lack of analyzing skill or the movie will not as good as the other two.


So, I found the movie a couple months ago in the illegal-watching-movie-site. I watched it right away, and I regret it right away because damn you fool, IT'S A GREAT MOVIE! I'm not gonna tell you the story or summarize or synopsis. Not because I'm an anti-spoiler but I've told you before; it's about school boys performing school bands. Seriously. However, one thing I can say is that the movie is typical. Not from the story or the plot but from the director. I don't know how to say this correctly. It's like, when you've seen someone's movie, and he makes another movie, you'll see the peculiarity of his art. Let's say for example Woody Allen. First time I watched his movie was Midnight in Paris (which is so so so great). And then I started to find another works from him and brought me to some old 70s movies like Annie Hall and Manhattan. When I watched these two, I realized that they were so Woody Allen. There's one or two things that make you say, 'Oh, ini Woody Allen banget.' Or like Indonesian director Riri Riza, when you saw his film and you'd say, 'Oalah, pantesan. Riri Riza yang bikin.' And that's what I feel about John Carney.

But when I say similarity, I'm not saying about the genre (musical) that he brought. You know, Once and Begin Again were all about music. So is Sing Street. But for me it's not only that. The so John Carney part--for me--is on how he tells people that music can make people be better in their way. I know, it's too general. But it's true. The movies presented how someone's life can change when he/she make some music. The dramatic parts like breaking up, cheating, or bullying are additional for me. But I believe the director himself has a different point beyond that. Maybe I should watch some more interviews later. Hahaha. So far I've only watched Adam Levine 'Go Now' Interview (yes, he sings in the movie again!) and here's what I get and agree:

'When I was a child I wanted to be like Nirvana, and any other great bands at that time. I think that's so real. And that's how creativity starts when you're young. You wanna be like them, you wanna make some music like them, and you wanna get a girl with it.' 

I've watched this movie thrice because I really, really like it. It never bores me and every time I watch it, I always found new things from there. Like the scenes, the dialogues, small things I didn't notice before. It's like reading a book, you know. Something new awaits in every time you open the book. And oh by the way, this is my favorite line that Conor said about Raphina:

Pengen setuju tapi gimanaaa gituh. Wkwkwk.

To sum up this review, I have FIVE things I wanna say about Sing Street. 1) John Carney is my favvv Irish director. 2) Irish accent is weird and hard to hear. Once also used Irish accent and shot in Ireland, dan gue dulu sok-sokan nonton film itu tanpa subtitle. Akhirnya yang kedua kali ada sub English dan gue baru ngerti jalan ceritanya. Hahaha. 3) I have a crush with Mark McKenna, the one who plays Eamon in the movie. When I looked at Eamon, I only like the way he played guitar and his pelit-ngomong-but-cool style. And also because he made the music for all the songs that Conor writes. Few days later, googled his name, found him posing like this:

BIASA AJA KALI NGELIATINNYA. Eh btw, cardigan-nya bagus itu.

Dan dengan bangsatnya dia kemana-mana berduaan sama Ferdia Walsh-Peelo yang jadi Conor dan menghasilkan foto-foto sialan kayak gini:

OGAH AKU DEKET-DEKET SAMA KALIAN.

'Yaqin nggak mau deket-deket sama kita?' 'YAUDAH KALAU DIPAKSA MAH AKU BISA APA.'

Kenapa sih aku lemah banget sama lelaki gondrong :'(

Sorry for the interruption. And then 4) I can't get the original songs out of my mind. Like, all of it are listenable and easy to hear. If you're got influenced by 80s songs, you may be like those ones. The last is 5) I'm definitely, patiently, waiting for another project from John Carney. It's fine whether it's still about music or something slightly different from those three. I can't give anything but my appreciation to people like him. So, I persuade you to watch it right now! NOW!

