Just so you know, I haven't finished my thesis. Yet.
Gue tau tulisan kayak gini biasanya berujung pencitraan mandraguna hulabalu segala macem, tapi beberapa hari ini ada banyak sekali hal-hal yang berputar di kepala gue dan kalau gue nggak menuangkan itu either lewat tulisan atau lisan, gue takut gue bisa jadi gila. Jadi karena gue merasa jauh lebih percaya diri ketika menulis, maka gue menulis ini.
So yeah, I haven't finished my thesis yet. And what's so wrong about that? Apa yang salah dengan hal itu? Tergantung darimana gue melihat itu sih, sebenernya. Secara major, gue melihat ini dari sisi teman-teman seangkatan gue, baik di kuliah, di SMA, di SMP, atau SD (nggak ada yang di TK karena dulu belum ada media sosial) yang hampir semuanya (kayaknya) udah pada lulus. Bahkan udah banyak yang wisuda juga. To be honest, gue benci sekali melihat setiap postingan di Instagram yang isinya either 1) foto selesai sidang beserta bebungaan palsu yang akhirnya bakal layu dan dibuang juga, 2) foto wisudaan dengan kebaya cantik (gue pengen banget pake kebaya lagi, fyi), makeup ciamik, dan bebungaan palsu lagi tapi kali ini lebih banyak, atau 3) kombinasi dari kedua hal tersebut. Well, I know gue terdengar sangat... menyedihkan, mungkin, dan being consciously miserable just by seeing that. Karena hal-hal itu kan, ya bisa dibilang lumrah lah ya, gue pun nggak bisa menghindari kalau gue ada di posisi mereka gue akan mengumbar kebahagiaan itu di media sosial. And even if I hate it so much, I can choose to just let it go. Gue bisa memilih untuk ber-oh-yaudah aja tiap ada postingan foto kayak begitu di timeline Instagram gue. Tapi pada akhirnya gue memilih untuk membenci itu just because I am not there yet. Yang pada akhirnya juga membuat gue berpikir kenapa gue belum sampai di titik itu. Yang pada akhirnya lagi membuat gue berpikir alasan gue belum sampai di titik itu adalah karena gue masih duduk diam di depan laptop, buka YouTube dan nontonin video-nya Gita Savitri dan Suhay Salim, dan bukannya buka MS Word, buka file bab 3 skripsi gue, dan tekun menyelesaikannya sampai selesai.
Yang pada akhirnya lagi membuat gue justru semakin mempertanyakan kapabilitas gue dalam menyelesaikan skripsi sekaligus membenci diri gue sendiri karena sudah mempertanyakan hal itu.
And yes, welcome to Adella's feedback loop of hell, kalau kata Mark Manson.
Jadi kalau mau disimpulkan dengan singkat, padat, dan jelas, kenapa gue bisa bilang gue benci melihat postingan Instagram yang berbau kelulusan adalah, karena hal itu membuat gue berakhir dengan membenci diri gue sendiri. (Hate is a strong word by the way, I think I misused this word but yaudahlah ya.) But I didn't blame you, my dearest friends, karena mem-posting hal itu. Nggak sama sekali. Gue tau itu hak kalian, dan mungkin itu adalah cara kalian untuk menyalurkan rasa bahagia kalian. Again, it's just me. Maka pada akhirnya belum menyelesaikan skripsi menjadi suatu hal yang salah ya karena gue melihat dari sisi itu.
Can it be a not-so-wrong thing? Kayaknya bisa. Kalau gue lihat dari sisi orang-orang yang juga bernasib sama, dan bahkan lebih parah dari gue. Masih banyak juga temen-temen gue yang belum sidang, atau masih ngerjain skripsi, atau malah masih asyik main mobile legends. Gue nggak tau sih apakah ini bad thing or not tapi ketika gue ngeliat mereka, yang ada di pikiran gue adalah: 1) Wow, santai sekali hidup mereka seperti tidak ada beban! Aku harus bisa seperti itu juga walaupun skripsiku belum selesai! 2) Wow, santai sekali hidup mereka seperti tidak ada beban! Tapi itu semua mustahil, aku tau deep down mereka pasti juga panik dan pengen cepet-cepet selesaiin skripsinya. Aku tidak boleh seperti itu dan harus segera menyelesaikan skripsiku!
Kenapa ada banyak sekali pro dan kontra di otakku yah haduh...
I didn't mean to make my friends who haven't finished their thesis as a bad example and become a source of "motivation" untuk sebisa mungkin lebih baik dari mereka. Gue sadar betul tiap orang punya phase waktunya masing-masing dan gue nggak bisa mengklaim mereka lelet atau apalah, karena gue nggak tau apa yang ada di dalam pikiran dan hati mereka. Tapi lucunya, hal ini seolah-olah hilang ketika gue ngeliat temen-temen gue yang udah pada lulus. Tiba-tiba gue bergumam, kok dia bisa cepet ya selesainya... Terus beberapa detik kemudian gue inget lagi soal phase waktu tadi dan menjadikan itu sebuah pembelaan. Pembelaan yang lama-kelamaan malah jadi alesan untuk terlalu santai. Is that wrong? Well, not really sebenernya. At the end nggak ada yang seratus persen bener, nggak ada yang seratus persen salah. Iya nggak, sih? Tergantung gimana gue menyikapi hal ini kan, sebenernya? Gue bisa aja berhari-hari bermuram durja karena ngeliat temen-temen SMA gue udah pada lulus (apa? temen???) tanpa ngasih any progress buat skripsi gue. Atau gue bisa aja terus-terusan bilang bahwa phase waktu gue emang segini, gue nggak bisa dipaksa untuk kerja lebih cepet walaupun taruhannya skripsi gue jadi lama kelarnya. And honestly I don't know why I'm telling this to you guys, seriously, otak gue kayaknya udah mulai fucked up karena kelamaan dianggurin. Tapi gini aja deh kesimpulannya (harus banget ada kesimpulan ya padahal cuma postingan blog doang):
Gue rasa gue dan teman-teman gue lainnya, terutama yang seangkatan, udah sampai pada titik di mana nobody can push you harder except yourself. That or the college expanses your parents have spent. Any sort of motivation 101 or semangat-kakak-ngerjain-skripsinya kind of thing has become a bullshit. Nggak tau yaaa, gue sih ngerasanya gitu. Dari dulu gue nggak pernah tergerak untuk ngerjain sesuatu cuma karena disemangatin sama "orang terdekat". Karena gue tau yang bisa gerakin gue buat ngerjain sesuatu itu ya cuma gue. Dan semakin gue mikirin ini gue jadi makin bingung, sebenernya apa maksud dan tujuan gue nulis ini selama kurang lebih dua setengah jam? Well, you know, I'm just sayiiing. Everyone deserves to say whatever they want to say, riiight? Hahaha gila ya gue segitu takutnya di-judge sama orang padahal nggak ada yang mau judge juga (eh apa sebenernya ada? Ya nggak papa sih kalau ada, Inshaa Allah aku siap kok di-judge.) Ini sih sebenernya biar otak gue nggak luber aja, terus biar ada pancingan supaya gue bisa lanjut nulis yang lain. Plus gue terinspirasi dari videonya Fathia Izzati yang Hidup Setelah Lulus dan postingannya Andi yang berjudul hampir sama. Bedanya mereka ngomongin kehidupan setelah lulus, gue ngomongin kehidupan sebelum lulus. Yha.
Tapi, beneran deh. Gue pingin cepet-cepet lulus. Gue mau pake kebaya sama sneakers putih gue yang dekil itu.
Thoughts to be Shared
Showing posts with label Thoughts to be Shared. Show all posts
Sunday, March 4, 2018
Arguing about an Article and the Comments of the Article
Beberapa waktu lalu gue sempat meluangkan waktu gue untuk membaca beberapa artikel seputar kehidupan sehari-hari di sebuah situs yang (sepertinya) berbau equality matters. Yah, tahulah, situs yang berisi artikel-artikel opini tentang perempuan dan juga laki-laki sebagai topik utama dan masalah-masalah sosial lainnya. Intinya situs ini punya banyak artikel yang seru untuk dibaca.
Karena penasaran, gue pun mencoba scroll down timeline Twitter situs tersebut, berusaha mencari artikel-artikel yang sekiranya bisa gue baca. Akhirnya gue menemukan satu artikel tentang membaca. Isinya, setelah gue baca, adalah keresahan (can I say that?) si penulis tentang kebiasaan membaca di lingkungan sekitarnya, khususnya orang-orang yang dia kenal. Di sana dia semacam mempertanyakan bagaimana membaca bisa jadi sesuatu yang nggak dilakukan oleh orang padahal dengan membaca kita bisa mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan.
Ketika gue membaca artikel itu, gue setuju dengan apa yang diutarakannya. Ya sebagai orang yang suka baca, mau nggak mau gue mengiyakan poin-poin yang ia jabarkan. Sampai akhirnya gue iseng baca kolom komentarnya. Dan di situ gue disadarkan bahwa beberapa poin yang ditulis si penulis agak kurang relevan.
Pertama, si komentator bilang kalau si penulis nggak seharusnya menghubungkan minat membaca dengan gelar seseorang. Jadi, di artikel itu si penulis membukanya dengan menceritakan temannya yang udah dapet gelar doktoral, tapi ketika ditanya lo suka baca nggak si teman menjawab nggak. Si penulis kaget (dia nulis dia kaget, bukan gue ngeliat langsung muka si penulis dengan mata melotot dan hidung kembang-kempis), ia pun bertanya-tanya, kok bisa elo yang udah gelar doktoral tapi masih nggak suka baca? Gimana bisa elo dapet ilmu tinggi tapi nggak hobi baca?
Si komentator memermasalahkan ini dengan bilang, nggak ada hubungannya orang yang udah sekolah tinggi dengan hobi membaca. Kalau memang dia nggak suka baca, ya mau diapain lagi. Lagipula si teman yang udah bergelar ini nggak mungkin nggak baca apa-apa selama dia kuliah. Dia pasti baca jurnal-jurnal untuk mendukung tesisnya. Jadi, ketika ditanya suka baca apa nggak, ya wajar kalau dia jawab nggak. Mungkin dia udah enek baca jurnal yang bejibun dan setelah lulus, ini adalah saatnya dia untuk istirahat panjang dari kegiatan membaca.
Gue ngangguk-ngangguk pas baca komentar itu. Si komentator ada benernya juga. Bahkan gue yang anak sastra pun kalau bukan karena tugas atau disuruh dosen untuk baca jurnal-jurnal tai tentang marxisme, feminisme, atau psikoanalisis, mungkin gue nggak akan mau sukarela meluangkan waktu untuk membaca itu. Dan setelah gue baca berlembar-lembar tulisan orang, gue suka ngerasa ah udahlah, capek baca mulu, mau istirahat dulu (iya, gue akuin gue anak sastra yang buruk karena males baca). Jadi gue pikir nggak seharusnya si penulis dengan serta-merta kaget dan bilang, gimana bisa cuy elo udah punya gelar tapi nggak suka baca???
Kedua, si komentator mulai ngebahas membaca sebagai satu-satunya cara mendapatkan ilmu. Dia bilang, ada banyak cara di dunia ini untuk mendapatkan ilmu, pengetahuan, bahkan pengalaman. Exploring the world and the people, watching some videos, or listening to people's experience, itu juga merupakan cara-cara untuk bisa dapet ilmu. Intinya, ilmu nggak cuma bisa didapat dengan membaca doang. Si komentator merasa keberatan dengan klaim si penulis yang satu ini. Bahkan dia sampai bilang kalau si penulis ini terlalu naif untuk menerima kenyataan bahwa di dunia ini ada orang yang nggak menjadikan membaca sebagai hobi atau kebiasaan.
Di sini, gue keberatan dengan si komentator. Memang ada banyak cara untuk mendapatkan ilmu, gue pun mengakui selain membaca gue juga seneng nonton video, gue suka liat gambar bergerak, dan nggak jarang gue lebih paham ketika dijelasin lewat video ketimbang baca teks. Tapi, walaupun cara-cara itu terbukti ampuh, membaca adalah cara termudah, terefektif, dan terbaik (menurut gue) untuk mendapatkan ilmu atau informasi. Gue ngerasain hal itu (walaupun telat). Okelah membaca itu bagi sebagian orang bisa dijadiin hobi yang mana mereka bisa melakukan itu tanpa pressure tapi lebih ke fun. Tapi gue nggak bisa bilang kalau membaca itu nggak penting. Membaca itu penting. Mungkin kalau dari segi isi, itu tergantung minat masing-masing orang. Ada yang suka baca fiksi, non fiksi, sejarah, dan sebagainya. Tapi lebih dari itu, dengan banyak membaca setidaknya lo bisa punya gambaran bagaimana tulisan yang baik dan enak dibaca itu bisa dibuat, yang pada akhirnya akan berguna ketika lo menulis (which is something that everyone in education system will do, right?). Ketika membaca lo nggak cuma sekedar dapet informasi, tapi lo juga melihat bagaimana struktur kalimat disusun dengan baik sehingga lo betah baca bacaan itu.
Gue nggak akan ngomongin artikel pendek ndak jelas yang suka muncul di Line Today (I stopped scrolling down my Line's timeline by the way because it's a waste of time number two setelah nontonin snapgram rangorang). Ya walaupun artikel berita juga layak dibaca, tapi entah kenapa gue ngerasa berita itu sekarang gampang banget diputar-balik. Gue selalu enggan buat nge-klik artikel berita-berita macam detikcom atau kompascom, apalagi yang judulnya memancing rasa penasaran. Gue lebih suka nge-klik tautannya Uda Ivan Lanin karena beliauterlihat muda sekali di avatar Twitter-nya membahas bahasa Indonesia dan tata bahasa yang benar.
Maksud gue tentang membaca itu adalah minimal artikel opini orang-orang tentang sebuah isu atau masalah atau keresahan kayak artikel yang gue baca itu. Biasanya setelah gue baca sampai selesai, gue baru sadar, wah tulisannya rapih. Susunannya bagus, nggak kayak tulisan blog gue. Ada masalah, ada contoh masalah, mempertanyakan masalah, membahas masalah, dan mencari solusi dari masalah. Kurang lebih itu yang suka gue liat ketika membaca. Jadi, selain untuk menyerap isi bacaan, membaca juga bisa jadi latihan untuk menulis.
Dan hal teknis kayak gini gue rasa nggak bisa didapetin dengan jalan-jalan, ketemu orang, ngobrol, atau apalah selain membaca. Membaca itu kayak nonton film, masing-masing orang akan punya experience yang beda setelahnya. Apa yang lo liat belum tentu sama dengan orang lain. Lo bisa punya persepsi sendiri terhadap suatu hal. Lo juga bisa dapet ilmu yang mungkin orang lain nggak nemu. Intinya, menjadikan membaca sebagai suatu kebiasaan itu harus. Apalagi di jaman sekarang di mana informasi apapun, positif atau negatif, bisa langsung kesebar dengan cepat. Semakin banyak lo membaca, semakin lo bisa punya banyak pandangan berbeda, dan lo bisa jadi orang yang objektif dalam melihat suatu masalah. Dengan banyak baca, lo nggak akan terjebak dalam satu sumber yang sama dan berakhir jadi orang yang subjektif (dan orang subjektif biasanya nggak jauh-jauh dari sifat nyebelin).
Kecuali yah, kalau emang situ udah fanatik banget sama satu sumber dan males cari sumber lain, yah, apa boleh buat. Setidaknya situ udah melakukan satu kegiatan yang baik; membaca.
Karena penasaran, gue pun mencoba scroll down timeline Twitter situs tersebut, berusaha mencari artikel-artikel yang sekiranya bisa gue baca. Akhirnya gue menemukan satu artikel tentang membaca. Isinya, setelah gue baca, adalah keresahan (can I say that?) si penulis tentang kebiasaan membaca di lingkungan sekitarnya, khususnya orang-orang yang dia kenal. Di sana dia semacam mempertanyakan bagaimana membaca bisa jadi sesuatu yang nggak dilakukan oleh orang padahal dengan membaca kita bisa mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan.
Ketika gue membaca artikel itu, gue setuju dengan apa yang diutarakannya. Ya sebagai orang yang suka baca, mau nggak mau gue mengiyakan poin-poin yang ia jabarkan. Sampai akhirnya gue iseng baca kolom komentarnya. Dan di situ gue disadarkan bahwa beberapa poin yang ditulis si penulis agak kurang relevan.
Pertama, si komentator bilang kalau si penulis nggak seharusnya menghubungkan minat membaca dengan gelar seseorang. Jadi, di artikel itu si penulis membukanya dengan menceritakan temannya yang udah dapet gelar doktoral, tapi ketika ditanya lo suka baca nggak si teman menjawab nggak. Si penulis kaget (dia nulis dia kaget, bukan gue ngeliat langsung muka si penulis dengan mata melotot dan hidung kembang-kempis), ia pun bertanya-tanya, kok bisa elo yang udah gelar doktoral tapi masih nggak suka baca? Gimana bisa elo dapet ilmu tinggi tapi nggak hobi baca?
Si komentator memermasalahkan ini dengan bilang, nggak ada hubungannya orang yang udah sekolah tinggi dengan hobi membaca. Kalau memang dia nggak suka baca, ya mau diapain lagi. Lagipula si teman yang udah bergelar ini nggak mungkin nggak baca apa-apa selama dia kuliah. Dia pasti baca jurnal-jurnal untuk mendukung tesisnya. Jadi, ketika ditanya suka baca apa nggak, ya wajar kalau dia jawab nggak. Mungkin dia udah enek baca jurnal yang bejibun dan setelah lulus, ini adalah saatnya dia untuk istirahat panjang dari kegiatan membaca.
Gue ngangguk-ngangguk pas baca komentar itu. Si komentator ada benernya juga. Bahkan gue yang anak sastra pun kalau bukan karena tugas atau disuruh dosen untuk baca jurnal-jurnal tai tentang marxisme, feminisme, atau psikoanalisis, mungkin gue nggak akan mau sukarela meluangkan waktu untuk membaca itu. Dan setelah gue baca berlembar-lembar tulisan orang, gue suka ngerasa ah udahlah, capek baca mulu, mau istirahat dulu (iya, gue akuin gue anak sastra yang buruk karena males baca). Jadi gue pikir nggak seharusnya si penulis dengan serta-merta kaget dan bilang, gimana bisa cuy elo udah punya gelar tapi nggak suka baca???
Kedua, si komentator mulai ngebahas membaca sebagai satu-satunya cara mendapatkan ilmu. Dia bilang, ada banyak cara di dunia ini untuk mendapatkan ilmu, pengetahuan, bahkan pengalaman. Exploring the world and the people, watching some videos, or listening to people's experience, itu juga merupakan cara-cara untuk bisa dapet ilmu. Intinya, ilmu nggak cuma bisa didapat dengan membaca doang. Si komentator merasa keberatan dengan klaim si penulis yang satu ini. Bahkan dia sampai bilang kalau si penulis ini terlalu naif untuk menerima kenyataan bahwa di dunia ini ada orang yang nggak menjadikan membaca sebagai hobi atau kebiasaan.
Di sini, gue keberatan dengan si komentator. Memang ada banyak cara untuk mendapatkan ilmu, gue pun mengakui selain membaca gue juga seneng nonton video, gue suka liat gambar bergerak, dan nggak jarang gue lebih paham ketika dijelasin lewat video ketimbang baca teks. Tapi, walaupun cara-cara itu terbukti ampuh, membaca adalah cara termudah, terefektif, dan terbaik (menurut gue) untuk mendapatkan ilmu atau informasi. Gue ngerasain hal itu (walaupun telat). Okelah membaca itu bagi sebagian orang bisa dijadiin hobi yang mana mereka bisa melakukan itu tanpa pressure tapi lebih ke fun. Tapi gue nggak bisa bilang kalau membaca itu nggak penting. Membaca itu penting. Mungkin kalau dari segi isi, itu tergantung minat masing-masing orang. Ada yang suka baca fiksi, non fiksi, sejarah, dan sebagainya. Tapi lebih dari itu, dengan banyak membaca setidaknya lo bisa punya gambaran bagaimana tulisan yang baik dan enak dibaca itu bisa dibuat, yang pada akhirnya akan berguna ketika lo menulis (which is something that everyone in education system will do, right?). Ketika membaca lo nggak cuma sekedar dapet informasi, tapi lo juga melihat bagaimana struktur kalimat disusun dengan baik sehingga lo betah baca bacaan itu.
Gue nggak akan ngomongin artikel pendek ndak jelas yang suka muncul di Line Today (I stopped scrolling down my Line's timeline by the way because it's a waste of time number two setelah nontonin snapgram rangorang). Ya walaupun artikel berita juga layak dibaca, tapi entah kenapa gue ngerasa berita itu sekarang gampang banget diputar-balik. Gue selalu enggan buat nge-klik artikel berita-berita macam detikcom atau kompascom, apalagi yang judulnya memancing rasa penasaran. Gue lebih suka nge-klik tautannya Uda Ivan Lanin karena beliau
Maksud gue tentang membaca itu adalah minimal artikel opini orang-orang tentang sebuah isu atau masalah atau keresahan kayak artikel yang gue baca itu. Biasanya setelah gue baca sampai selesai, gue baru sadar, wah tulisannya rapih. Susunannya bagus, nggak kayak tulisan blog gue. Ada masalah, ada contoh masalah, mempertanyakan masalah, membahas masalah, dan mencari solusi dari masalah. Kurang lebih itu yang suka gue liat ketika membaca. Jadi, selain untuk menyerap isi bacaan, membaca juga bisa jadi latihan untuk menulis.
Dan hal teknis kayak gini gue rasa nggak bisa didapetin dengan jalan-jalan, ketemu orang, ngobrol, atau apalah selain membaca. Membaca itu kayak nonton film, masing-masing orang akan punya experience yang beda setelahnya. Apa yang lo liat belum tentu sama dengan orang lain. Lo bisa punya persepsi sendiri terhadap suatu hal. Lo juga bisa dapet ilmu yang mungkin orang lain nggak nemu. Intinya, menjadikan membaca sebagai suatu kebiasaan itu harus. Apalagi di jaman sekarang di mana informasi apapun, positif atau negatif, bisa langsung kesebar dengan cepat. Semakin banyak lo membaca, semakin lo bisa punya banyak pandangan berbeda, dan lo bisa jadi orang yang objektif dalam melihat suatu masalah. Dengan banyak baca, lo nggak akan terjebak dalam satu sumber yang sama dan berakhir jadi orang yang subjektif (dan orang subjektif biasanya nggak jauh-jauh dari sifat nyebelin).
Kecuali yah, kalau emang situ udah fanatik banget sama satu sumber dan males cari sumber lain, yah, apa boleh buat. Setidaknya situ udah melakukan satu kegiatan yang baik; membaca.
Saturday, September 2, 2017
Soon Finland
Music, can bring a particular feeling to your... let's say heart, said someone somewhere here in the universe. Well I prefer to believe: it is us, who bring that particular feeling to our heart whenever we hear a song. The song is just standing there, until we came and put some feelings (or suggestion? or anything?) into it. The song did not create the sensation, but we did. Our brain works incredibly fast to pick a certain feeling, memory, or thought when we hear that catchy notes at that first chorus.
And with this song called "Soon Finland" by the so-called-and-categorized-as-indie-band The Girl with the Hair, I experienced that moment.
The guitar welcomes my ear and all of sudden, the whole stuffs popping up and bringing a sentimental feelings to my lungs. And my heart. My brain has amazingly choose one or two memories to make me feel more dramatic when I'm just sitting (or jongkok sometimes) here in front of the laptop. And again, I cannot say that it is the music that got me this sense. It is me, and my fuckin old memories that I don't know why but it perfectly suit with the song.
The post is supposed to end right here but I have an additional information about what memories did come across my brain when I listened "Soon Finland". I know it is not important that's why I suggest you to stop reading this post right now. But if you're insist---and only if you are insist---to read the rest of my words, I'd be appreciate it [insert bowing emoji/stickers].
It is not exactly a memory, it is just a kind of ambience that I'm not sure if I could describe it. It is like I'm on my way to new places with these people and I'm just so happy to walk out for awhile. I feel the clean air, the trees, the saltwater, and of course a glimpse of landscapes from the train and plane and car and motorcycle. Everything just mixed together so well that I started picturing those times I walk hand in hand with them, laughing over something ridiculous til my stomach aches so bad and tears fall down with no burden, having a little frustrating debate when you get lost and starving at the same time, telling some stories that you've never told before, and what else... screaming "I love you!" on the road with an high expectation that people would notice your happiness but, come on, you don't really care about it as long as the person behind you hear it clearly. And also many other things I couldn't even remember yet I can sense it right now.
I repeat the song over and over while I'm writing this post. You see, the song is practically just staying there, but as soon as the guitar starts to play, I flooded myself with tons of feelings and I put those into my words. I don't know why I'm writing this because I don't have any good closing statement for this post. Believe me, I've been thinking for half an hour so I decided to be honest to you all. Ciah.
This Saturday night, I choose to feel a bit philosophical/sentimental. And it turns well. More than well, I guess.
And with this song called "Soon Finland" by the so-called-and-categorized-as-indie-band The Girl with the Hair, I experienced that moment.
The guitar welcomes my ear and all of sudden, the whole stuffs popping up and bringing a sentimental feelings to my lungs. And my heart. My brain has amazingly choose one or two memories to make me feel more dramatic when I'm just sitting (or jongkok sometimes) here in front of the laptop. And again, I cannot say that it is the music that got me this sense. It is me, and my fuckin old memories that I don't know why but it perfectly suit with the song.
The post is supposed to end right here but I have an additional information about what memories did come across my brain when I listened "Soon Finland". I know it is not important that's why I suggest you to stop reading this post right now. But if you're insist---and only if you are insist---to read the rest of my words, I'd be appreciate it [insert bowing emoji/stickers].
It is not exactly a memory, it is just a kind of ambience that I'm not sure if I could describe it. It is like I'm on my way to new places with these people and I'm just so happy to walk out for awhile. I feel the clean air, the trees, the saltwater, and of course a glimpse of landscapes from the train and plane and car and motorcycle. Everything just mixed together so well that I started picturing those times I walk hand in hand with them, laughing over something ridiculous til my stomach aches so bad and tears fall down with no burden, having a little frustrating debate when you get lost and starving at the same time, telling some stories that you've never told before, and what else... screaming "I love you!" on the road with an high expectation that people would notice your happiness but, come on, you don't really care about it as long as the person behind you hear it clearly. And also many other things I couldn't even remember yet I can sense it right now.
I repeat the song over and over while I'm writing this post. You see, the song is practically just staying there, but as soon as the guitar starts to play, I flooded myself with tons of feelings and I put those into my words. I don't know why I'm writing this because I don't have any good closing statement for this post. Believe me, I've been thinking for half an hour so I decided to be honest to you all. Ciah.
This Saturday night, I choose to feel a bit philosophical/sentimental. And it turns well. More than well, I guess.
Tuesday, May 9, 2017
Why I Always Look Like I Don't Give A Shit For This Country
I was going to write something about organization, remembering that I just got back from SLET couple days ago. But then I opened my Twitter, read some of tweets from those Indonesian public figures (I don't think I should call them public figure but never mind), and found out that Ahok is being jailed today. Well, to be very honest, I don't really care about it or any kind of our political situation. It's because a) when I was in 8th grade and I did a presentation about politic, I couldn't understand the topic and ended up embarrassing myself for not able to debate about that topic, so I started to hate politic and all things connected to it. And b) karena politik itu jahat banget sejahat-jahatnya orang jahat. Menurut gue politik itu hampir setara dengan membunuh. It can killed yourself, it can killed your friendship, your ideology, your dignity, and so on. So yeah, call me a bad Indonesian for not giving any shit on this country's problems. Karena Capricorn tidak suka terlibat konflik tapi suka menyimak konflik yang ada. Huahaha.
After I scrolled down my timeline, I started to think of myself as a part of this country:
"I've decided to hate our political and other situations for they are so damn wrong and never being done, so, what kind of contribution that I can (or I have) give(n) to my beautiful country?"
Gue sempat menjawab dengan berkarya. Tapi gue langsung sadar bahwa gue belum punya karya yang pantas mewakili Indonesia. Gue berkarya untuk diri gue sendiri, untuk kesenangan gue pribadi. Menggunakan produk lokal, oke, gue akui itu bisa menjadi kontribusi yang sangat besar di bidang ekonomi dan kreatifitas, tapi masalahnya gue jarang belanja barang lokal karena pertama, tokonya kebanyakan online dan gue agak males belanja online dan kedua, mahal. Hehehe.
Terus gue jadi inget essay-nya Jonathan Swift yang dibahas di kelasnya Miss Dhika, tentang ide gila si penulis untuk mengatasi masalah kemiskinan di Irlandia dengan cara menjual setiap anak umur satu tahun untuk dijadikan makanan dan bahan pakaian. Oke, sebentar. Tentunya gue nggak bermaksud untuk ikut melontarkan ide gila gue untuk negara ini seperti yang dilakukan Om Swift, nggak. Tapi yang gue tangkap dari essay itu adalah, itu negara udah bobrok banget cuy pada saat itu (essay-nya keluar tahun 1729) and there was nothing easy to solve that problem. Even if there was something very logical, very easy, and acceptable for everyone (which is very impossible), it would take a long time to resolve the problem. And people didn't have a long time to wait the result of that logical solution. People would running out of patience and I think probably they would get angry at each other and then things would just getting worst.
When we discussed the essay, gue teringat salah satu dosen gue pernah menanggapi satu isu tentang buku cerita anak yang mesum dengan bilang: "Pilihannya cuma dua, seleksi atau menyesuaikan." (Sumpah, gue lupa detail jawabannya apaan. Jadi ini tuh dari grup yang di-cepu-in sama Lutfia, terus di share ke grup gue. Tapi sayang bukti fotonya udah ilang jadi gue agak lupa jawaban si dosen itu kayak gimana. Tapi mudah-mudahan kurang lebih intinya begitu.) Gue menangkap jawaban dosen gue itu adalah, secara garis besar, masalah-masalah di Indonesia nggak akan selesai dengan lo berkoar minta sana-sini untuk mengatasi itu semua. Kalaupun kita pengen bertindak, hasilnya nggak akan sesuai dengan harapan kita karena kita cuma orang biasa yang suka nongkrong di belakang kampus sambil main catur. Oke lah kalau kita adalah seorang yang punya influence tinggi terhadap orang-orang, tapi apakah masalah buku cerita anak itu bakal selesai begitu aja? Face it lah yah, Indonesia itu gampang ke-distract sama satu hal. Lagi ribut ngurusin yang A, tiba-tiba muncul yang B. Yang A belum kelar, tau-tau udah ngurusin yang B. Lagi sibuk nyelesain yang B, yang C malah muncul lagi. Begitu aja terus sampe Dora jadi presiden Spanyol. Jadi ya, ngurusin hal-hal begitu cuma buang-buang waktu dan energi. Daripada begitu, lebih baik urus diri sendiri aja dulu. Kalau tau ada buku cerita anak mesum udah beredar dimana-mana, ya jangan dibeli. Pinter-pinter pilih buku buat anak/saudara/keponakan. Karena percuma juga nge-anjing-anjingin oknum itu kalau kita nggak tau pasti siapa yang bikin. Iya, kan?
Balik lagi ke essay Jonathan Swift, gue melihat situasi yang digambarin Swift hampir sama dengan di Indonesia. We have so much problems here, like, a lot. And things would not getting better if we continuously put the blame on each other, on the government, on some people who we think is the responsible one. No, definitely not. Instead of doing that, why don't we try to bettering ourselves by doing good to everyone we know and everyone we meet. Why don't we try to make ourselves useful for those who need help. Why don't we see everything not only from our own perspectives but also from OTHERS' PERSPECTIVES, so we don't have to become that person who always think he/she is better than the others.
It might be sound selfish, sounds like you don't put so much effort for the country you live in. I do think it is selfish and egoistic, but to be honest, I have nothing more to give for my country. I don't think my thoughts or my speech, or my tweets, or my post on timeline Line, or even this blog post will change Indonesia (I believe those last three things are only to gather people attention and gain some likes or retweets. Don't be so naive, a little part of ourselves would more care about that rather than the purpose to encourage or inform people. Even I did that to myself sometimes). I prefer to start to do something from the closest place I can reach. I prefer to help my friends to study. I prefer to stop using plastic bag not because I want Indonesia to be free from plastic garbage, but simply because I don't want to make myself get used to use plastic bag. I prefer to use public transportation not because I can't ride a motorcycle or car, or I want Jakarta to be free from traffic jam, but simply because it is cheaper and healthier for me. I prefer to not getting involved in many issues in Indonesia because I know I'm not able to give some helps or solutions and also---I don't really care about it.