Wednesday, April 6, 2016

HOT Xperia Z5: Definitely Hotter Than You

Jadi, buat yang mungkin belum tau, HP mungil gue si Xperia Go yang sangat tahan banting, tahan air, tahan godaan, itu udah diganti sama saudara mudanya. Jujur gue masih sayang sama Xperia lama gue pertama, karena ukurannya yang handy banget dan cenderung kecil dibandingkan HP-HP lain jaman sekarang. Kedua, banyak banget kenangannya. Itu HP Android pertama yang gue punya dengan kameranya yang justru lebih bagus ketimbang Samsung tipe-tipe atas kalau menurut gue. Ketiga, di situ ada games Onet ASLI versi pertama, bukan versi modifikasi yang sekarang banyak di playstore. Kurang lebih 4 tahun gue pakai HP itu, dan semuanya udah dialami sama dia; jatoh dari kantong seragam, dibanting di kasur, dibanting di aspal, kehujanan, kehujanan sambil bikin video, gue gigit-gigitin saking gemesnya. Pokoknya hampir semua bentuk pelampiasan amarah dan jengkel gue lakukan ke si Xperia itu. Kalau dia manusia dan pacar gue, mungkin dia udah lapor ke KOMNAS HAM.

Untungnya, Nyokap gue mau ambil itu HP dengan alasan, 'Ada Whatsapp-nya kan?'. Walaupun Nyokap kesulitan ngetik pake keyboard qwerty (sering banget typo) tapi dia mau juga. Gue sabar-sabarin ngajarin dia buka SMS, buka phonebook, tombol buat angkat telepon. Ya basic-basic-nya aja sih yang penting.

Sedangkan gue, sekarang gue pakai Sony Xperia Z5, masih satu rumpun Xperia cuma lebih banyak fitur-fitur kerennya. Oh iya, sepanjang hidup gue cuma pakai HP Nokia satu kali waktu SD kelas 2/3, sisanya semuanya merek Sony. Nggak tau kenapa gue cuma suka sama produk Sony. Untuk HP ya. Mungkin karena gue lebih terbiasa sama setting-annya yang kalau orang-orang bilang justru lebih ribet dibanding Samsung atau merek lainnya.

Pas pertama kali HP ini jatuh di tangan gue, yang pertama kali gue coba adalah kameranya. Sering gue liat di Instagram yang pakai Xperia Z5 ini, katanya kameranya baguuusss banget. Kayaknya mereka terlalu berlebihan karena kameranya sebenernya TSADEEESSSTTT BGT! I really adore the camera, yaiyalah bisa sampai 25 megapixel. Nikon gue aja cuma 18 megapixel. Setelah tau kameranya ciamik banget, gue jadi agak meninggalkan Nikon-kun gue. Bukan cuma karena hasil fotonya lebih bagus, tapi juga lebih ringan dan selalu gue bawa kemana-mana. Gue jadi kepikiran mau jual DSLR gue. Walaupun udah lumayan tua, tapi kali-kali aja ada yang minat. Hehehe.

Selain foto, fitur video-nya juga nggak kalah warbyasah. Vlog gue yang baru gue upload waktu itu, gue video-in pakai kamera HP only. Full HD 30fps. Sekarang gue baru ngerti bedanya fps-fps itu hahaha. Nggak ngerti secara teoritik but at least gue bisa liat perbedaannya. Gue seneng banget bisa bikin video cuma pakai HP. Jadi inget Joko Anwar pernah bikin film pendek pakai HP.