So why do I have to spend my time and my energy for something that I know would not be affected by my acts, when I'm capable enough to do something for my surroundings and, for myself?
After I scrolled down my timeline, I started to think of myself as a part of this country:
"I've decided to hate our political and other situations for they are so damn wrong and never being done, so, what kind of contribution that I can (or I have) give(n) to my beautiful country?"
Gue sempat menjawab dengan berkarya. Tapi gue langsung sadar bahwa gue belum punya karya yang pantas mewakili Indonesia. Gue berkarya untuk diri gue sendiri, untuk kesenangan gue pribadi. Menggunakan produk lokal, oke, gue akui itu bisa menjadi kontribusi yang sangat besar di bidang ekonomi dan kreatifitas, tapi masalahnya gue jarang belanja barang lokal karena pertama, tokonya kebanyakan online dan gue agak males belanja online dan kedua, mahal. Hehehe.
Terus gue jadi inget essay-nya Jonathan Swift yang dibahas di kelasnya Miss Dhika, tentang ide gila si penulis untuk mengatasi masalah kemiskinan di Irlandia dengan cara menjual setiap anak umur satu tahun untuk dijadikan makanan dan bahan pakaian. Oke, sebentar. Tentunya gue nggak bermaksud untuk ikut melontarkan ide gila gue untuk negara ini seperti yang dilakukan Om Swift, nggak. Tapi yang gue tangkap dari essay itu adalah, itu negara udah bobrok banget cuy pada saat itu (essay-nya keluar tahun 1729) and there was nothing easy to solve that problem. Even if there was something very logical, very easy, and acceptable for everyone (which is very impossible), it would take a long time to resolve the problem. And people didn't have a long time to wait the result of that logical solution. People would running out of patience and I think probably they would get angry at each other and then things would just getting worst.
When we discussed the essay, gue teringat salah satu dosen gue pernah menanggapi satu isu tentang buku cerita anak yang mesum dengan bilang: "Pilihannya cuma dua, seleksi atau menyesuaikan." (Sumpah, gue lupa detail jawabannya apaan. Jadi ini tuh dari grup yang di-cepu-in sama Lutfia, terus di share ke grup gue. Tapi sayang bukti fotonya udah ilang jadi gue agak lupa jawaban si dosen itu kayak gimana. Tapi mudah-mudahan kurang lebih intinya begitu.) Gue menangkap jawaban dosen gue itu adalah, secara garis besar, masalah-masalah di Indonesia nggak akan selesai dengan lo berkoar minta sana-sini untuk mengatasi itu semua. Kalaupun kita pengen bertindak, hasilnya nggak akan sesuai dengan harapan kita karena kita cuma orang biasa yang suka nongkrong di belakang kampus sambil main catur. Oke lah kalau kita adalah seorang yang punya influence tinggi terhadap orang-orang, tapi apakah masalah buku cerita anak itu bakal selesai begitu aja? Face it lah yah, Indonesia itu gampang ke-distract sama satu hal. Lagi ribut ngurusin yang A, tiba-tiba muncul yang B. Yang A belum kelar, tau-tau udah ngurusin yang B. Lagi sibuk nyelesain yang B, yang C malah muncul lagi. Begitu aja terus sampe Dora jadi presiden Spanyol. Jadi ya, ngurusin hal-hal begitu cuma buang-buang waktu dan energi. Daripada begitu, lebih baik urus diri sendiri aja dulu. Kalau tau ada buku cerita anak mesum udah beredar dimana-mana, ya jangan dibeli. Pinter-pinter pilih buku buat anak/saudara/keponakan. Karena percuma juga nge-anjing-anjingin oknum itu kalau kita nggak tau pasti siapa yang bikin. Iya, kan?
Balik lagi ke essay Jonathan Swift, gue melihat situasi yang digambarin Swift hampir sama dengan di Indonesia. We have so much problems here, like, a lot. And things would not getting better if we continuously put the blame on each other, on the government, on some people who we think is the responsible one. No, definitely not. Instead of doing that, why don't we try to bettering ourselves by doing good to everyone we know and everyone we meet. Why don't we try to make ourselves useful for those who need help. Why don't we see everything not only from our own perspectives but also from OTHERS' PERSPECTIVES, so we don't have to become that person who always think he/she is better than the others.
It might be sound selfish, sounds like you don't put so much effort for the country you live in. I do think it is selfish and egoistic, but to be honest, I have nothing more to give for my country. I don't think my thoughts or my speech, or my tweets, or my post on timeline Line, or even this blog post will change Indonesia (I believe those last three things are only to gather people attention and gain some likes or retweets. Don't be so naive, a little part of ourselves would more care about that rather than the purpose to encourage or inform people. Even I did that to myself sometimes). I prefer to start to do something from the closest place I can reach. I prefer to help my friends to study. I prefer to stop using plastic bag not because I want Indonesia to be free from plastic garbage, but simply because I don't want to make myself get used to use plastic bag. I prefer to use public transportation not because I can't ride a motorcycle or car, or I want Jakarta to be free from traffic jam, but simply because it is cheaper and healthier for me. I prefer to not getting involved in many issues in Indonesia because I know I'm not able to give some helps or solutions and also---I don't really care about it.
So why do I have to spend my time and my energy for something that I know would not be affected by my acts, when I'm capable enough to do something for my surroundings and, for myself?
Sunday, March 26, 2017
Anti Urusin Urusan Orang Club
Gue pikir semua orang bakal berubah. Ternyata nggak.
I did think that changes would come to me someday in the future. Walaupun gue sering bermasalah dengan konsep "perubahan", tapi gue sadar bahwa hal itu nggak akan bisa dihindari. Semenjak masuk ke dunia perkuliahan, semuanya jelas berubah. Lingkungan, orang-orang di dalamnya, dan makanan mungkin, semuanya bisa dibilang hal baru. Mungkin karena gue pada saat itu mendukung perubahan ini, bahwa kuliah bakal jadi awal gue membangun kembali semuanya. You know, leaving the past behind and look back only to see how far you go.
But somehow, hidup nggak cuma diisi sama orang normal dengan pemikiran logis dan dewasa. Sejatinya kita hidup dikelilingi banyak orang, dan beberapa di antaranya ada yang bikin hidup kita jadi lucu. Iya, lucu. Lucu karena kelakuan dan pikiran mereka yang diluar akal sehat kita.
Yang bikin lebih lucu lagi, orang-orang itu adalah mereka yang dulu pernah dekat sama kita.
Gue sempat dapet cerita menarik kemarin dari teman gue, Lutfia. Beberapa hari belakangan dia diajak untuk ngumpul sama teman-teman SMA-nya. Perlu dicatat bahwa teman gue ini adalah orang normal dengan pikiran yang logis. Catet nih. Nah, menjelang hari H, mulai diterorlah dia. Dipaksa untuk ikut dateng karena Lutfia udah janji bakal dateng walaupun nggak ikut kegiatan inti nggak berfaedah yang dirancang teman-temannya (baca: arisan). Perlu dicatat lagi bahwa kami, gue dan teman-teman gue, udah mulai diteror untuk ngerjain skripsi bab 1. Satu hal yang selama ini selalu kami bayangkan sebagai sesuatu yang menakutkan akhirnya datang. Tapi nggak menakutkan sih, cuma bikin pengen kayang di Bundaran Senayan aja. Balik lagi. Setelah diajak paksa untuk ikut, teman gue yang berpikiran normal dan logis ini bilang kalau dia mau nyicil bab 1-nya, terlebih karena dia memutuskan untuk ganti bahan dan harus mulai ngetik ulang background-nya.
Ini bagian seru dari orang-orang lucu yang ada di sekitar Lutfia.
Salah dua di antara mereka dengan santainya bilang,
"Ah basi," dan,
"It can wait, dude."
"..."
Walaupun gue seorang procrastinator, tapi denger ada orang dengan seenak pantat ngomong kayak begitu, rasanya pengen jejelin micin setoples biar dia tambah bego. Oke, mungkin gue terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mari kita berusaha untuk membuat mereka tidak terlihat sebagai the bad guy-nya. Pertama, mungkin mereka nggak tau apa itu skripsi. Mungkin mereka tau ejaannya tapi nggak tau apa definisinya. Ini bisa aja terjadi sama orang yang belum sampai ke jenjang bikin skripsi. Which leads us to kemungkinan yang kedua, mereka belum mulai skripsi karena kuliahnya berjalan lambat. Kenapa bisa terlambat? Penyebabnya ada di poin ketiga, terlalu banyak menghabiskan waktu di luar. Makan di restoran unik atau ngopi di kafe lucu, yang ujung-ujungnya bakal jadi tai juga (makanannya, bukan restorannya).
Nah, poin-poin di atas bisa menghasilkan sebuah research question berbunyi:
"Bagaimana orang bisa dengan hebatnya ngurusin hajat hidup orang lain, sementara hidupnya sendiri sedang butuh perhatian?"
Balik ke temannya Lutfia, menurut gue, menyarankan seseorang untuk melakukan atau nggak melakukan sesuatu itu udah termasuk "ngurusin orang lain". Dia cuma temen lho, bukan orang tua atau kanjeng ratu yang biayain uang kuliah Lutfia. Kok bisa ada orang mau maju ke depan terus tiba-tiba ditarik supaya mundur ke belakang? Ini--ah, ini tuh--wah gila sih. Gue udah nggak tau mau ngatain pake kalimat apa lagi. Kalau ada orang yang nggak tau apa-apa tentang gue yang sekarang, dan tiba-tiba dateng terus langsung ikut campur sama urusan gue padahal dia juga punya kehidupan yang harus dia urusin, gue rasa orang itu punya masalah yang harus segera dia atasi.
***
Awalnya gue menganggap ini cuma masalah perbedaan lingkungan yang bisa bikin seseorang melakukan sesuatu diluar paham yang lingkungan kita anut. Tapi setelah gue pikir-pikir, kalaupun lingkungannya beda, kita punya... apa ya istilahnya, sesuatu yang kita sepakatin bersama sebagai sesuatu yang normal. Nggak mau ikut nongkrong dan lebih memilih untuk ngerjain skripsi itu adalah normal. Normal banget. Di sini kita justru malah nemuin yang sebaliknya. Berarti perbedaannya udah bukan di lingkungan lagi, melainkan di logikanya.
Kita mungkin bisa menerima logika temannya Lutfia kalau kita masih SMA. Kita belum punya banyak pengalaman dan cerita-cerita menarik dari orang-orang yang belum pernah kita temuin. Masalah di SMA cuma berkutat sama UN dan cinta-cintaan. Skripsi nggak ada di dalamnya. Bayaran kuliah nggak ada di dalamnya. Kerja masih jauh kemana-mana. If she said skripsi itu basi pas kita sama-sama masih SMA, gue akan bilang itu normal.
And then we got into college, met new people, blended in the diversity, heard some new stories from success people, dan hal-hal rumit dan menyenangkan lainnya yang nggak kita temuin di SMA. Seiring dengan perubahan lingkungan dan orang-orang di sekitar, otomatis cara pandang kita juga ikut berubah. Kayak yang gue bilang tadi di awal, perubahan adalah sesuatu yang nggak bisa kita hindari. Hidup kita nggak bisa cuma muter di satu titik doang, harus muter kesana-kemari walaupun jadinya kayak Ayu Ting Ting. But, THAT'S LIFE. You experienced something new, something strange, something unknown, something that you think is good and fun and shaped you to become a better you.
Tapi ternyata nggak semua orang berkesempatan merasakan itu. Atau mungkin, nggak semua orang mau berkesempatan merasakan itu.
Gue pikir semua orang bakal berubah. Ternyata nggak.
I just want to say that, you can't expect the person you used to know to stay the same as you are. People have their own journey, and so you are. Find yours and live with it. Nggak perlulah ngurusin hajat hidup orang yang lingkungannya udah beda sama lo. Nggak perlulah kita ujug-ujug dateng cuma buat eh apa kabar lo dan reminiscing the old times kalau kenyataannya cuma berakhir di postingan Instagram doang. Nggak perlulah jadi sentimen ngeliat orang yang dulu pernah kita kenal udah punya kehidupan sendiri. Bikin punya lo sendiri yang menurut lo seru. Dengan begitu kita nggak perlu memaksakan hidup kita untuk sama dengan orang lain, cukup bagi aja pengalaman kita dengan mereka dan sebaliknya. Kelar deh. Gampang kan?
I did think that changes would come to me someday in the future. Walaupun gue sering bermasalah dengan konsep "perubahan", tapi gue sadar bahwa hal itu nggak akan bisa dihindari. Semenjak masuk ke dunia perkuliahan, semuanya jelas berubah. Lingkungan, orang-orang di dalamnya, dan makanan mungkin, semuanya bisa dibilang hal baru. Mungkin karena gue pada saat itu mendukung perubahan ini, bahwa kuliah bakal jadi awal gue membangun kembali semuanya. You know, leaving the past behind and look back only to see how far you go.
But somehow, hidup nggak cuma diisi sama orang normal dengan pemikiran logis dan dewasa. Sejatinya kita hidup dikelilingi banyak orang, dan beberapa di antaranya ada yang bikin hidup kita jadi lucu. Iya, lucu. Lucu karena kelakuan dan pikiran mereka yang diluar akal sehat kita.
Yang bikin lebih lucu lagi, orang-orang itu adalah mereka yang dulu pernah dekat sama kita.
Gue sempat dapet cerita menarik kemarin dari teman gue, Lutfia. Beberapa hari belakangan dia diajak untuk ngumpul sama teman-teman SMA-nya. Perlu dicatat bahwa teman gue ini adalah orang normal dengan pikiran yang logis. Catet nih. Nah, menjelang hari H, mulai diterorlah dia. Dipaksa untuk ikut dateng karena Lutfia udah janji bakal dateng walaupun nggak ikut kegiatan inti nggak berfaedah yang dirancang teman-temannya (baca: arisan). Perlu dicatat lagi bahwa kami, gue dan teman-teman gue, udah mulai diteror untuk ngerjain skripsi bab 1. Satu hal yang selama ini selalu kami bayangkan sebagai sesuatu yang menakutkan akhirnya datang. Tapi nggak menakutkan sih, cuma bikin pengen kayang di Bundaran Senayan aja. Balik lagi. Setelah diajak paksa untuk ikut, teman gue yang berpikiran normal dan logis ini bilang kalau dia mau nyicil bab 1-nya, terlebih karena dia memutuskan untuk ganti bahan dan harus mulai ngetik ulang background-nya.
Ini bagian seru dari orang-orang lucu yang ada di sekitar Lutfia.
Salah dua di antara mereka dengan santainya bilang,
"Ah basi," dan,
"It can wait, dude."
"..."
Walaupun gue seorang procrastinator, tapi denger ada orang dengan seenak pantat ngomong kayak begitu, rasanya pengen jejelin micin setoples biar dia tambah bego. Oke, mungkin gue terlalu cepat mengambil kesimpulan. Mari kita berusaha untuk membuat mereka tidak terlihat sebagai the bad guy-nya. Pertama, mungkin mereka nggak tau apa itu skripsi. Mungkin mereka tau ejaannya tapi nggak tau apa definisinya. Ini bisa aja terjadi sama orang yang belum sampai ke jenjang bikin skripsi. Which leads us to kemungkinan yang kedua, mereka belum mulai skripsi karena kuliahnya berjalan lambat. Kenapa bisa terlambat? Penyebabnya ada di poin ketiga, terlalu banyak menghabiskan waktu di luar. Makan di restoran unik atau ngopi di kafe lucu, yang ujung-ujungnya bakal jadi tai juga (makanannya, bukan restorannya).
Nah, poin-poin di atas bisa menghasilkan sebuah research question berbunyi:
"Bagaimana orang bisa dengan hebatnya ngurusin hajat hidup orang lain, sementara hidupnya sendiri sedang butuh perhatian?"
Balik ke temannya Lutfia, menurut gue, menyarankan seseorang untuk melakukan atau nggak melakukan sesuatu itu udah termasuk "ngurusin orang lain". Dia cuma temen lho, bukan orang tua atau kanjeng ratu yang biayain uang kuliah Lutfia. Kok bisa ada orang mau maju ke depan terus tiba-tiba ditarik supaya mundur ke belakang? Ini--ah, ini tuh--wah gila sih. Gue udah nggak tau mau ngatain pake kalimat apa lagi. Kalau ada orang yang nggak tau apa-apa tentang gue yang sekarang, dan tiba-tiba dateng terus langsung ikut campur sama urusan gue padahal dia juga punya kehidupan yang harus dia urusin, gue rasa orang itu punya masalah yang harus segera dia atasi.
***
Awalnya gue menganggap ini cuma masalah perbedaan lingkungan yang bisa bikin seseorang melakukan sesuatu diluar paham yang lingkungan kita anut. Tapi setelah gue pikir-pikir, kalaupun lingkungannya beda, kita punya... apa ya istilahnya, sesuatu yang kita sepakatin bersama sebagai sesuatu yang normal. Nggak mau ikut nongkrong dan lebih memilih untuk ngerjain skripsi itu adalah normal. Normal banget. Di sini kita justru malah nemuin yang sebaliknya. Berarti perbedaannya udah bukan di lingkungan lagi, melainkan di logikanya.
Kita mungkin bisa menerima logika temannya Lutfia kalau kita masih SMA. Kita belum punya banyak pengalaman dan cerita-cerita menarik dari orang-orang yang belum pernah kita temuin. Masalah di SMA cuma berkutat sama UN dan cinta-cintaan. Skripsi nggak ada di dalamnya. Bayaran kuliah nggak ada di dalamnya. Kerja masih jauh kemana-mana. If she said skripsi itu basi pas kita sama-sama masih SMA, gue akan bilang itu normal.
And then we got into college, met new people, blended in the diversity, heard some new stories from success people, dan hal-hal rumit dan menyenangkan lainnya yang nggak kita temuin di SMA. Seiring dengan perubahan lingkungan dan orang-orang di sekitar, otomatis cara pandang kita juga ikut berubah. Kayak yang gue bilang tadi di awal, perubahan adalah sesuatu yang nggak bisa kita hindari. Hidup kita nggak bisa cuma muter di satu titik doang, harus muter kesana-kemari walaupun jadinya kayak Ayu Ting Ting. But, THAT'S LIFE. You experienced something new, something strange, something unknown, something that you think is good and fun and shaped you to become a better you.
Tapi ternyata nggak semua orang berkesempatan merasakan itu. Atau mungkin, nggak semua orang mau berkesempatan merasakan itu.
Gue pikir semua orang bakal berubah. Ternyata nggak.
I just want to say that, you can't expect the person you used to know to stay the same as you are. People have their own journey, and so you are. Find yours and live with it. Nggak perlulah ngurusin hajat hidup orang yang lingkungannya udah beda sama lo. Nggak perlulah kita ujug-ujug dateng cuma buat eh apa kabar lo dan reminiscing the old times kalau kenyataannya cuma berakhir di postingan Instagram doang. Nggak perlulah jadi sentimen ngeliat orang yang dulu pernah kita kenal udah punya kehidupan sendiri. Bikin punya lo sendiri yang menurut lo seru. Dengan begitu kita nggak perlu memaksakan hidup kita untuk sama dengan orang lain, cukup bagi aja pengalaman kita dengan mereka dan sebaliknya. Kelar deh. Gampang kan?
Tuesday, July 5, 2016
Bukan Mari Kita Suci tapi Mari Kita Makan!
Selamat Hari Raya! Selamat Hari Raya Makan!
Kenapa gue sebut Hari Raya Makan? Karena memang secara harfiah, kata Idul Fitri punya makna yang berbeda dari yang selama ini kita gunakan. Nih ya, kata idul bisa berarti hari raya atau kembali. Dua-duanya bisa digunakan dan bener adanya. Kedua, dan yang paling fatal kesalahannya, adalah fitri yang sering diartikan sama orang Indonesia 'suci'. Padahal, yang dimaksud sebenernya adalah fitr yang berarti makan atau berbuka puasa. Kalau yang artinya suci itu baru namanya fitrah.
Kita mungkin sering denger orang-orang bilang kalau Idul Fitri itu berarti kembali ke fitrah yang berarti kembali suci. Dari yang gue pelajarin, Idul Fitri bukan penanda bahwa dosa-dosa kita hilang dan kita semua jadi suci lagi kayak bayi. Nggak cuma kalian, gue dulu waktu kecil juga sering dikasih tau begitu; 'Lebaran itu kita suci lagi kayak bayi yang nggak punya dosa.' While the fact is, mau di bulan Ramadan atau di waktu kapanpun, kita nggak ada yang tau whether amalan kita diterima sama Allah swt. atau nggak. We will never know. Therefore kita berdoa, minta semoga amal puasa kita di tahun ini diterima oleh Allah.
Nyambung juga ke "tradisi" lebaran yaitu maaf-maafan. Mungkin karena dari segi bahasa yang tadi udah gue jelasin secara singkat udah salah, jadi ke bawah-bawahnya salah semua. Tradisi maaf-maafan yang ada di Indonesia itu apa ya, bisa dibilang kurang logis sih kalau menurut gue. Karena pada dasarnya, dari yang dasar banget nih ye, orang kalau minta maaf itu ya ketika mereka berbuat salah. Misal, gue narik baju seorang temen gue sampe robek terus bajunya gue lempar dari lantai lima (agak ekstrem ya contohnya). Ya gue harus langsung minta maaf dong pada saat itu instead of waiting for Lebaran to say sorry to him. Yang lucunya adalah, kalau gue salat di masjid rumah dan ketemu tetangga-tetangga yang sama sekali nggak pernah berinteraksi sama gue, terus dia nyamperin gue dan minta maaf. Wait a sec--emang dia pernah ngapain gue? Jorokkin gue ke sumur? Nyubit tangan gue? Nampar gue? Salah dia apaaa? Gue sendiri juga nggak ngerasa pernah ngomongin atau melakukan hal-hal tidak senonoh ke dia.
Lah, kalau gitu kita ngucapin apa dong ke orang-orang? Kan garing ya kalau abis salat cuma salaman doang. Itu aja udah awkward banget.
Ya berdoa seperti yang tadi gue bilang, taqaballallahuminna waminkum (shiyamana washiyamakum) yang artinya, 'Semoga Allah menerima amalan saya dan kamu (amalan puasa saya dan kamu).' Lebih enak nggak sih dengernya? Kayak, terenyuh gitu kalau kita tau ada orang yang ngedoain kita baik banget kayak gitu. Hahaha. Walaupun sebenernya ucapan minal aidin itu nggak salah, artinya pun bagus 'Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang'. But still, the best dua on Eid ul Fitr is that first one.
Ada satu lagi fact yang menurut gue logis banget tapi lucu juga. Kalau Idul Fitri diartikan kembali suci, berarti Idul Adha--dengan Adha yang berarti qurban atau kasarnya kambing--artinya kembali qurban atau kambing dong? Meskipun idul juga berarti kembali, tapi makna yang digunakan di momen ini lebih tepatnya hari raya, bukan kembali. Makanya di luar negeri lebih sering digunakan istilah Eid Mubarak yang artinya may your day of Eid be the blessed one.
Lebaran juga bisa diartikan sebagai hari raya makan karena setelah satu bulan puasa, ya kita bersyukur dengan makan-makan. Though Ramadan is beautiful, I mean like we were blessed (inshaa Allah) and every deeds that we did is dilipatgandakan (kenapa nyampur gini sih bahasanya???), Eid is the day we show our gratefulness for succeeded the fasting for a whole month. Sejauh ini itu yang gue tangkep tentang Eid dan lain-lainnya.
Anyway, if any of you doubt my article because the lack of sources (pelajaran menulis essay Pak Dhuha: perbanyak sumber), I took this lesson from a sunnah channel, and I supported my article by googling (http://konsultasisyariah.com is the web I took the materials the most). I was hoping to find an article about this in English version because the international version usually the basic and the correct ones. But unfortunately, masalah makna kalimat kayak gini cuma ada di Indonesia, sementara orang-orang luar memang menggunakan dasar-dasarnya dari dulu jadi nggak ada situs internasional yang ngebahas tentang idul fitri or idul fitr.
So, that's all for my sharing section. Entah kenapa seneng banget ngebahas yang berbau ucapan, kata, makna, bahasa, dsb. Mungkin karena aku anaknya sastra banget hahaha. And I feel kinda guilty if I didn't post it because the most important thing to do as a Muslim is menyampaikan. Di sini gue nggak maksud untuk men-judge atau menggurui kok, nggak, suwer deh. I'm just sharing what I believe is right and logic :)
Opornya dah siap? Rendang, kentang goreng ati, ketupat, udah di meja semua? Tsadesssttt!
Kenapa gue sebut Hari Raya Makan? Karena memang secara harfiah, kata Idul Fitri punya makna yang berbeda dari yang selama ini kita gunakan. Nih ya, kata idul bisa berarti hari raya atau kembali. Dua-duanya bisa digunakan dan bener adanya. Kedua, dan yang paling fatal kesalahannya, adalah fitri yang sering diartikan sama orang Indonesia 'suci'. Padahal, yang dimaksud sebenernya adalah fitr yang berarti makan atau berbuka puasa. Kalau yang artinya suci itu baru namanya fitrah.
Kita mungkin sering denger orang-orang bilang kalau Idul Fitri itu berarti kembali ke fitrah yang berarti kembali suci. Dari yang gue pelajarin, Idul Fitri bukan penanda bahwa dosa-dosa kita hilang dan kita semua jadi suci lagi kayak bayi. Nggak cuma kalian, gue dulu waktu kecil juga sering dikasih tau begitu; 'Lebaran itu kita suci lagi kayak bayi yang nggak punya dosa.' While the fact is, mau di bulan Ramadan atau di waktu kapanpun, kita nggak ada yang tau whether amalan kita diterima sama Allah swt. atau nggak. We will never know. Therefore kita berdoa, minta semoga amal puasa kita di tahun ini diterima oleh Allah.
Nyambung juga ke "tradisi" lebaran yaitu maaf-maafan. Mungkin karena dari segi bahasa yang tadi udah gue jelasin secara singkat udah salah, jadi ke bawah-bawahnya salah semua. Tradisi maaf-maafan yang ada di Indonesia itu apa ya, bisa dibilang kurang logis sih kalau menurut gue. Karena pada dasarnya, dari yang dasar banget nih ye, orang kalau minta maaf itu ya ketika mereka berbuat salah. Misal, gue narik baju seorang temen gue sampe robek terus bajunya gue lempar dari lantai lima (agak ekstrem ya contohnya). Ya gue harus langsung minta maaf dong pada saat itu instead of waiting for Lebaran to say sorry to him. Yang lucunya adalah, kalau gue salat di masjid rumah dan ketemu tetangga-tetangga yang sama sekali nggak pernah berinteraksi sama gue, terus dia nyamperin gue dan minta maaf. Wait a sec--emang dia pernah ngapain gue? Jorokkin gue ke sumur? Nyubit tangan gue? Nampar gue? Salah dia apaaa? Gue sendiri juga nggak ngerasa pernah ngomongin atau melakukan hal-hal tidak senonoh ke dia.
Lah, kalau gitu kita ngucapin apa dong ke orang-orang? Kan garing ya kalau abis salat cuma salaman doang. Itu aja udah awkward banget.
Ya berdoa seperti yang tadi gue bilang, taqaballallahuminna waminkum (shiyamana washiyamakum) yang artinya, 'Semoga Allah menerima amalan saya dan kamu (amalan puasa saya dan kamu).' Lebih enak nggak sih dengernya? Kayak, terenyuh gitu kalau kita tau ada orang yang ngedoain kita baik banget kayak gitu. Hahaha. Walaupun sebenernya ucapan minal aidin itu nggak salah, artinya pun bagus 'Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang'. But still, the best dua on Eid ul Fitr is that first one.
Ada satu lagi fact yang menurut gue logis banget tapi lucu juga. Kalau Idul Fitri diartikan kembali suci, berarti Idul Adha--dengan Adha yang berarti qurban atau kasarnya kambing--artinya kembali qurban atau kambing dong? Meskipun idul juga berarti kembali, tapi makna yang digunakan di momen ini lebih tepatnya hari raya, bukan kembali. Makanya di luar negeri lebih sering digunakan istilah Eid Mubarak yang artinya may your day of Eid be the blessed one.
Lebaran juga bisa diartikan sebagai hari raya makan karena setelah satu bulan puasa, ya kita bersyukur dengan makan-makan. Though Ramadan is beautiful, I mean like we were blessed (inshaa Allah) and every deeds that we did is dilipatgandakan (kenapa nyampur gini sih bahasanya???), Eid is the day we show our gratefulness for succeeded the fasting for a whole month. Sejauh ini itu yang gue tangkep tentang Eid dan lain-lainnya.
Anyway, if any of you doubt my article because the lack of sources (pelajaran menulis essay Pak Dhuha: perbanyak sumber), I took this lesson from a sunnah channel, and I supported my article by googling (http://konsultasisyariah.com is the web I took the materials the most). I was hoping to find an article about this in English version because the international version usually the basic and the correct ones. But unfortunately, masalah makna kalimat kayak gini cuma ada di Indonesia, sementara orang-orang luar memang menggunakan dasar-dasarnya dari dulu jadi nggak ada situs internasional yang ngebahas tentang idul fitri or idul fitr.
So, that's all for my sharing section. Entah kenapa seneng banget ngebahas yang berbau ucapan, kata, makna, bahasa, dsb. Mungkin karena aku anaknya sastra banget hahaha. And I feel kinda guilty if I didn't post it because the most important thing to do as a Muslim is menyampaikan. Di sini gue nggak maksud untuk men-judge atau menggurui kok, nggak, suwer deh. I'm just sharing what I believe is right and logic :)
Opornya dah siap? Rendang, kentang goreng ati, ketupat, udah di meja semua? Tsadesssttt!
Monday, June 27, 2016
How My Ear and Brain Work Together
So I've been finding myself falling way way way too far on The Temper Trap's new song, Fall Together. It is on their new album which I just found out about... three weeks or three months after the launch? I don't know the exact number but I have to say I was a lil bit late getting this information. And yes, the first time I heard that song, I fuckin like it.
You know, there are some kind of people who can easily catch the real meaning of a lyrics. While I'm here, all I do whenever I listen to a song is enjoying the music. Like, literally the music. I realized this when I (again, too late) found Kodaline's song, All I Want. First time I heard that I feel like, oh wow, this song is sweet. And I didn't really mind the lyrics. Plus, I heard the song via YouTube and watched their video clip and it was so cool! The story of the video itself is quite interesting. Then I sing that song for like a whole week until Nadhira said that it was the soundtrack of The Fault In Our Stars.
Which is a (quite) dramatic movie.
I checked out the lyrics once again, realized that it was literally a song about someone who's leaving you like forever (I don't know, death, long distance, or something like that maybe, pokoknya ditinggal pergi deh). Turned out, I've mistaken "the feeling" of the song because I was listening to it like a happy and sweet song. The music (and the beat) makes me feel like it's not a sad song, at all. Maybe because I got influenced more by the instruments, not the lyrics. It was also happening once to Maliq's song, Coba Katakan, and as you know Maliq is always bring up a cheerful vibes on their songs. So when I listened to that song, I was okay until I understand the lyrics. Hm.
Back to The Temper Trap. The new song is hella good in my ears. I also tried to listen carefully to the lyrics now (sekalian latihan listening) so I don't mistake the song like before. Though I still don't quite understand what's inside the lyrics but I assume that it is about... falling together (YA MASA SIH???) Well I don't know, I think it's more about yah a person found another person. I can't interpret the whole lyrics but some verses got me like 'Awww...' and I really like the acoustic version which is adding some kind of slow, romantic feelings into the song. Like what I said before, the way the music presented can makes the lyrics more lyricable. When I hear the real version, the beat is stronger and my mind says, 'Hey, this song is great. Coba deh dengerinnya sambil nyuci, dijamin cucian kamu bakalan berasa enteng!'
Nggak gitu juga sih, Del.
Anyway, whenever I hear their (The Temper Trap) music, I feel like I wanna go out to some places and do travels. It's the same as I listen to Kings of Convenience, Owl City, Passion Pit, and Example (the song called Watch the Sun Come Up is totally a travel-vibes-kinda-song). The feeling on their songs makes you feel like you need to grab your bag, pack some clothes and cameras, and go all the way to--let's say--Japan. Hahaha.
Oh oh, I almost forgot. DOUGY'S HAIR IS EVERYTHING LIKE each video is an eye contact between me and his hair. Oh my WHY AM I SO ADDICTED TO GONDRONG GUY PLZ HELP MEEEHHH I CAN'T RESIST RASANYA PENGEN ELUS ITU RAMBUT TERUS DITEMPELIN KE IDUNG BIAR KAYAK KUMIS GITU LHO. Ah. Capeq hati adeq, bank :')
Thursday, February 18, 2016
Dealing with K-Dramas
Annyeonghaseyo.