Fitur bagus dan mantap nggak lepas dari kekurangan. Satu yang paling kerasa jelas dari si Hot-Hot ini adalah ya itu, hot. Panas. Panas banget gila. Cepet banget panasnya. Pertama kali gue make, ya biasalah, langsung connect wifi, download sana-sini, nonton Youtube (iseng doang nyobain nonton pake HP hehe), dan nyobain game macem-macem. Nggak lama, tangan berasa panas gatel gitu. Sempet gue diemin sebentar karena gue pikir, mungkin karena gue kebanyakan main. Pas dicoba lagi, buka-buka apps sebentar, eh panas juga. Walaupun nggak sepanas ketika lagi main games. Karena gue panik, takutnya ini barang cuma manis di luar tapi pahit di dalam, gue coba browsing, cari-cari review tentang si Z5. Ternyata oh ternyata, emang ada komponen di dalamnya yang bikin cepat panas. Katanya sih ini kesalahan Sony karena salah pilih komponen apalah itu gue nggak ngerti namanya apaan. Pokoknya si ciprik ini yang bikin HP cepet panas. Yha. Ibarat cewek yah, biar cantik, muka mulus, dan photogenic, tetep aja ada kurangnya. Kurangnya kalau nggak bego, suka makan upil, atau psikopat. Itu.

But overall gue sukak sama si Hot-Hot. Kehadirannya membuat gue semakin hiperaktif googling sana-sini dan main social media. Hahaha. Gue juga jadi lebih semangat foto-foto karena ya itu, gambarnya jadi bening dan bagus (padahal cuma foto jempol kaki). Dari hal remeh-temeh seperti HP, gue belajar untuk menerima kekurangan. Karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah swt., sedangkan kita manusia adalah tempatnya kesalahan dan kekurangan. Maka daripada itu, terimalah kekurangan pasangan, jangan jadikan itu alasan untuk terus-terusan mencari yang lebih baik...







HAHAHAHAHAHAHA TAI, GELEUH SENDIRI NULISNYA HOEEEKKKKKK.

Maapkeun.

Itu bukan curhat. Itu gimmick doang biar kalian bisa ketawa baca tulisan gue. Sumpah ._.v

Sooo, sekian review singkatnya. Semoga bermanfaat walaupun gue meragukan adanya manfaat di setiap postingan yang gue tulis. Yah, intinya apapun yang lo punya sekarang, bersyukurlah. Nggak ada yang lebih baik untuk dilakukan selain bersyukur atas segala sesuatu yang lo miliki hingga detik ini :) Ciao.

Saturday, January 30, 2016

A Review for: Kafe Rute 15 dan NIBBLES

Halo, semua! Annyeonghaseyo! Hahaha. Maaf kalau tiba-tiba jadi suka ngeluarin kata-kata Korea karena beberapa pekan ini gue habiskan dengan nonton K-drama. I'm addicted to it. Sebenernya dari dulu emang suka sih nonton drama-drama Korea. Cuma sempat nggak nonton lagi karena mulai booming K-pop nya dan gue jadi kurang greget lagi sama Korean-Korean-an.

Anyway, karena terlanjur bawa-bawa Korea, postingan kali ini didukung oleh teman gue yang Korean sejati--sampai-sampai kuliahnya pun jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea--the one and only, Mz Andi.

Selasa kemarin adalah pertemuan pertama kita di tahun 2016. Karena beberapa minggu sebelumnya kita sama-sama desperately desperate with our own life (keren nggak, tuh), akhirnya kita memutuskan untuk ketemuan. Waktu itu dia minta makan sushi. Dan ditraktir. Gue mengiyakan aja tapi H-1 gue kepengen banget nyobain makan di kafe-kafe boljug yang sekarang lagi banyak menjamur di sekitar Pasar Lama, Tangerang. Akhirnya gue pilih Kafe Rute 15.