So I've decided to write about this issue because it seems affecting my life (my holiday especially) so much. This kamvret @andifariza is truly has no fear and dare to take me to her world, innocently. Hwanyink km mz ku sebel ku benci ku ndak suka yg tebel basah :(
Sekian. Maaf untuk masalah personal yang terpaksa kubawa ke sini. Andi, baik-baik ya kuliahnya.
Speaking of which, it's not really a recent thing that I do. Gue mulai kecanduan nonton K-Dramas semenjak iseng re-watch Coffee Prince, salah satu serial yang udah lumayan jadul. Waktu itu gue baru mulai liburan, still not sure what am I going to do for the next 1,5 months. Sampai akhirnya gue kepikiran satu drama yang belum tamat gue tonton di TV. Akhirnya gue carilah itu drama dan mulai nontonlah gue dengan tenang dan damai.
Until it's too late to realize how bad this drama is.
Bad in a good way, of course. Ini jadi semacam guilty pleasure gue karena percayalah, gue tidak menyesal nonton dari jam 11-an sampai jam 3 pagi dan kurang lebih tidur cuma 2-3 jam karena paginya (sekitar jam 10) gue harus berangkat ke kampus untuk rapat KMFS sekaligus ujian SPM. Mantap :)
Di situ gue mulai sadar bahwa gila, this is a kind of wasting time yang seru banget! Jujur awalnya gue nonton si Coffee Prince itu murni tujuan gue untuk tau jalan ceritanya, gimana akhirnya si Eun Chan ketauan kalau ternyata dia cewek dan gimana hubungannya sama Sajangnim-nya. E ternyata nggak se-simple itu, buat gue khusunya karena gue terlalu gampang dibuat meleleh ngeliat adegan sialan-unyu-banget. Sumpah, dari dulu sampai sekarang gue nggak pernah bisa menghilangkan kebiasaan gue senyum-senyum-mesem sendiri tiap kali nonton adegan yang simple but sweet. Kan tai, ya. Bawaannya tuh kepengen digituin juga gitu lho. Kan tai juga, ya.
Mungkin ini bisa jadi bahan penelitian dengan tema: Observasi Pecinta K-Dramas dan Bagaimana Pengaruhnya terhadap Kehidupan Percintaan Mereka. Karena specifically gue punya satu contoh yang dari SD sampai sekarang belum juga berhasil menemukan seorang pendamping at least for two or three months. Padahal kampusnya kampus yang di setiap sudut banyak calon imam. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan, Andi???
Saranghae, Ndi. 정말 당신을 사랑합니다 :*
Gila, baru nonton dua drama aja udah jago banget gue bahasa Korea. HAHA.
Selanjutnya di sinilah saat di mana gue kesel tapi bersyukur juga karena Andi ngasih gue link nonton film-film drama yang lumayan bagus. She also recommended, "Ada yang lagi gue tonton, judulnya Cheese in the Trap. Itu dari webtoon gitu sih, tapi lagi seru banget nih episodenya."
"Hah? Apaan? Cheese in the Trap?" Itu cerita tikus apa gimana...
Malamnya setelah selesai ketemuan dan pulang ke rumah masing-masing, rasa penasaran gue muncul. Gue tanya lagi apa itu nama link yang buat nonton drama Korea. Pas gue search ternyata emang lengkap film-filmnya. Tapi yang baru tahun-tahun ini. Yang jadul-jadul mah teu aya. Gue sempat meragukan juga untuk nonton Cheese in the Trap tadi karena pertama, selerea gue dan Andi itu super-duper jauh sekali terutama dalam urusan entertainment. Kecuali... yah kalau cowok bisa dibilang "entertainment" maka selera kita hampir setara. Hampir, karena sesungguhnya gue masih belum tau cowok seperti apa yang benar-benar bisa menaklukkan hatinya. Buku juga nggak terlalu jauh beda sih seleranya. Ya pokoknya yang paling obvious itu kayaknya selera musik sama film sih. Dan kedua, gue meragukan kualitas film-film sekarang apapun itu negaranya. Gue merasa lebih nyaman nonton drama yang ceritanya ringan dan udah ketebak dari awal ending-nya bakal gimana kayak Coffee Prince tadi.
Sampai akhirnya gue coba tonton satu episode Cheese in the Trap.
Dan,
Vangsat apa-apaan nih?!
Itu cowok psycho banget buset!
E ngajak makan mulu masa si Sonbe-nya!
Anyink kok creep da ni orang?!
Buset itu bibir tebel amat.
Now I'm officially addicted to this fuckin drama. Tiap buka episode baru (terutama episode 9-12, dan ini berhubungan juga dengan teori gue kalau drama Korea itu pasti bikin klimaksnya itu di sekitar episode 9-10-11-12. Kayak penulisan tiga babak aja, ada introducing-nya, di tengah mulai banyak konflik, ending-nya tinggal penyelesaian masalah. Tapi gue masih belum 100% yakin dengan teori ini karena masih ada sisa empat episode lagi yang belum tayang dan PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH SWT. ITU DRAMA TINGGAL EMPAT EPISODE LAGI HAHA I CAN LIVE FROM THEN) gue pengen nonton episode selanjutnya. Rada nyesel juga sih gue udah keburu nonton semua episode yang ada. Jadi waktu awal gue nonton baru enam atau tujuh episode gitu. Karena itu dramanya lagi on going dan cuma tayang dua kali seminggu (itupun masih belum cukup!) jadinya masih lumayan panjang juga kan nungguinnya. Gue tadinya mau nungguin sampai 10 episode biar langsung gue babat habis. E ternyata kontak batin gue dengan Andi lebih kuat dan akhirnya gue nonton deh tiap malem. Nggak berasa 3 hari udah selesai dan abis itu gue mesti nunggu tiap minggu. Huh. Ku benci menunggu :( Sempat stress juga minggu kemarin nggak tayang karena ada libur nasional gitu di Korea. Gue mencoba menghilangkan kekecewaan gue dengan me-re-watch episode-episode sebelumnya. Yha :')
Secara general gue akui K-Dramas is genuinely entertaining. Dari konsep cerita pun bagus-bagus dan plot twist-nya mantap sekali, saudara-saudara! Bisa dibilang makin berkembang sih dari drama-drama jadul yang pernah gue tonton. Kualitas gambarnya juga. Pokoknya kita bisa ngeliat perbedaannya secara langsung without losing the pleasure. Beda sama sinetron Indonesia yang mau dikomentarin kayak gimana juga nggak bakal berubah, begitu ae terus sampe Darth Vader makan gorengan di depan komplek gue.
Kalau dari gue secara pribadi, ini bisa jadi... apa, ya, semacam pengalihan mungkin. Eh, bukan pengalihan juga sih. Ya gue teralihkan, to be honest, bahkan gue lagi mandi pun masih suka mikirin kelanjutan ceritanya. Tapi kalau disebut pengalihan kan kesannya gue lagi banyak masalah banget ya. Jadi apa ya, kalau gue boleh bilang sih kayak temen baru gitu. Jujur gue bosen di rumah nggak ngapa-ngapain, cuma nonton HBO, internetan--itupun jadi gumoh karena terlalu sering. Unproductive lah as usual. Tapisetelah saya ke klinik Tong Fang gegara nonton gituan gue jadi ada kerjaan, ada yang dinanti-nanti gitu cie. Emang sih sama-sama nggak produktif juga, toh basically gue nonton film kan. However, I found it delightful and fun and easy to watch K-Dramas. Dibandingkan Western movies, gue lebih milih K-Dramas karena gue kalau nonton film drama lepas gitu bawaannya jadi mikirin hidup. Kayak, ah kenapa itu begini, kenapa ini begitu. Bawaannya jadi mellow--walaupun cuma semalem doang sih abis itu besoknya mah makan tetep makan. Kalau Korean tuh beda, mereka tuh unyu to the maxxx even without sex or making out. Seol pelukan sama si Sonbe-nya aja menurut gue itu udah intim banget (gue bener-bener ketawa abis nulis kalimat barusan. Kalian tau jenis-jenis ketawa pahit penuh keikhlasan? Nah, itu). Like what I said before, simple but sweet things mereka ngena banget. Nah, bisa jadi juga karena kultur mereka masih ada asia-asia-nya kayak kita, nggak yang demen dikit langsung tidur bareng (yha) jadi kita pun nggak merasa aneh atau canggung nontonnya dan malah jadi lucu. But still, I can't tell you that this is the fact because it's completely a personal opinion. Feel free to deny it decently because we all have a different perspective but the same rights to express it :)
Sooooo, that's all from me about the K-kamvret-Dramas. I'm open for another recommendation so tell me your favorite dramas and let me drown into those unyu-ness by myself. Hahaha. Well don't get too far over it. I don't want you guys regret it later. It's out of my responsibility. Anyeong!
(is going to re-watch episode 12 in 3... 2... 1... )
So I've decided to write about this issue because it seems affecting my life (my holiday especially) so much. This kamvret @andifariza is truly has no fear and dare to take me to her world, innocently. Hwanyink km mz ku sebel ku benci ku ndak suka yg tebel basah :(
Sekian. Maaf untuk masalah personal yang terpaksa kubawa ke sini. Andi, baik-baik ya kuliahnya.
Speaking of which, it's not really a recent thing that I do. Gue mulai kecanduan nonton K-Dramas semenjak iseng re-watch Coffee Prince, salah satu serial yang udah lumayan jadul. Waktu itu gue baru mulai liburan, still not sure what am I going to do for the next 1,5 months. Sampai akhirnya gue kepikiran satu drama yang belum tamat gue tonton di TV. Akhirnya gue carilah itu drama dan mulai nontonlah gue dengan tenang dan damai.
Until it's too late to realize how bad this drama is.
Bad in a good way, of course. Ini jadi semacam guilty pleasure gue karena percayalah, gue tidak menyesal nonton dari jam 11-an sampai jam 3 pagi dan kurang lebih tidur cuma 2-3 jam karena paginya (sekitar jam 10) gue harus berangkat ke kampus untuk rapat KMFS sekaligus ujian SPM. Mantap :)
Di situ gue mulai sadar bahwa gila, this is a kind of wasting time yang seru banget! Jujur awalnya gue nonton si Coffee Prince itu murni tujuan gue untuk tau jalan ceritanya, gimana akhirnya si Eun Chan ketauan kalau ternyata dia cewek dan gimana hubungannya sama Sajangnim-nya. E ternyata nggak se-simple itu, buat gue khusunya karena gue terlalu gampang dibuat meleleh ngeliat adegan sialan-unyu-banget. Sumpah, dari dulu sampai sekarang gue nggak pernah bisa menghilangkan kebiasaan gue senyum-senyum-mesem sendiri tiap kali nonton adegan yang simple but sweet. Kan tai, ya. Bawaannya tuh kepengen digituin juga gitu lho. Kan tai juga, ya.
Mungkin ini bisa jadi bahan penelitian dengan tema: Observasi Pecinta K-Dramas dan Bagaimana Pengaruhnya terhadap Kehidupan Percintaan Mereka. Karena specifically gue punya satu contoh yang dari SD sampai sekarang belum juga berhasil menemukan seorang pendamping at least for two or three months. Padahal kampusnya kampus yang di setiap sudut banyak calon imam. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan, Andi???
Saranghae, Ndi. 정말 당신을 사랑합니다 :*
Gila, baru nonton dua drama aja udah jago banget gue bahasa Korea. HAHA.
Selanjutnya di sinilah saat di mana gue kesel tapi bersyukur juga karena Andi ngasih gue link nonton film-film drama yang lumayan bagus. She also recommended, "Ada yang lagi gue tonton, judulnya Cheese in the Trap. Itu dari webtoon gitu sih, tapi lagi seru banget nih episodenya."
"Hah? Apaan? Cheese in the Trap?" Itu cerita tikus apa gimana...
Malamnya setelah selesai ketemuan dan pulang ke rumah masing-masing, rasa penasaran gue muncul. Gue tanya lagi apa itu nama link yang buat nonton drama Korea. Pas gue search ternyata emang lengkap film-filmnya. Tapi yang baru tahun-tahun ini. Yang jadul-jadul mah teu aya. Gue sempat meragukan juga untuk nonton Cheese in the Trap tadi karena pertama, selerea gue dan Andi itu super-duper jauh sekali terutama dalam urusan entertainment. Kecuali... yah kalau cowok bisa dibilang "entertainment" maka selera kita hampir setara. Hampir, karena sesungguhnya gue masih belum tau cowok seperti apa yang benar-benar bisa menaklukkan hatinya. Buku juga nggak terlalu jauh beda sih seleranya. Ya pokoknya yang paling obvious itu kayaknya selera musik sama film sih. Dan kedua, gue meragukan kualitas film-film sekarang apapun itu negaranya. Gue merasa lebih nyaman nonton drama yang ceritanya ringan dan udah ketebak dari awal ending-nya bakal gimana kayak Coffee Prince tadi.
Sampai akhirnya gue coba tonton satu episode Cheese in the Trap.
Dan,
Vangsat apa-apaan nih?!
Itu cowok psycho banget buset!
E ngajak makan mulu masa si Sonbe-nya!
Anyink kok creep da ni orang?!
Buset itu bibir tebel amat.
Now I'm officially addicted to this fuckin drama. Tiap buka episode baru (terutama episode 9-12, dan ini berhubungan juga dengan teori gue kalau drama Korea itu pasti bikin klimaksnya itu di sekitar episode 9-10-11-12. Kayak penulisan tiga babak aja, ada introducing-nya, di tengah mulai banyak konflik, ending-nya tinggal penyelesaian masalah. Tapi gue masih belum 100% yakin dengan teori ini karena masih ada sisa empat episode lagi yang belum tayang dan PUJI SYUKUR KEPADA ALLAH SWT. ITU DRAMA TINGGAL EMPAT EPISODE LAGI HAHA I CAN LIVE FROM THEN) gue pengen nonton episode selanjutnya. Rada nyesel juga sih gue udah keburu nonton semua episode yang ada. Jadi waktu awal gue nonton baru enam atau tujuh episode gitu. Karena itu dramanya lagi on going dan cuma tayang dua kali seminggu (itupun masih belum cukup!) jadinya masih lumayan panjang juga kan nungguinnya. Gue tadinya mau nungguin sampai 10 episode biar langsung gue babat habis. E ternyata kontak batin gue dengan Andi lebih kuat dan akhirnya gue nonton deh tiap malem. Nggak berasa 3 hari udah selesai dan abis itu gue mesti nunggu tiap minggu. Huh. Ku benci menunggu :( Sempat stress juga minggu kemarin nggak tayang karena ada libur nasional gitu di Korea. Gue mencoba menghilangkan kekecewaan gue dengan me-re-watch episode-episode sebelumnya. Yha :')
Secara general gue akui K-Dramas is genuinely entertaining. Dari konsep cerita pun bagus-bagus dan plot twist-nya mantap sekali, saudara-saudara! Bisa dibilang makin berkembang sih dari drama-drama jadul yang pernah gue tonton. Kualitas gambarnya juga. Pokoknya kita bisa ngeliat perbedaannya secara langsung without losing the pleasure. Beda sama sinetron Indonesia yang mau dikomentarin kayak gimana juga nggak bakal berubah, begitu ae terus sampe Darth Vader makan gorengan di depan komplek gue.
Kalau dari gue secara pribadi, ini bisa jadi... apa, ya, semacam pengalihan mungkin. Eh, bukan pengalihan juga sih. Ya gue teralihkan, to be honest, bahkan gue lagi mandi pun masih suka mikirin kelanjutan ceritanya. Tapi kalau disebut pengalihan kan kesannya gue lagi banyak masalah banget ya. Jadi apa ya, kalau gue boleh bilang sih kayak temen baru gitu. Jujur gue bosen di rumah nggak ngapa-ngapain, cuma nonton HBO, internetan--itupun jadi gumoh karena terlalu sering. Unproductive lah as usual. Tapi
Sooooo, that's all from me about the K-kamvret-Dramas. I'm open for another recommendation so tell me your favorite dramas and let me drown into those unyu-ness by myself. Hahaha. Well don't get too far over it. I don't want you guys regret it later. It's out of my responsibility. Anyeong!
(is going to re-watch episode 12 in 3... 2... 1... )
Friday, December 25, 2015
Perihal Selamatan
Tidak ada yang lebih indah dari nge-post di media sosial apapun dengan caption "Senin/Selasa/Rabu/Kamis/Jumat rasa Minggu." It's the best thing to share ever. Meskipun long weekend juga bisa jadi perangkap karena banyak di antara kita yang menghabiskannya dengan leyeh-leyeh di kamar, nonton dvd berjam-jam, sampai akhirnya mata kelewat lelah dan pala pusing barbie. Eh, pusing pala barbie.
Anyway, kali ini gue cuma mau sharing sedikit aja tentang hal seputar libur hari ini, libur Natal. Mungkin gue termasuk orang yang nggak terlalu mengikuti berita-berita aktual di dalam maupun luar negeri (lantas ngapain aja kamu selama ini, Nak?!). Tapi yang paling santer terdengar menjelang Natal ini adalah larangan mengucapkan "Selamat Natal" kepada umat agama lain, khususnya Kristen.
Begini. Kalau menurut pengalaman pribadi gue, dari kecil gue tidak dibiasakan mengucapkan selamat kepada teman-teman beragama Kristen. Alasan terbesarnya adalah ya karena gue bukan orang yang pandai ber-eh-lo-selamat-ya-atas-apapun-yang-sedang-lo-rayakan. Gue mah orangnya anti-mainstream (kemudian ditertawakan masyarakat seantero Indonesia). Teman gue yang Kristen pun nggak terlalu banyak. Tapi masalah halal/haram mengucapkan selamat, gue udah denger penjelasan logisnya dan gue berkeyakinan untuk tidak mengucapkan selamat Natal, tapi lebih prefer untuk bilang, "Selamat liburan! Happy long holiday!"
Ini yang gue yakini ketika berita halal/haram ucapan selamat masih simpang-siur: bahwa Natal secara bahasa berarti hari lahir, dan bagi mereka yang merayakannya, it refers to hari lahirnya Jesus. Secara simpel dan singkat aja, kalau kita mengucapkan itu berarti kita mengakui kelahirannya Jesus. Agama gue tidak membenarkan itu. Makanya, kami dilarang mengucapkan "Selamat Natal". Beberapa sumber juga kurang lebih menyatakan hal yang sama. Kalian bisa cek penjelasan Dr. Zakir Naik di kajiannya di Dubai (I just watched it on YouTube to make sure I'm not posting a post without research).
Beberapa orang mendebatkan ucapan ini cuma sekedar untuk mempererat persaudaraan, persahabatan antarsesama manusia. Well gue setuju kalau sesama manusia ya harus rukun dan saling menghormati dan menghargai. But, one thing that my religion always emphasized is that toleransi antarumat beragama itu boleh--sangat diperbolehkan malah karena pada dasarnya kita semua cinta damai (peace loph and gawl), tapi dalam hal ibadah, kita punya batasan yang nggak boleh dipakein embel-embel "nggak enak ah sama dia, kan udah bro-sist banget". Terdengar keras memang tapi itulah yang diajarkan agama gue.
Sebenarnya hal ini nggak perlu diambil pusing kalau kita udah paham konsep dasarnya. Gue tidak bisa mengucapkan selamat kepada teman-teman yang merayakan, nah bilang aja
"Eh lo, selamat liburan ya. Ena bener da nih long weekend langsung capcus ke Puncak. Btw, titip mochi dong lima kotak."
Simpel, nggak perlu pusing mikirin haram atau nggaknya, dan gue yakin mereka yang denger kalimat seperti ini nggak akan berpikiran kita menghindari mereka karena perbedaan keyakinan. Lebih bagus lagi sih kalau kita bisa menjelaskan ke mereka kenapa kita nggak bisa mengucapkan selamat kepada mereka dan lebih bagus lagi kalau kita sama-sama mengerti dan setelah itu kita dibeliin mochi lima kotak (teuteup). Kita semua masih bisa berteman selayaknya teman, bisa banget. Kita masih bisa saling tolong kalau salah satunya lagi perlu bantuan. Karena kita semua yakin bahwa semua agama pasti mengajarkan kebaikan dengan sesama manusia. Selebihnya, untuk urusan ibadah, kita punya arena masing-masing beserta batasan-batasannya. Simpel kan? :)
So, have a super-duper fun long weekend! Don't forget to be more productive karena percayalah, menyesal karena nggak ngapa-ngapain pas liburan itu lebih sakit daripada menyesal karena nggak belajar Morfologi pas UAS. Sekian dan adios.
Anyway, kali ini gue cuma mau sharing sedikit aja tentang hal seputar libur hari ini, libur Natal. Mungkin gue termasuk orang yang nggak terlalu mengikuti berita-berita aktual di dalam maupun luar negeri (lantas ngapain aja kamu selama ini, Nak?!). Tapi yang paling santer terdengar menjelang Natal ini adalah larangan mengucapkan "Selamat Natal" kepada umat agama lain, khususnya Kristen.
Begini. Kalau menurut pengalaman pribadi gue, dari kecil gue tidak dibiasakan mengucapkan selamat kepada teman-teman beragama Kristen. Alasan terbesarnya adalah ya karena gue bukan orang yang pandai ber-eh-lo-selamat-ya-atas-apapun-yang-sedang-lo-rayakan. Gue mah orangnya anti-mainstream (kemudian ditertawakan masyarakat seantero Indonesia). Teman gue yang Kristen pun nggak terlalu banyak. Tapi masalah halal/haram mengucapkan selamat, gue udah denger penjelasan logisnya dan gue berkeyakinan untuk tidak mengucapkan selamat Natal, tapi lebih prefer untuk bilang, "Selamat liburan! Happy long holiday!"
Ini yang gue yakini ketika berita halal/haram ucapan selamat masih simpang-siur: bahwa Natal secara bahasa berarti hari lahir, dan bagi mereka yang merayakannya, it refers to hari lahirnya Jesus. Secara simpel dan singkat aja, kalau kita mengucapkan itu berarti kita mengakui kelahirannya Jesus. Agama gue tidak membenarkan itu. Makanya, kami dilarang mengucapkan "Selamat Natal". Beberapa sumber juga kurang lebih menyatakan hal yang sama. Kalian bisa cek penjelasan Dr. Zakir Naik di kajiannya di Dubai (I just watched it on YouTube to make sure I'm not posting a post without research).
Beberapa orang mendebatkan ucapan ini cuma sekedar untuk mempererat persaudaraan, persahabatan antarsesama manusia. Well gue setuju kalau sesama manusia ya harus rukun dan saling menghormati dan menghargai. But, one thing that my religion always emphasized is that toleransi antarumat beragama itu boleh--sangat diperbolehkan malah karena pada dasarnya kita semua cinta damai (peace loph and gawl), tapi dalam hal ibadah, kita punya batasan yang nggak boleh dipakein embel-embel "nggak enak ah sama dia, kan udah bro-sist banget". Terdengar keras memang tapi itulah yang diajarkan agama gue.
Sebenarnya hal ini nggak perlu diambil pusing kalau kita udah paham konsep dasarnya. Gue tidak bisa mengucapkan selamat kepada teman-teman yang merayakan, nah bilang aja
"Eh lo, selamat liburan ya. Ena bener da nih long weekend langsung capcus ke Puncak. Btw, titip mochi dong lima kotak."
Simpel, nggak perlu pusing mikirin haram atau nggaknya, dan gue yakin mereka yang denger kalimat seperti ini nggak akan berpikiran kita menghindari mereka karena perbedaan keyakinan. Lebih bagus lagi sih kalau kita bisa menjelaskan ke mereka kenapa kita nggak bisa mengucapkan selamat kepada mereka dan lebih bagus lagi kalau kita sama-sama mengerti dan setelah itu kita dibeliin mochi lima kotak (teuteup). Kita semua masih bisa berteman selayaknya teman, bisa banget. Kita masih bisa saling tolong kalau salah satunya lagi perlu bantuan. Karena kita semua yakin bahwa semua agama pasti mengajarkan kebaikan dengan sesama manusia. Selebihnya, untuk urusan ibadah, kita punya arena masing-masing beserta batasan-batasannya. Simpel kan? :)
So, have a super-duper fun long weekend! Don't forget to be more productive karena percayalah, menyesal karena nggak ngapa-ngapain pas liburan itu lebih sakit daripada menyesal karena nggak belajar Morfologi pas UAS. Sekian dan adios.
Sunday, June 14, 2015
Tulus Nulis
Kemarin gue chatting dengan seorang teman jauh boleh nemu di Chatous.
Oke, sedikit tentang bagaimana awalnya gue bisa masuk ke dunia chat-with-strangers ini. Jadi, waktu itu Nadhira tiba-tiba ngomongin teman Belanda-nya, yang dia temuin di Chatous ini, yang mau ke Indonesia buat nyamperin dia. Seriously mau nyamperin. Bule gila. Dan setelah itu, gue jadi merasa terdorong untuk mencoba peruntungan gue di Chatous. Awalnya rada nggak jelas, tapi akhirnya gue menjadi semakin tega nge-skip orang yang nggak mau gue ajak chat. Di Chatous pun gue berusaha menghindari orang-orang yang baru awal ngobrol udah minta foto. Bukannya gue nggak mau ngasih, bukannya gue kecantikan atau kejelekan, tujuan gue cuma buat nyari teman ngobrol doang. Ya siapa tau bisa dapet 'teman ngobrol' beneran. Ehe ehe ehe.
So, I've found a few good guys from there. Salah satunya adalah Josh (I hope you read this post even though I write in Bahasa and yes, I'm mentioning your name right here right now!), dan dia berasal dari India. Dia pertama kali langsung nanyain gue tentang #writing karena gue mencantumkan tags itu di bio gue. Awalnya rada garing. Dia curhat kalau dia nggak yakin sama passion menulis dia. Sebagai penulis yang (sebenernya lagi kebingungan juga sama passion-nya) baik, gue berusaha memberi dia kata-kata motivasi, advice-advice yang sebenarnya lebih cocok buat gue, pokoknya gue meyakinkan dia kembali untuk mulai nulis.
And it worked. Like, dia bener-bener mulai nulis dan sekarang dia punya blog.
I am a proud mama.
Sebelumnya gue yang nyuruh dia buat ikut nulis di blog kayak gue. Abis itu gue kasihlah link blog gue buat contoh meskipun posts gue banyak yang pake Bahasa. Dan ternyata dia suka banget sama post ini, terutama bait terakhirnya. Gue rada nggak percaya gitu karena dia terus-terusan bilang kalau puisinya keren banget. Hkhkhk. Jadi malu aku mz. Setelah itu dia selalu nge-chat gue tiap kali dia mau mulai nulis sesuatu. Dia bilang kalau dia suka travelling dan pengen nulis post yang berbau travel. Gue bilang, it's good because people will go find any kind of information about some places and if they lucky, they will end up with your blog. Dia juga lagi mulai nulis semacam cerita misteri gitu deh.
Gue nggak mau meng-underestimate orang lain. Meskipun dia stranger dan pasarnya beda sama pasar gue (I mean like, cerita misteri udah jarang peminatnya kalau di Indonesia), gue merasa berkewajiban untuk tetep nyemangatin dia tanpa mengurangi kritik. I see myself on him. Gue pernah ada di posisi dia, posisi di mana lagi butuh banget seseorang yang bisa diajak untuk sekedar sharing tentang sesuatu yang lagi lo kerjain. Walaupun gue pribadi masih merasa kalimat-kalimat penenang bukan pilihan yang tepat untuk dikasih ke orang, tapi setelah gue liat dia jadi semangat nulis, gue mulai mempertimbangkan opini gue barusan. Setiap orang sedikitnya butuh kata-kata semangat dari orang lain. Orang terdekat lebih bagus lagi. At least it will make him/her realize that there is somebody who is waiting for his/her work.
Kembali lagi ke Josh. Kemarin gue juga sempet curhat balik ke dia tentang Serial Jenderal. Iya, itu lho, blog series yang sekarang ngegantung nggak jelas. Hkhkhk. Gue bilang ke dia gue pengen lanjutin Serial Jenderal lagi tapi gue nggak ada inspirasi. Dia nyuruh gue cari tempat sepi, pergi ke taman supaya dapet inspirasi. Hah. Josh, Josh. Elu belum tau Jakarta sih elah Jakarta tamannya dipake buat jualan sama buat mesum kalau malem. Mo nyari tempat sepi ya di gang-gang kecil noh sepi kalau malem. Sukur-sukur nggak kepergok preman. Kalau kepergok, abis udah laptop kita. Hkhkhk. Kagak, kagak, gue nggak bilang gitu kok ke si Josh. Gue bilang gue lebih milih duduk manis di kafe yang sepi-sepi asoy ketimbang di taman.
For now to be honest gue belum mau mulai nulis sesuatu yang berkonsep kayak cerita fiksi, blog series, atau semacamnya. Kayaknya gara-gara gue sering sok-sok bilang kalau gue sibuk, sekarang gue malah dikasih sibuk beneran. Hkhkhk. Gue masih lebih milih nyerocos nggak jelas di sini, Twitter, atau Instagram. Maybe later but, soon.
Setelah berpikir semalaman mencari epilog apa yang cocok untuk menutup post ini, I give you this.
| Photography tips: use B/W effect to cover your acne. Trust me, it works. |
Monday, May 11, 2015
El Jomblo
(baca: el homblo)
Jadi gue baru saja bernostalgia dengan menonton kembali film favorit sepanjang 19 tahun gue hidup; Jomblo. Sedikit tentang asal-muasal filmnya, ini adaptasi novelnya mas Adhitya Mulya, salah satu penulis yang gaya nulisnya gue sukak (pake k) banget dan selalu gue jadikan pedoman tiap kali gue nulis. Apalagi setelah gue baca dua novel lainnya yang ternyata gaya komedinya khas banget. He does have a good sense of humor. Like me. Ehe.
Jadi gue baru saja bernostalgia dengan menonton kembali film favorit sepanjang 19 tahun gue hidup; Jomblo. Sedikit tentang asal-muasal filmnya, ini adaptasi novelnya mas Adhitya Mulya, salah satu penulis yang gaya nulisnya gue sukak (pake k) banget dan selalu gue jadikan pedoman tiap kali gue nulis. Apalagi setelah gue baca dua novel lainnya yang ternyata gaya komedinya khas banget. He does have a good sense of humor. Like me. Ehe.
Thursday, April 5, 2012
The Sound of Our Roots
sepanjang siang sampe sekarang ini gue nongkrong di depan komputer. main CastleVille dan The Sims Social di Facebook, "nonton" timeline Twitter dan baru dapet kabar myDude Andi menghapus account Facebook-nya karena di-hack. karena kasian, gue menyarankan dia untuk bikin okeycall. nggak digubris. dan kalian juga nggak perlu nanya apa itu okeycall, ya.
selain itu, gue juga lagi asyik dengerin lagu-lagu Indonesia. ya, Kawan, Indonesia. kalau selama ini gue selalu bilang gue benci lagu-lagu Indonesia yang you-know-lah-gimana, itu nggak seratus persen beneran benci. gue--dan mungkin kalian juga--nggak suka lagu yang you-know-lah-gimana itu. gue suka lagu Indonesia bagian... bagian yang sulit banget dijelaskan. serius, nih. membahas sedikit tulisan teman gue, Poppy di Facebook-nya yang ngomongin tentang musik Indonesia. dia nulis,
"...banyak musik Indonesia yang oke, teman-teman. Hanya saja mereka tertimbun oleh 'mereka'."