Monday, December 14, 2015

Bacaan Akhir-Akhir Ini di Rumah

You know ketika memasuki dunia perkuliahan, harus gue akui hobi membaca gue semakin menurun. Entah karena waktunya terpakai untuk hal lain yang lebih urgent, atau gue nya yang memang udah males baca. Tapi akhirnya gue berusaha membangkitkan kembali kegiatan membaca setelah dua hal: sebuah tweet dari Bli Aditya (@commaditya),


dan yang kedua, kata-kata Nyokap yang bilang kalau baca itu penting, terutama baca tentang info-info seputar kehidupan; parenting, agama, children, health, semuanya. Karena nanti itu bakal berguna banget. Dia sih udah ngerasain dampaknya, dan bagus. Sebagai anak gue harus mengakui bahwa cara Nyokap membesarkan gue adalah yang terbaik (atau mungkin menurut kalian orang tua kalianlah yang terbaik but it's okay karena kita nggak terlahir dari rahim yang sama jadi sangat wajar kalau kalian lebih pro ke orang tua masing-masing. Hidup orang tua kita!) To know that she got those things at my age by read from a lot of sources, I must follow her way and start to read more from now on.

Nyerempet sedikit ke masalah parenting (yang gue tau ini terdengar tua sekali tapi nggak papa, ingat, iqra bacalah!), beberapa minggu yang lalu gue iseng buka Twitter dan ngeliat nama penulis favorit gue, Adhitya Mulya on one of tweet. Iseng lagi, gue klik dan buka blog-nya dia. Tulisan pertama yang gue baca adalah yang ber-label 'kids and parenting' dan setelah gue baca, bagus. Bagusnya bagus yang, bener gitu. Apa yang dia omongin di situ gue harus setuju. Walaupun gue belum punya anak, tapi beberapa hal yang ia sampaikan itu diajarin juga sama orang tua gue. Gue pun suka dengan cara penulisannya yang santai dan nggak terlalu menggurui, dan memang Mas Adhit ini yang paling gue anut cara menulisnya. Apalagi setelah gue baca novelnya, 'Sabtu bersama Bapak' yang keren banget. Katanya mau di film-in, ya? Semoga bisa sama bagusnya sama novelnya deh.

Sejak itu, gue jadi pembaca setia dan masih scroll-scroll postingannya yang di bawah-bawah. Kebanyakan tentang parenting, ada juga tentang agama (post 'Tujuan Hidup' bagus banget, must read walaupun kita masih mahasiswa), dan cerpen-cerpen yang bikin mewek ('Bubble Tea untuk Semi sejauh ini jawara). Gue sangat merekomendasikan blog-nya, suamigila.com sebagai bacaan iseng-iseng bermanfaat. Lumayan buat ngisi waktu daripada bengong mikirin tugas yang cuma sanggup dipikirin. Bukannya dikerjain malah dipikirin ya. Aneh. Kuliah itu aneh. Lebih aneh lagi yang pertama kali bilang kalau kuliah itu aneh. Aneh kan bisa mikir aneh gitu?

Sunday, May 31, 2015

Talking Taste

Mari kita langsung ke duduk perkaranya saja karena postingan ini harusnya keluar kemarin malam but then shit happened and I have to postponed my ideas. So, tonight I'm going to give you a review about food. Yes, food. I don't know why but now food has become something I need the most. Even I still eat rarely, but I do like it if 1) the food taste good and 2) the food is cheap. Sekian dan terima kasih.


Anyway, seperti yang gue bilang tadi, gue mau me-review tentang makanan. Kenapa gue sebut review karena biar terkesan kayak penulis-penulis artikel ajah. Ehe ehe ehe. Jadi kemarin, dengan teganya dosen gue mengadakan make up class di hari Sabtu. Tapi untungnya, Tya ngajakkin kita-kita makan sehabis kelas. Awalnya ditawarin ngopi-ngopi cantique gitu di kafe, terus akhirnya si Tya nawarin masakan Korea yang murah di daerah Senopati. Di antara kami berenam, yang nggak ngerti masalah Korea-Korea-an cuma gue dan Lutfiah. Jadi ya bukan cuma karena kalah jumlah sih, tapi karena penasaran juga sama masakan Korea karena terakhir kali gue nyobain makanan Korea itu di acara Korean Culture Day-nya UI tahun kemarin bareng Imam dan itu nggak enak.