'mereka' yang Poppy maksud ini yang you-know-lah-gimana itu lho. nah, kebetulan banget waktu itu gue baca itu. tanpa ba-bi-bu lagi, gue pun menyetujui pendapat si Poppy. dalam hati, sih. nggak pake like this. hehehe.
gue setuju. nggak semua musik Indonesia yang begitu-begitu. sesungguhnya ada banyak band yang menyanyikan lagu yang nggak kalah keren dengan musik luar negeri. tapi sayangnya, masih sedikit orang (terutama remaja) yang kupingnya cocok sama lagu-lagu mereka. entahlah kenapa. gue inget perkataan nyokap bahwa,
"Kita nggak boleh maksain orang buat suka musik kesukaan kita. Selera orang beda-beda."
yah, emang bener. di kelas gue anak-anak cowoknya banyak yang suka lagu scream atau punk atau rock atau punk rock atau kalau kata gue musik ngorok, whatever the name. setiap istirahat mereka suka setel lagu itu. gue, jujur aja sebagai pemilik kuping easy-listening dan akustik, nggak suka musik itu. gue sering ngedumel sama temen-temen gue yang lain, apa sih enaknya lagu itu? orang kayak ngorok gitu juga didengerin -___-
tapi pada akhirnya gue ngerti. masing-masing dari kita punya minat sendiri tentang musik yang kita denger. jadi itu adalah hak pribadi kita buat milih musik apa yang mau kita denger.
balik lagi ke musik Indonesia. Indonesia punya penyanyi/band-band yang berkualitas, bukan berkuantitas alias kebanyakan personel *ngeeenggg. nah, daripada kalian beralih kuping ke kuping barat, mending kita nikmatin yang asli dan berkualitas. gue bukannya memaksa kalian buat dengerin lagu-lagu Indonesia yang gue sukai. tapi kalau nasib kalian sama kayak gue, yang males banget dengerin lagu-lagu Indonesia yang you-know-lah-gimana, gue menyarankan ini. kasarnya, terserah kalian daah mau gimana. hehehe.
by the way, ngomong-ngomong soal lagu Indonesia. yang dari sore gue dengerin, gue pantengin video-video-nya itu band yang kira-kira baru tahun kemarin gue kenal. mereka adalah The Trees and The Wild. pertama kali gue tau band ini pas gue dengerin Prambors. mereka ceritanya lagi ngebahas artikel di majalah. dan kebetulan gue denger nama The Trees and The Wild. kenapa gue bisa tertarik dengan mereka? pertama karena nama band mereka. unik. liar gimana gitu *awwrrr. terus beberapa lama kemudian gue baru search mereka di internet. nggak tau gimana asalnya, tiba-tiba gue langsung dengerin lagu mereka yang berjudul Our Roots, dan tiba-tiba gue langsung jatuh cinta. padahal lagu itu nggak ada liriknya. yang kedengeran cuma "Aaahhh~ aaaahhh~". tapi yang bikin lagu itu nempel di kuping gue adalah... apa, ya? gue pengen nulis komposisi instrumen musiknya tapi takut salah istilah. maklum bukan orang musik. pokoknya musiknya itu yang bikin... aaahhhhh...
akhirnya gue menetapkan bahwa mereka keren, dan gue suka band ini. sampai pada suatu hari, SMPN 1 (tahun 2008, pas kelas 9) ngadain pensi. pas gue tanya ke Andi siapa artisnya, ternyata The Trees and The Wild. wah. keren. selesai. yah, gue cuma sekadar bilang "Waaah, seruuu dooong" waktu itu. dan itu bukti bahwa gue belum bener-bener suka sama The Trees and The Wild. seharusnya kan kalau gue tau mereka bakal manggung di SMPN 1, gue belilah tiketnya dan nonton. tapi sayangnya dulu gue masih terlalu dini untuk mengerti betapa serunya bisa nonton band idola.
rasa suka gue dengan band ini bertambah ketika gue baca twit mereka tentang "Dua Tiang Tujuh Layar". penasaran, gue pergi ke situs mereka dan tiba-tiba langsung ada film gitu. wow. berhubung waktu itu gue lagi masa-masa awal seneng film, gue tontonlah. dan ternyata saudara-saudara...........
FILM PENDEK ITU KEREN SEKALI.
entah itu karena cerita film-nya (tentang pembuat perahu Pinisi, FYI) atau karena soundtrack yang dipake tidak lain tidak bukan adalah lagu The Trees and The Wild. dua-duanya bagus. pas. enak. nempel kalau kata guru Kimia gue.
sampai detik ini, gue masih suka The Trees and The Wild. terutama setelah nonton video-video konser mereka. ehem. mereka ada tiga personel utama. ada gitarisnya. ada bassist-nya juga. ada vokalis sekaligus gitaris. dan... dan ada satu yang... masya Allah... ganteng sekali. bener-bener katagori ganteng, deh. kak W lewat. lewat jauuuuuhhhhh kayak dari Tangerang ke Greenland.
setelah "iseng" mencari lewat Google (thanks to Google), gue tau nama-nama personelnya. vokalisnya namanya Remedy, gitarisnya Angga, dan yang terakhir ini... ini yang paling paling dari semua yang paling... namanya Iga. Iga Massardi. dan dia punya blog. dan gue sedang membaca blog-nya. dan tulisannya keren sekali. dan indah. dan bagus. dan berbobot. dan... aaahhh...
gue suka sama tiga-tiganya. mereka semua keren-keren. anak band macam inilah yang gue pengen jadiin pacar kalaupun nanti gue dapet pacar anak band.
sekali lagi, musik Indonesia itu nggak kalah keren sama musik barat. kalau kita masih bisa dengerin yang berkualitas dan pantas dan nggak banyak gerak, kenapa nggak? :)
selain itu, gue juga lagi asyik dengerin lagu-lagu Indonesia. ya, Kawan, Indonesia. kalau selama ini gue selalu bilang gue benci lagu-lagu Indonesia yang you-know-lah-gimana, itu nggak seratus persen beneran benci. gue--dan mungkin kalian juga--nggak suka lagu yang you-know-lah-gimana itu. gue suka lagu Indonesia bagian... bagian yang sulit banget dijelaskan. serius, nih. membahas sedikit tulisan teman gue, Poppy di Facebook-nya yang ngomongin tentang musik Indonesia. dia nulis,
"...banyak musik Indonesia yang oke, teman-teman. Hanya saja mereka tertimbun oleh 'mereka'."
'mereka' yang Poppy maksud ini yang you-know-lah-gimana itu lho. nah, kebetulan banget waktu itu gue baca itu. tanpa ba-bi-bu lagi, gue pun menyetujui pendapat si Poppy. dalam hati, sih. nggak pake like this. hehehe.
gue setuju. nggak semua musik Indonesia yang begitu-begitu. sesungguhnya ada banyak band yang menyanyikan lagu yang nggak kalah keren dengan musik luar negeri. tapi sayangnya, masih sedikit orang (terutama remaja) yang kupingnya cocok sama lagu-lagu mereka. entahlah kenapa. gue inget perkataan nyokap bahwa,
"Kita nggak boleh maksain orang buat suka musik kesukaan kita. Selera orang beda-beda."
yah, emang bener. di kelas gue anak-anak cowoknya banyak yang suka lagu scream atau punk atau rock atau punk rock atau kalau kata gue musik ngorok, whatever the name. setiap istirahat mereka suka setel lagu itu. gue, jujur aja sebagai pemilik kuping easy-listening dan akustik, nggak suka musik itu. gue sering ngedumel sama temen-temen gue yang lain, apa sih enaknya lagu itu? orang kayak ngorok gitu juga didengerin -___-
tapi pada akhirnya gue ngerti. masing-masing dari kita punya minat sendiri tentang musik yang kita denger. jadi itu adalah hak pribadi kita buat milih musik apa yang mau kita denger.
balik lagi ke musik Indonesia. Indonesia punya penyanyi/band-band yang berkualitas, bukan berkuantitas alias kebanyakan personel *ngeeenggg. nah, daripada kalian beralih kuping ke kuping barat, mending kita nikmatin yang asli dan berkualitas. gue bukannya memaksa kalian buat dengerin lagu-lagu Indonesia yang gue sukai. tapi kalau nasib kalian sama kayak gue, yang males banget dengerin lagu-lagu Indonesia yang you-know-lah-gimana, gue menyarankan ini. kasarnya, terserah kalian daah mau gimana. hehehe.
by the way, ngomong-ngomong soal lagu Indonesia. yang dari sore gue dengerin, gue pantengin video-video-nya itu band yang kira-kira baru tahun kemarin gue kenal. mereka adalah The Trees and The Wild. pertama kali gue tau band ini pas gue dengerin Prambors. mereka ceritanya lagi ngebahas artikel di majalah. dan kebetulan gue denger nama The Trees and The Wild. kenapa gue bisa tertarik dengan mereka? pertama karena nama band mereka. unik. liar gimana gitu *awwrrr. terus beberapa lama kemudian gue baru search mereka di internet. nggak tau gimana asalnya, tiba-tiba gue langsung dengerin lagu mereka yang berjudul Our Roots, dan tiba-tiba gue langsung jatuh cinta. padahal lagu itu nggak ada liriknya. yang kedengeran cuma "Aaahhh~ aaaahhh~". tapi yang bikin lagu itu nempel di kuping gue adalah... apa, ya? gue pengen nulis komposisi instrumen musiknya tapi takut salah istilah. maklum bukan orang musik. pokoknya musiknya itu yang bikin... aaahhhhh...
akhirnya gue menetapkan bahwa mereka keren, dan gue suka band ini. sampai pada suatu hari, SMPN 1 (tahun 2008, pas kelas 9) ngadain pensi. pas gue tanya ke Andi siapa artisnya, ternyata The Trees and The Wild. wah. keren. selesai. yah, gue cuma sekadar bilang "Waaah, seruuu dooong" waktu itu. dan itu bukti bahwa gue belum bener-bener suka sama The Trees and The Wild. seharusnya kan kalau gue tau mereka bakal manggung di SMPN 1, gue belilah tiketnya dan nonton. tapi sayangnya dulu gue masih terlalu dini untuk mengerti betapa serunya bisa nonton band idola.
rasa suka gue dengan band ini bertambah ketika gue baca twit mereka tentang "Dua Tiang Tujuh Layar". penasaran, gue pergi ke situs mereka dan tiba-tiba langsung ada film gitu. wow. berhubung waktu itu gue lagi masa-masa awal seneng film, gue tontonlah. dan ternyata saudara-saudara...........
FILM PENDEK ITU KEREN SEKALI.
entah itu karena cerita film-nya (tentang pembuat perahu Pinisi, FYI) atau karena soundtrack yang dipake tidak lain tidak bukan adalah lagu The Trees and The Wild. dua-duanya bagus. pas. enak. nempel kalau kata guru Kimia gue.
sampai detik ini, gue masih suka The Trees and The Wild. terutama setelah nonton video-video konser mereka. ehem. mereka ada tiga personel utama. ada gitarisnya. ada bassist-nya juga. ada vokalis sekaligus gitaris. dan... dan ada satu yang... masya Allah... ganteng sekali. bener-bener katagori ganteng, deh. kak W lewat. lewat jauuuuuhhhhh kayak dari Tangerang ke Greenland.
setelah "iseng" mencari lewat Google (thanks to Google), gue tau nama-nama personelnya. vokalisnya namanya Remedy, gitarisnya Angga, dan yang terakhir ini... ini yang paling paling dari semua yang paling... namanya Iga. Iga Massardi. dan dia punya blog. dan gue sedang membaca blog-nya. dan tulisannya keren sekali. dan indah. dan bagus. dan berbobot. dan... aaahhh...
gue suka sama tiga-tiganya. mereka semua keren-keren. anak band macam inilah yang gue pengen jadiin pacar kalaupun nanti gue dapet pacar anak band.
sekali lagi, musik Indonesia itu nggak kalah keren sama musik barat. kalau kita masih bisa dengerin yang berkualitas dan pantas dan nggak banyak gerak, kenapa nggak? :)
Saturday, July 2, 2011
Balada Mau Masuk SMA
yoo. Adella balik lagi.
ehem. di pagi yang cerah ini, gue kebetulan pengen curhat. kebetulan juga curhatnya (mungkin) mewakili perasaan kawan-kawan seperjuangan gue di Tangerang, terutama yang lagi mau masuk SMA. dan inilah curahan hati gue...
#DearDiary ...
gue udah lulus. lulus SMP, sih. yah sebagai anak keren nan unyu, gue langsung memilih untuk melanjutkan pendidikan gue ke jenjang yang lebih "wah"; SMA.
kenapa SMA? kenapa bukan SMK? well, sebenernya banyak di antara kawan-kawan terdekat gue (baca: teman sekelas) yang memilih SMK. iya, SMK memang diyakini sebagai salah satu sekolah yang kalau nanti lo udah lulus, bisa langsung kerja. tapi... gue masih pengen kuliah, men. buat gue, kuliah itu keren (entah empat tahun kemudian, gue akan menarik kembali kalimat gue tadi). dan lagipula, kalaupun gue berminat di SMK, mau di SMK mana gue? di Tangerang, SMK ada... 8 atau 9 gitu. dan semua jurusannya nggak ada yang gue minatin banget. beberapa temen gue ada yang ngusulin gue buat ngambil jurusan Multi Media. hm, oke, emang bener gue sering nongkrong di depan komputer. tapi ya tetep aja gue kayaknya nggak sreg gitu. uhukuhukuhuk.
karena gue akan melanjutkan ke SMA, otomatis ada daftar-mendaftar toh? kalau waktu jaman gue masuk SMP nyokap yang ngurusin. sekarang juga sama. tapi untuk sekarang... Allah memberikan cobaan... *backsong: Ebiet G Ade - Berita Kepada Kawan*
awal ceritanya dimulai ketika hari kedua gue mendaftar...
jauh-jauh hari, nyokap udah ngerencanain untuk daftar hari kedua. yah kalau katanya sih strategi masuk SMA. jadi kalau kita daftar hari kedua, kita bisa mantau yang daftar hari pertama. jadi kita bisa ngambil keputusan yang lebih matang gitu. well, gue ikutin aja.
hari pertama PSB Online Tangerang dibuka. tapi nggak bisa dibuka. gue udah mulai rada-rada kesel gitu. di Twitter rame ngomongin PSB yang nggak bisa dibuka. gue juga sempet protes sih di Twitter. yah namanya juga anak semi-gaul. ehehehe.
ternyata, pas Maghrib bisa dibuka. jeng-jeng... keren semua nilainya. temen SD gue si Bintang ada di urutan nomor satu di SMAN 1. dia itu temen SD gue lhoo. gue kenal dia lhoo. dia kenal gue juga lhoo. asal lo tau aja yaa lhoo. intinya begitu. pokoknya udah banyak deh yang daftar.
besok paginya, gue sempet buka lagi PSB. kebetulan kan gue pengen di SMAN 2, makanya gue pantau-pantau gitu SMAN 2. terakhir gue liat juru kuncinya (baca: yang di urutan paling bawah) NEM-nya 34,25. wow. udah 34 aja. tadinya nyokap pengen nyuruh gue ganti pilihan gitu. tapi yah, gue tetep milih pilihan pertamanya 2. siapa tau nyempil gitu. ihikihikihik.
si Temulawak mulai resah. pas gue di perjalanan mau daftar, dia sms gue. dia juga mau di 2. malahan jauh sebelum pendaftaran, kita udah ber-ekspektasi kalau kita bisa satu sekolah. ternyata, ekspektasi terbang jauh dari realita.
akhirnya dia milih 7. yah, nggak apalah. setidaknya deket tukang tahu sumedang yang jaman SD itu *apazeh.
finally, daftar. gue daftar ke SMAN 6. udah agak sepi, sih. soalnya kan gue pergi abis dzuhur. langsung daftar dan... agak-agak ada sedikit keganjalan di hati siih *etsah*. cobaan gitulah istilahnya.
yang pertama, angkotnya nge-tem. lama. gue dan nyokap udah nggak sabaran. yang kedua, pas nyampe di ruang pendaftaran, diem. nggak diem, maksud gue nungguin yang mau daftar juga. eh, pas udah kosong, baru dibilangin buat ngambil formulir. secara enaknya ya, kan bisa ya pas gue nunggu yang lain daftar itu, dibilangin dulu gitu buat ngambil formulir. setidaknya kan nggak buang-buang waktu. akhirnya ambil formulir dulu. yang ketiga, gue lupa ngasih tau nyokap buat bawa map kuning. ngek. gue bener-bener lupa. akhirnya dengan rada kesel, gue ke depan beli map kuning. balik lagi, akhirnya udah didaftarin. tapi pas daftar, panitianya bilang besok gue mesti dateng lagi buat nuker formulir. okelah kalau beg-beg-beg-beg-beg-beggrrr.
besoknya gue ke SMAN 6. sendirian. sekitar jam 9-an gue ke sana. pas nyampe... jleb. rame. pas dateng gue tanya ke si Niken, ini ngantre apaan. ternyata ngantre nomor yang formulir kemaren. gue liat nomor gue A038. yang baru dipanggil... A016. jleb again. bayangan gue waktu itu, "Ah, sebentar lagi kali. Kan cuma nuker formulir doang. Yaudah tungguin aja dewh." ternyata bayangan gue kandas. itu yang dipanggil lama banget you know. gue nyampe sana sekitar jam... 9 lewat gitulah. sampe jam 10, baru sampe nomor 20. wa to the duh. akhirnya gue cabut. mending ngambil besok aja deh -..-
formulir udah dituker, selesai. tinggal nunggu hasil.
sebagai anak semi-gaul, gue so pasti mantaunya via online. tapi sayangnyaaaaa PSB Online-nya error. macam nggak update gitu. yang daftar hari kedua dan hari ketiga belum masuk-masuk namanya. ah, mengecewakan sekali, men. kalian tau kan internet itu memudahkan hidup kita. dalam hal ini, kita nggak usah H2C nungguin hasil akhir dan mesti ke sekolah buat liat kita keterima dimana. tapi yang ada, situsnya nggak update. yah, mungkin yang masukkin datanya capek kali, ya ngurusin yang daftar. yah, mungkin.
sampe hari jumat, nggak ada perubahan. akhirnya PSB Online-nya ngasih pengumuman hasil seleksi akhirnya itu besok sabtu. hh...
sabtunya... nama gue nggak ada dimana-mana. di 2 nggak ada (udah nggak mampu juga NEM gue). yang bikin heran, di 3 nama gue nggak ada. padahal NEM terendahnya 34,30. sedangkan gue 34,45. berarti masih bisa masuk dong gue? di 7 juga nggak ada. lagipula 7 gue juga nggak bisa NEM-nya. akhirnya gue coba-coba nyari temen-temen gue yang daftar hari kedua. ada semua. si Niken udah masuk juga namanya.
tiba-tiba, gue inget si Temulawak. pas gue liat 7 kan dia nggak ada. gue coba inget-inget lagi pilihan keduanya apa. gue klik SMAN 4. pas gue cari namanya ada. wah, akhirnya masuk 4 juga dia. tapi pas gue liat agak ke bawah...
LHO KOK ADA NAMA GUWEEHH???
seriusan ada nama gue! gue shock. gue langsung masang tampang "Kok elo kayak bekantan, seh?". nyokap gue juga kaget. kenapa gue bisa nyasar ke situ...?
gue langsung Googling SMAN 4 dimana. masalahnya, kalau emang lumayan deket dari rumah, bisa gue terima deh (walaupun tetep aja gue harus nanya ada apa dengan pilihan gue ini). pas gue liat... Jalan Padasuka, Pabuaran. mampus aja gue kalau beneran keterima di situ. JAUH WARAS! akhirnya nyokap dan gue langsung ke SMAN 6 buat komplain.
sampe sana, rame. rame banget. gue udah kasian aja sama nyokap, takut kenapa-kenapa. udah tanya sana-sini soal masalah gue yang salah masuk sekolah, disuruh sama salah satu panitia ke Puspem, tepatnya ke KomInfo-nya. gue... sempet rada bingung. tapi katanya di sana yang ngeluarin hasilnya gitu. nyokap langsung ke sana. eh iya, pas di jalan, gue sempet ngebayangin. Menteri KomInfo-nya kan Tifatul Sembiring. gue ngebayangin ngaduin masalah gue ke oom Tifatul. oke gue tau gue sinting. gue tau itu random banget. tapi yah you know lah orang kalau lagi panik pikirannya bisa melayang sampe ke dunia lain. pas sampe rumah, gue tambah ekstrem lagi. gue ngomong, "Oh, bilangin Tifatul Sembiring aja. Mention aja deh orangnya di Twitter." esumpah, cangak men. kakak gue sama nyokap ngakak. tapi setengah otak gue mengatakan itu masuk akal. sayangnya nggak jadi ngadu ke oom Tifatul Sembiring. Alhamdulillah otak gue yang setengah lagi menang...
akhirnya pulang lagi ke rumah. nyokap curhat sama kakaknya a.k.a uwa gue. dikasih solusi dan bla... bla... bla...
gue sempet mikir. mungkin aja gue ini ketuker. kan pas gue liat di SMAN 6 pilihan gue 4, 6, 14 (sumpah jauh banget dari pilihan gue). kali aja ada juga anak lain yang sebenernya pilihannya itu, tapi ketuker sama pilihan gue. MASALAHNYAAA anak ini siaaapaaa? gue bingung. nyokap bingung. tukang bakso lewat juga bingung, kenapa dia harus ikutan bingung padahal dia nggak mesti ikutan gue dan nyokap bingung? ini membingungkan.
setelah berunding, makan, sholat, dan melepas stres (baca: ekskresi), gue dan nyokap balik lagi ke SMAN 6. penasaran karena mungkin aja ada yang pilihannya 2, 3, 7.
sesampainya aku dan ibuku di sanaaa... gue langsung ke papan pengumuman hasil akhir. gue cariin tuh siapa yang pilihannya 2, 3, 7. hasilnya: nihil. tak deu satu pun yang pilihannya ituu. ah. akhirnya nyokap datengin panitia yang ngurusin pendaftaran kemaren. gue nunggu di luar sambil mules. tadi siang anginnya kenceng dan dingin banget. gue bawaannya mules mulu <-- curhat sebentar.
lima menitan sampe 10 menitan, nyokap keluar. katanya udah diurusin sama orangnya. intinya, gue emang masuk di SMAN 3 (ALHAMDULILLAAAH!). gue senang, nyokap senang, abang tukang bakso lewat senang. haaaaa.
gue yakin, cerita gue di atas itu cobaan. dan... gue seketika lupa gimana sikap gue dalam mengatasi cobaan ini. mudah-mudahan sih bagus. hehehe.
anyway, congratulations buat yang masuk SMAN pilihannyaaa. buat yang nggak masuk negeri, tetep belajar yang rajin yuaa. setidaknya jangan terbawa suasana yaa (?) pokoknya selamat buat kalian semuaaa! *cium-peluk-ketekkin*
ehem. di pagi yang cerah ini, gue kebetulan pengen curhat. kebetulan juga curhatnya (mungkin) mewakili perasaan kawan-kawan seperjuangan gue di Tangerang, terutama yang lagi mau masuk SMA. dan inilah curahan hati gue...
#DearDiary ...
gue udah lulus. lulus SMP, sih. yah sebagai anak keren nan unyu, gue langsung memilih untuk melanjutkan pendidikan gue ke jenjang yang lebih "wah"; SMA.
kenapa SMA? kenapa bukan SMK? well, sebenernya banyak di antara kawan-kawan terdekat gue (baca: teman sekelas) yang memilih SMK. iya, SMK memang diyakini sebagai salah satu sekolah yang kalau nanti lo udah lulus, bisa langsung kerja. tapi... gue masih pengen kuliah, men. buat gue, kuliah itu keren (entah empat tahun kemudian, gue akan menarik kembali kalimat gue tadi). dan lagipula, kalaupun gue berminat di SMK, mau di SMK mana gue? di Tangerang, SMK ada... 8 atau 9 gitu. dan semua jurusannya nggak ada yang gue minatin banget. beberapa temen gue ada yang ngusulin gue buat ngambil jurusan Multi Media. hm, oke, emang bener gue sering nongkrong di depan komputer. tapi ya tetep aja gue kayaknya nggak sreg gitu. uhukuhukuhuk.
karena gue akan melanjutkan ke SMA, otomatis ada daftar-mendaftar toh? kalau waktu jaman gue masuk SMP nyokap yang ngurusin. sekarang juga sama. tapi untuk sekarang... Allah memberikan cobaan... *backsong: Ebiet G Ade - Berita Kepada Kawan*
awal ceritanya dimulai ketika hari kedua gue mendaftar...
jauh-jauh hari, nyokap udah ngerencanain untuk daftar hari kedua. yah kalau katanya sih strategi masuk SMA. jadi kalau kita daftar hari kedua, kita bisa mantau yang daftar hari pertama. jadi kita bisa ngambil keputusan yang lebih matang gitu. well, gue ikutin aja.
hari pertama PSB Online Tangerang dibuka. tapi nggak bisa dibuka. gue udah mulai rada-rada kesel gitu. di Twitter rame ngomongin PSB yang nggak bisa dibuka. gue juga sempet protes sih di Twitter. yah namanya juga anak semi-gaul. ehehehe.
ternyata, pas Maghrib bisa dibuka. jeng-jeng... keren semua nilainya. temen SD gue si Bintang ada di urutan nomor satu di SMAN 1. dia itu temen SD gue lhoo. gue kenal dia lhoo. dia kenal gue juga lhoo. asal lo tau aja yaa lhoo. intinya begitu. pokoknya udah banyak deh yang daftar.
besok paginya, gue sempet buka lagi PSB. kebetulan kan gue pengen di SMAN 2, makanya gue pantau-pantau gitu SMAN 2. terakhir gue liat juru kuncinya (baca: yang di urutan paling bawah) NEM-nya 34,25. wow. udah 34 aja. tadinya nyokap pengen nyuruh gue ganti pilihan gitu. tapi yah, gue tetep milih pilihan pertamanya 2. siapa tau nyempil gitu. ihikihikihik.
si Temulawak mulai resah. pas gue di perjalanan mau daftar, dia sms gue. dia juga mau di 2. malahan jauh sebelum pendaftaran, kita udah ber-ekspektasi kalau kita bisa satu sekolah. ternyata, ekspektasi terbang jauh dari realita.
akhirnya dia milih 7. yah, nggak apalah. setidaknya deket tukang tahu sumedang yang jaman SD itu *apazeh.
finally, daftar. gue daftar ke SMAN 6. udah agak sepi, sih. soalnya kan gue pergi abis dzuhur. langsung daftar dan... agak-agak ada sedikit keganjalan di hati siih *etsah*. cobaan gitulah istilahnya.
yang pertama, angkotnya nge-tem. lama. gue dan nyokap udah nggak sabaran. yang kedua, pas nyampe di ruang pendaftaran, diem. nggak diem, maksud gue nungguin yang mau daftar juga. eh, pas udah kosong, baru dibilangin buat ngambil formulir. secara enaknya ya, kan bisa ya pas gue nunggu yang lain daftar itu, dibilangin dulu gitu buat ngambil formulir. setidaknya kan nggak buang-buang waktu. akhirnya ambil formulir dulu. yang ketiga, gue lupa ngasih tau nyokap buat bawa map kuning. ngek. gue bener-bener lupa. akhirnya dengan rada kesel, gue ke depan beli map kuning. balik lagi, akhirnya udah didaftarin. tapi pas daftar, panitianya bilang besok gue mesti dateng lagi buat nuker formulir. okelah kalau beg-beg-beg-beg-beg-beggrrr.
besoknya gue ke SMAN 6. sendirian. sekitar jam 9-an gue ke sana. pas nyampe... jleb. rame. pas dateng gue tanya ke si Niken, ini ngantre apaan. ternyata ngantre nomor yang formulir kemaren. gue liat nomor gue A038. yang baru dipanggil... A016. jleb again. bayangan gue waktu itu, "Ah, sebentar lagi kali. Kan cuma nuker formulir doang. Yaudah tungguin aja dewh." ternyata bayangan gue kandas. itu yang dipanggil lama banget you know. gue nyampe sana sekitar jam... 9 lewat gitulah. sampe jam 10, baru sampe nomor 20. wa to the duh. akhirnya gue cabut. mending ngambil besok aja deh -..-
formulir udah dituker, selesai. tinggal nunggu hasil.
sebagai anak semi-gaul, gue so pasti mantaunya via online. tapi sayangnyaaaaa PSB Online-nya error. macam nggak update gitu. yang daftar hari kedua dan hari ketiga belum masuk-masuk namanya. ah, mengecewakan sekali, men. kalian tau kan internet itu memudahkan hidup kita. dalam hal ini, kita nggak usah H2C nungguin hasil akhir dan mesti ke sekolah buat liat kita keterima dimana. tapi yang ada, situsnya nggak update. yah, mungkin yang masukkin datanya capek kali, ya ngurusin yang daftar. yah, mungkin.
sampe hari jumat, nggak ada perubahan. akhirnya PSB Online-nya ngasih pengumuman hasil seleksi akhirnya itu besok sabtu. hh...
sabtunya... nama gue nggak ada dimana-mana. di 2 nggak ada (udah nggak mampu juga NEM gue). yang bikin heran, di 3 nama gue nggak ada. padahal NEM terendahnya 34,30. sedangkan gue 34,45. berarti masih bisa masuk dong gue? di 7 juga nggak ada. lagipula 7 gue juga nggak bisa NEM-nya. akhirnya gue coba-coba nyari temen-temen gue yang daftar hari kedua. ada semua. si Niken udah masuk juga namanya.
tiba-tiba, gue inget si Temulawak. pas gue liat 7 kan dia nggak ada. gue coba inget-inget lagi pilihan keduanya apa. gue klik SMAN 4. pas gue cari namanya ada. wah, akhirnya masuk 4 juga dia. tapi pas gue liat agak ke bawah...
LHO KOK ADA NAMA GUWEEHH???
seriusan ada nama gue! gue shock. gue langsung masang tampang "Kok elo kayak bekantan, seh?". nyokap gue juga kaget. kenapa gue bisa nyasar ke situ...?
gue langsung Googling SMAN 4 dimana. masalahnya, kalau emang lumayan deket dari rumah, bisa gue terima deh (walaupun tetep aja gue harus nanya ada apa dengan pilihan gue ini). pas gue liat... Jalan Padasuka, Pabuaran. mampus aja gue kalau beneran keterima di situ. JAUH WARAS! akhirnya nyokap dan gue langsung ke SMAN 6 buat komplain.
sampe sana, rame. rame banget. gue udah kasian aja sama nyokap, takut kenapa-kenapa. udah tanya sana-sini soal masalah gue yang salah masuk sekolah, disuruh sama salah satu panitia ke Puspem, tepatnya ke KomInfo-nya. gue... sempet rada bingung. tapi katanya di sana yang ngeluarin hasilnya gitu. nyokap langsung ke sana. eh iya, pas di jalan, gue sempet ngebayangin. Menteri KomInfo-nya kan Tifatul Sembiring. gue ngebayangin ngaduin masalah gue ke oom Tifatul. oke gue tau gue sinting. gue tau itu random banget. tapi yah you know lah orang kalau lagi panik pikirannya bisa melayang sampe ke dunia lain. pas sampe rumah, gue tambah ekstrem lagi. gue ngomong, "Oh, bilangin Tifatul Sembiring aja. Mention aja deh orangnya di Twitter." esumpah, cangak men. kakak gue sama nyokap ngakak. tapi setengah otak gue mengatakan itu masuk akal. sayangnya nggak jadi ngadu ke oom Tifatul Sembiring. Alhamdulillah otak gue yang setengah lagi menang...
akhirnya pulang lagi ke rumah. nyokap curhat sama kakaknya a.k.a uwa gue. dikasih solusi dan bla... bla... bla...
gue sempet mikir. mungkin aja gue ini ketuker. kan pas gue liat di SMAN 6 pilihan gue 4, 6, 14 (sumpah jauh banget dari pilihan gue). kali aja ada juga anak lain yang sebenernya pilihannya itu, tapi ketuker sama pilihan gue. MASALAHNYAAA anak ini siaaapaaa? gue bingung. nyokap bingung. tukang bakso lewat juga bingung, kenapa dia harus ikutan bingung padahal dia nggak mesti ikutan gue dan nyokap bingung? ini membingungkan.
setelah berunding, makan, sholat, dan melepas stres (baca: ekskresi), gue dan nyokap balik lagi ke SMAN 6. penasaran karena mungkin aja ada yang pilihannya 2, 3, 7.
sesampainya aku dan ibuku di sanaaa... gue langsung ke papan pengumuman hasil akhir. gue cariin tuh siapa yang pilihannya 2, 3, 7. hasilnya: nihil. tak deu satu pun yang pilihannya ituu. ah. akhirnya nyokap datengin panitia yang ngurusin pendaftaran kemaren. gue nunggu di luar sambil mules. tadi siang anginnya kenceng dan dingin banget. gue bawaannya mules mulu <-- curhat sebentar.
lima menitan sampe 10 menitan, nyokap keluar. katanya udah diurusin sama orangnya. intinya, gue emang masuk di SMAN 3 (ALHAMDULILLAAAH!). gue senang, nyokap senang, abang tukang bakso lewat senang. haaaaa.
gue yakin, cerita gue di atas itu cobaan. dan... gue seketika lupa gimana sikap gue dalam mengatasi cobaan ini. mudah-mudahan sih bagus. hehehe.
anyway, congratulations buat yang masuk SMAN pilihannyaaa. buat yang nggak masuk negeri, tetep belajar yang rajin yuaa. setidaknya jangan terbawa suasana yaa (?) pokoknya selamat buat kalian semuaaa! *cium-peluk-ketekkin*
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)