Dengan mobil Tya--yang gue sebut mobil badut karena satu mobil Yaris isinya empat penumpang di belakang, bahkan Tya harus merelakan kakinya yang panjang ketekuk sepanjang perjalanan--kita berangkat menuju Jjang, the Korean restaurant.


Sampai di sana, Tya, Nadhira, Ratih, dan Dila langsung memesan makanan apa aja yang 'pantas' untuk kita santap ramai-ramai. Sementara gue dan Lutfiah cuma buka-buka menu, berusaha baca nama-nama makanannya yang rada susah. Setelah ngobrol-ngobrol dan satu batang rokok untuk Tya, makanan kita datang. Yang pertama adalah,


Tteokbokki, atau dalam pengucapan Indonesia topoki. Ini adalah kue beras, dan ini makanan yang gue bilang nggak enak pas gue cobain di KCD. Ternyata pas nyobain di sini lumayan enak. Walaupun menurut gue teksturnya agak aneh; lembek nggak, keras nggak. But the taste is good. By good means three out of five.


Selanjutnya makanan yang lumayan berat, karena tools-nya pun berat; segala ada kompor, panci, centong, capitan, dan... udah sih itu doang. Dan itu adalah,



duh gue lupa namanya apaan. Pokoknya ini semacam ramen isi daging dan sayur-sayuran. Enak banget. Mungkin karena laper, tapi ini beneran enak. Basically I like noodles dan kuah, so I really enjoying eat this food. I give it a five out of five stars. Delicioso!


Sebenernya ada dua makanan lagi yang kita makan, gimbap or kimbap dan satu lagi semacam kayak ayam potong kecil-kecil gitu. Ya amplop aku lupa namanya apaan, aku keasyikan makan kayaknya sampai lupa nama-namanya. Tapi apalah artinya sebuah nama, yang penting kami senang dan kami kenyang. Well, so sorry that I don't have any photos of these two foods :(

The last food is Nadhira-Ratih-Dila's karena mereka katanya masih belum kenyang dan akhirnya patungan bertiga buat beli one more dish. Rasanya aneh kalau menurut gue, karena sausnya katanya dari kacang kedelai. Dan nama makanannya adalaaah... ya, gue kasih fotonya aja yah.


Selesai makan kita ngobrol tentang perkuliahan. Lumayan lama buat nurunin makanan. Abis dari situ kita memutuskan untuk ngemil-ngemil cantique aja di daerah Kemang. About Kemang, I'm sorry to say this but I hate this area because the street is too small and the cars are too much. If Kemang was made as a free-walk-area, it would be very-very nice I guess. Because Kemang has so many restaurants and cafes in each block, so I think it doesn't matter if we have to take a walk around Kemang.

Well we drove for about 20 minutes until we reached Toodz House. It was a small cafe but very homey. With French-jazz-song which I really like, I think it's the best cafe I've ever been so far. The foods have medium price even we just ordered some beverages and a plate of waffle. Yes, because we are mahasiswa, dan mahasiswa harus hemat dan susah-senang bersama. Hm hm hm hm hm.

I'm sorry again because I didn't take any picture in there because you know what? Kita semua terlalu sibuk menertawakan kebodohan kita.


Adios, Bitches.

Monday, May 11, 2015

El Jomblo

(baca: el homblo)

Jadi gue baru saja bernostalgia dengan menonton kembali film favorit sepanjang 19 tahun gue hidup; Jomblo. Sedikit tentang asal-muasal filmnya, ini adaptasi novelnya mas Adhitya Mulya, salah satu penulis yang gaya nulisnya gue sukak (pake k) banget dan selalu gue jadikan pedoman tiap kali gue nulis. Apalagi setelah gue baca dua novel lainnya yang ternyata gaya komedinya khas banget. He does have a good sense of humor. Like me. Ehe.




© based on a true story.
Maira Gall